Articles by "BNPB"

Aceh Afif Maulana Agam AIDS Aipda Dian WR AirterjunLembahAnaiMeluap Aksibersihpantai AksiJalanan Aleknagari Amak Lisa AmalanBulanRajab AndreRosiade AnjingPelacak anthropophobia Antikorupsi ApdateKorbanBencanaSumatera Apelsiaga Apeltanggapbencana Arif maulana Arosuka Artikel Artis Minang Asusila balapliar BalapMotor Bali Balikpapan BandarNarkobaKabur Bandung BangunanLiar Banji Banjir BanjirAceh BanjirAgam BanjirBandang BanjirPadang BanjirSumatera BanjirSumbar BanjirSumut bansos banten BantuanBencanaAcehHilang BantuanKorbanBencanaPasbar Banyuwangi Bapenda BareskrimPolri Batam BatangArau Batuk BBM BeaCukai bencana Bencana alam Bencanaalam BencanaAlamSumateraBarat BencanaHidrometeorologi BencanaKotaPadang BencanaSumatera BencanaSumbar BerantasNarkoba BibitSiklonTropis95B BKSDA BMKG BNNPSumbar BNNsumbar BNPB BobonSantoso Box Redaksi BPBDKabupatenAgam BPBDPadang BPBDSumbar BPHMigas BrimobPoldaSumbar Brimobuntukindonesia BRISuperLeague bukit sitinurbaya Bukittinggi BungaBangkai BungaRafflesia BWSS V padang BWSSV BWSSVPadang Calon Bupati cemburubuta CerintIrallozaTasya Cikampek Cikarang CuacaEkstrem cuacapanasekstrem curanmor Daerah danabos Dandrem 032 WBR dankodaeral II Demonstrasi Denpasar Depok DeptCollector Dharmasraya Dinas sosial DinasPendidikanSumbar DinasPerpusipPadang DinasPerpustakaandanArsip DinasPertanian dinassosial dinassosialpadang Dirlantas Dirlantas Polda Sumbar DirlantasPoldaSumbar Disdukcapil DitlantasPoldaSumbar DitpolairudPoldaSumbar DPCPKBkotapadang DPDRI DPR DPRD Padang DPRDpadang DPRDsumbar DPUPR DPUPRPadang dubalangkota EmpatPilar Enarotali Evakuasi festival sepakbola Filipina Galodo GalodoLembahAnai gangguanhormon GanjaKering gaya hidup GayaHidup gempa GempaBumi gerakcepatdinsos gorontalo GrasstrackMotocross Gresik GunungMerapiErupsi gurbernurriaukenaottkpk HAM HargaCabaiNaik Haripahlawan Harisumpahpemuda Hidroneteologi Hipnotis HismawaMigas HIV Hot New HubunganSesamaJenis hukum Huntara HUT Humaspolri ke 74 HUT80Brimob Hutan IKW IKWRI IlegalFishing IlegalMinning IllegalLogging Indonesia Indonesia. indonesiamaju infrastruktur Intan jaya Internasional irigasi Islam Islami Jakarta Jakarta Selatan JalanLembahAnaiPutus JalanLongsor JalanRetak Jambi Jawa Tengah Jayapura Jayawijaya JembatanPutus JembatanRetak Jogyakarta jurnalis JusufKalla K9 Kabupaten Agam kabupaten dharmasraya Kabupaten Solok KabupatenAgam KabupatenDharmasraya KabupatenPasamanBarat KabupatenPesisirSelatan kabupatenSolokSelatan KafeKaraoke KAI Sumbar Kakorlantas kakorlantaspolri kapolres kapolressijunjung Kapolri KarangTaruna kasat narkoba KasusMedis keamanan kebakaran KebakaranPasarPayamumbuh KebatanGunungNagoPutus kecamatankototangah kecelakaan kegiatanrutin KejariDharmasraya kejaripadang kejaripesel kekerasan kelangkaanBBM kelangkaansolar Kemenag Kemenhut Kemenkes Kementrian PU kementriankebudayaan KementrianLingkunganHidup KemuliaanBulanRajab kendaraan KeracunanMakanan Kesehatan keselamatan bersama keselamatan kerja kesiapsiagaan kesunyian malam ketertiban umum KetertibanUmum Kiwirok KKB KLHK Kodim 0307 Tanah Datar KomnasHAM komplotanganjalATM KorbanBanjirAgam KorbanBrncanaAgam Korem 032/WB Korpolairud korupsi Kota Padang KotaPadang KotaPariaman KPK Kriminal KRYD KUHP KumpulanDo'a Laksamanamuda Lampung LembahAnai Lembang Leonardy LGBT life style lifestyle Lima Puluh Kota LimaPuluhKota lingkungan listrikilegal literasi lombok timur Longsor LongsorKampusUINImambonjol LowonganKerjaPalsu Madiun Magelang MahardikaMudaIndonesia MahyeldiAnsharullah Makan Bergizi Gratis Makasar Malalak MalPraktek ManfaatAirKelapa manila MapolsekMuaraBatangGadisDibakarMasaa MataElang Medan MengelolaAirUntukNegri mentalhealth Mentawai Mesum Mimika Miras MirasIlegal MobilBencanaDibakarMassa MobilPatwalPoldaSumbarKecelakaan MobilSatpolPPAcehDibakarMassa MogokKerja MTsN10pesisirselatan Muhammadiyah mutilasibayi nagarisolokambah nagarisulitair narkoba Narkotika Nasioanl Nasional ngaraisianok NinjaSawit NTT odgj OknumGuruLGBT Oksibil olahraga Opini OprasiLilinSinggalang2025 oprasimalam oprasitumpasbandar2025 oprasizebra2025 oprasizebrasinggalang2025 OrangHanyut OTTKPK PADA Padang Padang panjang Padang Pariaman PadangAman PadangPariaman PadangRancak PadangSigap Pahlawannasional pajak air tanah Palimanan pandekarancak pantaipadang Papua parenting Pariaman Parlemen Pasaman Pasaman barat pasamanbarat pasang pasarrayapadang Pasuruan Payakumbuh PDAM PeduliBencana Pekanbaru Pelalawan pelayananhumanis pelayanansosial PelemikBantuanAsing PemakamanMasalKorbanBencanaSumbar PembabatanHutan PembalakanHutanMentawai pembalakanLiar Pembunuhan pemerasan Pemko Padang PemkoPadang PemulihanBencana PemutihanPajakKendaraan pencabulan PencarianKorbanBanjirPadang Pencirian PenculikanAnak Pencurian Pendidikan penegakanhukum penemuanbayi penemuanJanin PenemuanJasadBayo penemuanmayat Penertiban Pengancaman pengangguran penganiayaan Pengeroyokan Penggelapan Penjarahan Perbankan Perceraian Perdagangan peristiwa peristiwadaerah perlindungananak Persami PersijaJakarta pertahanan PerumdaAirMinum Pesisir Selatan PesisirSelatan Peti PJN PKL PolaMakan PolantasMenyapa Polda banten Polda Jabar Polda Kalbar Polda Metro Jaya polda Papua POLDA SulBar POLDA SUMBAR PoldaRiau Poldasumbar PoldaSumut Polhut Policegoestoscool Polisi Politik polPP polres Polres 50 kota Polres Dharmasraya Polres Mentawai Polres Padang panjang Polres Pasaman Polres Pasaman Barat Polres Solok Polres solok selatan PolresPadang polrespasaman polrespasamanbarat polrespasbar PolresPayakumbuh polrespesel PolresSolokKota polresSolokSelatan Polresta bukittinggi Polresta Padang PolresTanahDatar polrestapadang POLRI PolriPresisi Polsek bungus barat Polsek Koto Tangah Padang Polsek Lubeg Pontianak PrabowoSubianto PrajuritTNITewas PrediksiCuaca premanisme Presiden RI PrestaPadang psp padang Ptostitusi PuanMaharani Puncak jaya Purwakarta jawabarat QuickWins Razia RekeningDormant Religi RevisiKUHP Riau RidwanKamil RokokIlegal sabu Sajam SakitPerut Sarkel SatgasDamaiCartenz satgasoprasidamai satlantaspolresta SatpolPP SatpolPPAceh Sawahlunto Sawmil SeaGamen2025 segmen sianok seherman SekolahRakyat Semarang semenpadang SemenPadangFC Senjatatajam sepakbola sepakbolaindonesia SepakBolaWanita Serang ServisKendaraanGratisKorbanBanjirAgam SiagaBencana SigapMembangunNegriUntukRakyat Sijunjung sikat singgalang2025 silent treatment simulasibencana Sinkhole siswismptewassaathiking sitinjaulauik Skoliosis SMA1pulaupunjung sobatlalulintasrancakbana solok Solok selatan solokarosuka solokselatan solsel Sosialisasi SPBUganting SPPG STNK Strongpoint subsidi ilegal sukabumi Sulawesi Tenggara Sumatera Barat SumateraBarat Sumaterbarat Sumatra barat Sumbar SungaiKuranji Surabaya swasembadapangan tambangilegal TambangIlegalSumbar Tanah datar tanahdatar tanggapdarurat TanggapDaruratBencana tawuran TawuranNarkoba Terbaru Ternate Timika Papua timklewang TimnasIndonesiaU22 TimnasWanitaIndonesia TNI TPUTunggulHitam Transformasi polri transpadang transportasi TrukTerbakar tsunamiDrill Tuak Uin UIN IB Padang UpadateKorbanBencanaSumatera UpdateKorbanBanjirSumatera UpdateKorbanBencanaAlam UpdateKorbanBencanaSumatera Utama UUMD3 Viral Yalimo Yogyakarta Yuhukimo
Tampilkan postingan dengan label BNPB. Tampilkan semua postingan

 

Serasinews.com, Jakarta — Skala bencana yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus menunjukkan dampak serius. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Jumat (9/1) jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.182 orang, sementara 145 warga masih dinyatakan hilang.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan angka tersebut bertambah setelah adanya laporan korban jiwa baru dalam dua hari terakhir dari sejumlah daerah terdampak.

“Penambahan korban berasal dari Aceh Utara satu orang, Langkat dua orang, dan Tapanuli Tengah satu orang. Dengan demikian total korban meninggal dunia saat ini 1.182 jiwa,” ujarnya.

Selain korban jiwa, dampak kemanusiaan masih sangat besar. BNPB mencatat 238.627 orang masih bertahan di pengungsian, kehilangan tempat tinggal, akses air bersih, serta sumber penghidupan. Bantuan logistik dan layanan dasar masih sangat dibutuhkan, terutama bagi kelompok rentan.

Pencarian Korban Bersifat Situasional

Proses pencarian korban hilang terus dilakukan meski tidak lagi bersifat masif. Abdul menjelaskan, operasi SAR kini bersifat situasional dan akan kembali digelar apabila terdapat laporan masyarakat terkait titik dugaan keberadaan korban.

“Data korban hilang terus kami verifikasi bersama pemerintah daerah. Per hari ini jumlahnya 145 orang,” katanya.

Status Darurat Berbeda di Tiap Provinsi

Di Aceh, sebagian besar wilayah telah memasuki fase transisi darurat, menandai peralihan dari upaya penyelamatan menuju pemulihan awal. Namun, empat daerah—Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tamiang, dan Pidie Jaya—masih memperpanjang status tanggap darurat. Pemerintah Provinsi Aceh juga memperpanjang status tanggap darurat tingkat provinsi selama 14 hari.

Sementara itu, seluruh wilayah terdampak di Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah berada pada fase transisi darurat. Meski operasi pencarian rutin dihentikan, tim SAR tetap siaga di lapangan.

Pemulihan Panjang Menanti

Kerusakan infrastruktur menjadi tantangan utama dalam fase ini. Akses jalan terputus, jembatan rusak, dan gangguan komunikasi masih terjadi di sejumlah lokasi. Ratusan ribu pengungsi masih membutuhkan hunian sementara, layanan kesehatan, kebutuhan dasar, serta dukungan psikososial.

Memasuki masa transisi darurat, pemerintah mulai melakukan pendataan kerusakan rumah, penilaian kebutuhan rekonstruksi, serta perencanaan relokasi bagi kawasan rawan bencana. Namun, beban pemulihan sosial dan ekonomi diperkirakan akan berlangsung lama seiring besarnya dampak yang ditinggalkan bencana ini.

(K) 

#BNPB #UpdateKorbanBencanaSumatera

#Nasional


 

Serasinews.com, Jakarta — Jumlah korban meninggal akibat banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Sumatera kembali bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, hingga Selasa (6/1), total korban jiwa mencapai 1.178 orang, sementara 148 orang masih dinyatakan hilang.

Tambahan korban meninggal terbaru dilaporkan berasal dari Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sebanyak satu orang. Informasi tersebut disampaikan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan pers di Jakarta.

BNPB memastikan jumlah korban hilang belum mengalami perubahan. Proses pencarian oleh tim SAR gabungan masih terus berlangsung di berbagai lokasi terdampak, meski terkendala kondisi medan yang sulit dan cuaca yang belum stabil.

Data BNPB mencatat, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menjadi wilayah dengan jumlah korban hilang terbanyak, yakni 74 orang.

Sementara itu, Provinsi Aceh mencatat korban meninggal dunia paling banyak, dengan total 543 orang. Dampak besar juga terjadi di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, yang mengalami banjir bandang serta longsor di sejumlah kabupaten.

BNPB menegaskan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) masih akan dilanjutkan dan dievaluasi sesuai perkembangan status tanggap darurat provinsi pada 8 Januari 2026.

Selain korban jiwa, jumlah pengungsi akibat bencana ini mencapai 242.174 jiwa. Aceh menjadi provinsi dengan pengungsi terbanyak, sekitar 217 ribu orang, yang tersebar di posko darurat, sekolah, rumah ibadah, dan fasilitas umum.

Wilayah dengan konsentrasi pengungsi terbesar di Aceh meliputi Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Gayo Lues.

Pemerintah pusat dan daerah saat ini memprioritaskan penanganan darurat, termasuk evakuasi korban, pencarian warga hilang, serta pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi.

Bencana banjir dan longsor yang terjadi sejak awal tahun ini menjadi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di Sumatera, sekaligus menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana menghadapi cuaca ekstrem.

(Rini/Mond) 

#UpdateKorbanBencanaSumatera #BNPB

#Nasional


 

Serasinews.com, Jakarta — Dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Pulau Sumatra sejak akhir 2025 terus menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga 4 Januari 2026, jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.177 orang, sementara lebih dari 242 ribu warga harus meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Pembaruan data tersebut disampaikan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, berdasarkan rekapitulasi terakhir per Minggu sore. Dalam sehari, jumlah korban meninggal bertambah 10 orang dari laporan sebelumnya.

Penambahan korban berasal dari Aceh Utara, Tapanuli Selatan di Sumatra Utara, serta Sumatra Barat. BNPB menyebut, sebagian besar korban meninggal akibat tertimbun longsor, terseret banjir bandang, dan terjebak di permukiman yang ambruk akibat hujan ekstrem berkepanjangan.

Ratusan Orang Masih Hilang

Di tengah proses pencarian, tim SAR gabungan juga melakukan pembaruan data warga hilang. Sebanyak 17 orang yang sebelumnya dilaporkan hilang telah ditemukan atau dipastikan selamat setelah verifikasi lapangan.

Namun demikian, hingga saat ini 148 orang masih dinyatakan hilang dan terus dicari oleh tim gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI, Polri, BPBD, serta relawan.

Pengungsian Masih Padat

Jumlah pengungsi tercatat mencapai 242.174 jiwa yang tersebar di berbagai wilayah terdampak. Banyak di antaranya tidak dapat kembali ke rumah karena kerusakan berat, genangan banjir yang belum surut, atau lokasi tempat tinggal yang masih berisiko longsor.

Kondisi pengungsian masih menghadapi tantangan, terutama dalam pemenuhan air bersih, layanan kesehatan, serta perlindungan bagi kelompok rentan seperti balita, lansia, dan ibu hamil.

Status Darurat Belum Merata

Di Aceh, sebanyak 10 kabupaten/kota masih menjalani status tanggap darurat, sementara 8 daerah lainnya mulai beralih ke fase transisi menuju pemulihan.

Berbeda dengan Aceh, seluruh wilayah di Sumatra Utara telah keluar dari status tanggap darurat dan memasuki masa transisi. Tercatat 14 daerah berada pada tahap transisi darurat, sementara dua daerah mengakhiri masa darurat tanpa perpanjangan.

Sementara itu di Sumatra Barat, Kabupaten Agam masih mempertahankan status tanggap darurat menyusul tingginya potensi longsor susulan akibat kondisi tanah yang belum stabil.

BNPB Perkuat Mitigasi

BNPB menegaskan upaya mitigasi terus diperkuat, terutama di wilayah dengan risiko tinggi. Langkah yang dilakukan meliputi pemantauan intensif curah hujan, penutupan jalur rawan longsor, edukasi masyarakat, hingga relokasi sementara warga dari zona berbahaya.

BNPB juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, mengingat ancaman bencana hidrometeorologi masih tinggi seiring puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

(L6) 

#UpdateKorbanBencanaSumatera #BNPB

#Nasional


 

Serasinews.com, Jakarta – Skala dampak rangkaian bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera terus menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga pembaruan terakhir, sebanyak 1.138 orang meninggal dunia, sementara 163 warga masih dinyatakan hilang.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa data tersebut merupakan hasil konsolidasi laporan resmi dari pemerintah daerah serta tim penanganan bencana yang bertugas di lapangan. Informasi itu disampaikan dalam konferensi pers virtual pada Sabtu (27/12/2025).

“Data korban terus kami perbarui berdasarkan laporan dari daerah terdampak. Hingga saat ini, korban meninggal tercatat 1.138 jiwa, dan 163 orang masih dalam status hilang,” ujar Abdul Muhari.

Operasi SAR Berjalan di Tengah Medan Sulit

BNPB memastikan bahwa operasi pencarian dan pertolongan (SAR) masih dilaksanakan oleh tim gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI, Polri, relawan, serta unsur pemerintah daerah. Proses pencarian dilakukan dengan penyisiran darat, pemanfaatan alat berat, dan pemantauan di titik-titik yang mengalami kerusakan paling parah.

Namun, berdasarkan evaluasi teknis dan kondisi lapangan terkini, peluang menemukan korban di kawasan permukiman dan pusat aktivitas masyarakat semakin menurun. Hambatan utama berasal dari medan yang berat, material bencana yang menumpuk, serta cuaca yang belum sepenuhnya mendukung.

Meski menghadapi berbagai kendala, operasi SAR tetap dijalankan sesuai prosedur dan ketentuan waktu yang telah ditetapkan.

Dampak Meluas, Ratusan Ribu Warga Mengungsi

Bencana ini juga berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. BNPB mencatat sebanyak 449.846 warga terpaksa mengungsi dan kini tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Sumatera. Para pengungsi menempati posko darurat, fasilitas pendidikan, rumah ibadah, serta tenda-tenda pengungsian yang disiapkan pemerintah.

Dalam masa tanggap darurat, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi menjadi prioritas utama. BNPB bersama kementerian dan lembaga terkait terus menyalurkan bantuan berupa logistik pangan, air bersih, layanan kesehatan, serta pendampingan psikososial, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.

Imbauan Kewaspadaan dan Penguatan Mitigasi

Seiring masih adanya potensi cuaca ekstrem, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana susulan. Langkah kesiapsiagaan dinilai penting guna mengantisipasi risiko lanjutan di wilayah terdampak maupun daerah rawan lainnya.

BNPB juga menekankan pentingnya penguatan mitigasi bencana, penataan ruang berbasis risiko, serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi situasi darurat. Upaya tersebut dinilai krusial untuk mengurangi dampak bencana di masa mendatang.

Tragedi yang terjadi di Sumatera ini menjadi pengingat serius akan tingginya kerentanan bencana di Indonesia, sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ketangguhan nasional menghadapi ancaman kebencanaan.

(*) 

#BNPB #UpdateKorbanBencanaSumatera

#Nasional


 

Serasinews.com, Jakarta — Bencana banjir dan longsor yang melanda Pulau Sumatera terus meninggalkan duka mendalam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, hingga Kamis (25/12), jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 1.135 orang, sementara 173 warga lainnya masih dinyatakan hilang.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebutkan bahwa peningkatan jumlah korban jiwa terjadi seiring berjalannya proses evakuasi dan pencarian di lokasi terdampak berat.

“Hari ini kembali ditemukan enam korban meninggal dunia. Total korban jiwa kini mencapai 1.135 orang,” ujar Abdul Muhari.

Dampak Terparah di Tiga Provinsi

Berdasarkan rekapitulasi BNPB, korban meninggal dunia paling banyak tercatat di Aceh dengan 503 orang, disusul Sumatera Utara sebanyak 371 orang, dan Sumatera Barat 261 orang. Ketiga provinsi tersebut mengalami kerusakan luas akibat hujan ekstrem yang memicu banjir bandang dan longsor di berbagai wilayah.

Ratusan Ribu Warga Masih Mengungsi

Selain korban jiwa, bencana ini juga menyebabkan krisis pengungsian. BNPB mencatat, sebanyak 489.864 jiwa terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dan kini bergantung pada bantuan di pos-pos pengungsian darurat.

Seiring berjalannya waktu, pemerintah daerah mulai menggeser penanganan menuju tahap awal pemulihan. Tercatat 13 kabupaten/kota telah menetapkan status Transisi Darurat ke Pemulihan, yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Penyaluran Bantuan Terus Dipacu

Untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak, BNPB bersama instansi terkait terus mempercepat distribusi bantuan. Di Aceh, sebanyak 37,4 ton logistik telah disalurkan melalui jalur udara karena keterbatasan akses darat.

Sementara itu, Sumatera Utara menerima 8,7 ton bantuan logistik yang didistribusikan melalui jalur darat, dan Sumatera Barat sebanyak 6,1 ton.

Operasi Pencarian Masih Berlangsung

Hingga kini, pencarian terhadap 173 korban hilang masih dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan warga setempat. Penyisiran difokuskan pada aliran sungai, kawasan perbukitan, serta permukiman yang terdampak longsor.

BNPB mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, mengingat intensitas hujan di sejumlah wilayah Sumatera masih cukup tinggi.

Bencana ini kembali menegaskan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana, termasuk penguatan sistem peringatan dini dan pengelolaan lingkungan, guna mengurangi risiko di masa mendatang.

(Rini/Mond

#BNPB 

#UpdateKorbanBencanaSumatera


 

Serasinews.com, Jakarta — Bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat masih menimbulkan duka mendalam. Hingga Senin (22/12), BNPB mencatat jumlah korban meninggal mencapai 1.106 jiwa, sementara 175 orang masih hilang dan terus dicari tim gabungan.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa angka terbaru ini merupakan hasil pembaruan dari laporan lapangan dan identifikasi korban. “Ada penambahan 15 korban dari temuan langsung dan identifikasi sebelumnya,” ujarnya.

Pencarian korban dilakukan oleh tim gabungan Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, dan masyarakat setempat, meski medan berat, cuaca belum bersahabat, dan material longsor yang tebal menjadi tantangan utama. Daftar warga hilang berkurang 10 orang dibanding sebelumnya, namun masih ada 175 jiwa yang belum ditemukan, terutama di daerah aliran sungai, lereng perbukitan, dan permukiman terdampak.

Dampak bencana juga memaksa ratusan ribu warga mengungsi. Hingga 22 Desember, tercatat 502.570 pengungsi yang tersebar di posko darurat, sekolah, rumah ibadah, dan rumah kerabat. Meski sebagian mulai kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan sisa bencana, sebagian lainnya masih mengungsi di luar daerah terdampak.

BNPB menekankan bahwa fase tanggap darurat belum sepenuhnya selesai. Ancaman bencana susulan, kerusakan infrastruktur, dan pemenuhan kebutuhan dasar penyintas masih menjadi perhatian. Pemerintah terus menyalurkan bantuan logistik, layanan kesehatan, dukungan psikososial, dan pemulihan infrastruktur.

Abdul menegaskan bahwa setiap korban adalah nyawa dan keluarga yang terdampak, sehingga upaya penanganan bencana harus tetap mengutamakan kemanusiaan dan pemulihan kehidupan masyarakat.

(K) 

#BNPB 

#ApdateKorbanBencanaSumatera


 

Serasinews.com, Jakarta — Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera terus menunjukkan dampak kemanusiaan yang besar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang signifikan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat hingga Jumat malam, 19 Desember 2025.

Berdasarkan Dashboard Penanganan Banjir dan Longsor Sumatera BNPB, total korban meninggal dunia mencapai 1.072 orang, sementara 186 orang masih dinyatakan hilang. Selain itu, sekitar 7.000 warga mengalami luka-luka akibat bencana tersebut.

BNPB juga melaporkan kerusakan besar pada permukiman dan fasilitas publik. Sebanyak 157.900 rumah warga tercatat rusak dengan tingkat kerusakan bervariasi. Dampak bencana turut melumpuhkan berbagai fasilitas penting, antara lain 1.600 fasilitas umum, 434 rumah ibadah, 219 fasilitas kesehatan, 290 gedung pemerintahan, 967 fasilitas pendidikan, serta 145 jembatan yang rusak atau tidak dapat difungsikan. Kondisi ini menyebabkan banyak wilayah terisolasi dan menghambat distribusi bantuan serta proses evakuasi.

Sebagai langkah penanganan darurat, pemerintah pusat menyalurkan Dana Kemasyarakatan Presiden sebesar Rp 268 miliar. Dana tersebut telah masuk ke APBD tiga provinsi dan 52 kabupaten/kota terdampak untuk mempercepat respons di lapangan. Setiap kabupaten/kota menerima Rp 4 miliar, sedangkan masing-masing provinsi memperoleh Rp 20 miliar, sehingga pemerintah daerah dapat langsung menggunakan anggaran tersebut tanpa menunggu prosedur tambahan.

Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyampaikan bahwa Aceh menjadi wilayah dengan tingkat kerusakan paling berat. Sejumlah daerah yang sebelumnya terisolasi, seperti Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah, kini mulai dapat diakses meski masih terbatas untuk kendaraan tertentu. Pemerintah bersama TNI terus membuka jalur alternatif guna memperlancar distribusi logistik ke wilayah yang belum sepenuhnya terjangkau.

Meski akses antar kabupaten di Aceh dilaporkan telah terbuka, tantangan masih besar pada jalur antar kecamatan dan desa. Pemerintah menegaskan akan terus mempercepat pembukaan akses dan penanganan infrastruktur agar proses bantuan dan pemulihan dapat berjalan lebih optimal.

Bencana banjir dan longsor ini menjadi ujian serius bagi upaya penanganan darurat sekaligus pemulihan jangka panjang. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, aparat, relawan, serta masyarakat diharapkan mampu mempercepat evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar, dan rekonstruksi pascabencana.

(L6)
#UpdateKorbanBencanaSumatera
#BNPB

 

Serasinews.com, Jakarta — Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera terus menelan korban jiwa. Hingga Kamis (18/12), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.068 orang, bertambah sembilan jiwa dibandingkan laporan sebelumnya yang berjumlah 1.059 orang.

Informasi tersebut disampaikan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers virtual yang disiarkan melalui kanal YouTube resmi BNPB.

“Terjadi penambahan korban meninggal dunia, dari sebelumnya 1.059 jiwa menjadi 1.068 jiwa,” ujar Abdul.

Korban Bertambah di Tiga Provinsi

Penambahan korban jiwa dilaporkan berasal dari tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Rinciannya meliputi:

Aceh Utara: 3 orang

Aceh Timur: 2 orang

Tapanuli Selatan (Sumatera Utara): 1 orang

Langkat (Sumatera Utara): 1 orang

Agam (Sumatera Barat): 1 orang

Padang Pariaman (Sumatera Barat): 1 orang

Korban tambahan ditemukan seiring berlanjutnya proses pencarian dan evakuasi, terutama di wilayah terdampak longsor dan banjir bandang dengan akses terbatas serta kondisi cuaca yang belum stabil.

Ratusan Ribu Warga Mengungsi

Selain korban meninggal, sebanyak 198 orang masih dinyatakan hilang. Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian dengan dukungan personel, alat berat, dan teknologi pencarian, meski dihadapkan pada medan berat dan potensi longsor susulan.

BNPB juga mencatat 537.185 jiwa terpaksa mengungsi dan kini tersebar di berbagai lokasi pengungsian, mulai dari sekolah, rumah ibadah, hingga tenda-tenda darurat.

“Untuk korban hilang masih ada 198 orang, sementara jumlah pengungsi mencapai 537.185 jiwa,” kata Abdul.

Penanganan Darurat Terus Berlangsung

BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, dan unsur kemanusiaan lainnya terus mengintensifkan penanganan darurat, termasuk pencarian korban, evakuasi warga, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, distribusi logistik, serta layanan kesehatan.

Pemerintah mengimbau masyarakat di wilayah rawan bencana agar tetap meningkatkan kewaspadaan, mengingat potensi cuaca ekstrem masih berpeluang memicu bencana lanjutan.

Tragedi ini menjadi pengingat akan besarnya risiko bencana alam di Indonesia, sekaligus menguji solidaritas seluruh elemen bangsa dalam menghadapi duka yang belum berakhir.

(K)
#UpdateKorbanBencanaSumatera
#BNPB


Serasinews.com, Jakarta – Rentetan bencana alam yang melanda Pulau Sumatera kembali menambah daftar duka. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor kini mencapai 1.059 jiwa, setelah ditemukannya enam korban tambahan pada Rabu (17/12/2025).

Informasi tersebut disampaikan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers daring, Rabu sore.

“Jumlah korban meninggal dunia hari ini bertambah enam orang, sehingga total mencapai 1.059 jiwa,” kata Muhari.

Di tengah bertambahnya korban jiwa, perkembangan positif tercatat pada proses pencarian. Jumlah warga yang dilaporkan hilang menurun dari 200 orang menjadi 192 orang, seiring ditemukannya sejumlah korban dalam operasi pencarian dan pertolongan (SAR) yang masih berlangsung.

Sementara itu, jumlah pengungsi juga mengalami penurunan signifikan. Dari sebelumnya 606.040 orang, kini tercatat 588.226 jiwa masih berada di pengungsian. Penurunan ini terjadi karena sebagian warga mulai kembali ke rumah masing-masing, meski banyak di antaranya mendapati hunian dalam kondisi rusak berat bahkan hancur total.

Operasi SAR Terus Berjalan di Tiga Provinsi

BNPB menegaskan bahwa operasi SAR masih berlangsung secara intensif di tiga provinsi terdampak paling parah, yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Pencarian difokuskan pada wilayah rawan longsor, aliran sungai, serta permukiman yang terdampak banjir bandang.

Sumatera Utara

Kabupaten Tapanuli Tengah: Kecamatan Sukabangun dan Aloban Bair

Kabupaten Tapanuli Selatan: Kecamatan Batang Toru

Kota Sibolga: Kecamatan Sibolga Kota

Sumatera Barat

Kabupaten Agam: Kecamatan Malalak dan Palembangan

Kota Padang Panjang: Aliran Sungai Batang Anai

Kabupaten Pariaman: Aliran Sungai Batang Anai

Kabupaten Tanah Datar: Aliran Sungai Batang Anai

Aceh Operasi SAR dilakukan di enam kabupaten, yaitu:

Bener Meriah

Aceh Utara

Aceh Tengah

Bireuen

Nagan Raya

Aceh Tamiang

Wilayah-wilayah tersebut terdampak banjir, longsor, serta luapan sungai akibat hujan deras yang terjadi selama beberapa hari berturut-turut.

Tantangan Cuaca dan Medan Ekstrem

Muhari menjelaskan, proses pencarian dihadapkan pada berbagai kendala, mulai dari cuaca yang belum stabil, akses jalan terputus, hingga kondisi tanah yang masih labil dan berpotensi longsor susulan.

Meski demikian, tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, serta masyarakat setempat terus melakukan pencarian dengan mengutamakan keselamatan personel.

“Kami terus berpacu dengan waktu untuk menemukan korban yang masih hilang, dengan tetap memperhatikan faktor keselamatan di lapangan,” ujar Muhari.

Tragedi Kemanusiaan Skala Besar

Dengan korban jiwa yang telah melampaui seribu orang serta ratusan ribu warga terdampak, bencana ini menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di Sumatera dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah pusat dan daerah memastikan penanganan darurat, distribusi bantuan logistik, layanan kesehatan, serta pemulihan infrastruktur dasar terus berjalan.

BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, mengingat intensitas curah hujan di sejumlah wilayah Sumatera masih tergolong tinggi.

Di balik deretan angka dan data, tersimpan kisah kehilangan, duka mendalam, serta harapan besar agar mereka yang masih hilang dapat segera ditemukan.

(K)
#UpdateKorbanBencanaSumatera
#BNPB

 

Serasinews.com, Jakarta/Aceh — Rangkaian bencana banjir besar dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera meninggalkan duka mendalam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, total korban jiwa kini mencapai 1.006 orang, menjadikannya salah satu bencana hidrometeorologi paling mematikan di Indonesia sepanjang akhir 2025.

Data terbaru tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers penanganan bencana yang digelar secara daring dari Media Center Kantor Gubernur Aceh, Sabtu (13/12/2025).

“Berdasarkan rekapitulasi terbaru dari tiga provinsi terdampak, jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 1.006 jiwa,” ujar Abdul Muhari.

Korban Bertambah di Seluruh Wilayah Terdampak

BNPB melaporkan adanya penambahan korban jiwa di ketiga provinsi yang terdampak bencana, yakni:

Aceh: meningkat dari 411 menjadi 415 jiwa

Sumatera Utara: bertambah dari 343 menjadi 349 jiwa

Sumatera Barat: naik dari 241 menjadi 242 jiwa

Penambahan tersebut terjadi seiring ditemukannya korban yang sebelumnya tertimbun longsor atau terseret arus banjir, khususnya di wilayah dengan medan sulit dan akses terbatas.

Korban Hilang dan Pengungsi Berangsur Menurun

Di tengah situasi darurat, BNPB mencatat perkembangan positif. Jumlah korban hilang berkurang dari 226 orang menjadi 217 orang, berkat operasi pencarian intensif yang dilakukan oleh tim gabungan TNI, Polri, Basarnas, BPBD, serta relawan.

Selain itu, jumlah pengungsi juga menurun signifikan, dari 884.889 jiwa menjadi 654.642 jiwa. Penurunan ini dipengaruhi oleh surutnya banjir di beberapa daerah serta mulai pulihnya akses menuju permukiman warga.

Meski demikian, BNPB mengingatkan bahwa kondisi di lapangan belum sepenuhnya aman. Banyak warga kembali ke rumah yang mengalami kerusakan berat, bahkan hancur, dengan keterbatasan kebutuhan dasar.

Hambatan Serius di Lapangan

Proses penanganan bencana masih dihadapkan pada berbagai kendala. Cuaca yang belum stabil, potensi longsor susulan, serta kerusakan infrastruktur menjadi tantangan utama dalam distribusi bantuan dan evakuasi korban.

Di wilayah pedalaman Aceh dan Sumatera Barat, tim SAR harus membuka jalur terputus menggunakan alat berat. Sementara di Sumatera Utara, banjir bandang telah mengubah alur sungai, menyulitkan proses pencarian korban.

Tiga Fokus Utama BNPB

Dalam masa tanggap darurat, BNPB bersama pemerintah daerah memprioritaskan tiga langkah utama:

Melanjutkan pencarian dan penyelamatan korban yang masih hilang

Memastikan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, seperti pangan, air bersih, layanan kesehatan, dan sanitasi

Mempercepat pemulihan infrastruktur vital, termasuk jalan, jembatan, dan fasilitas kesehatan

BNPB juga mengimbau masyarakat di wilayah rawan bencana untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, mengingat curah hujan tinggi masih berpotensi terjadi di berbagai wilayah Sumatera.

Duka Mendalam dan Peringatan Nasional

Bencana banjir dan longsor ini menjadi tragedi kemanusiaan yang meninggalkan luka mendalam bagi ribuan keluarga. Dengan lebih dari seribu korban jiwa, peristiwa ini sekaligus menjadi peringatan serius akan meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi ekstrem di Indonesia.

BNPB menegaskan pentingnya penguatan mitigasi bencana, pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, serta kesiapsiagaan masyarakat, guna menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata dan tak terduga.

(B1)
#UpdateKorbanBencanaSumatera #BNPB

 

Serasinews.com,Jakarta — Duka masih menyelimuti Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara setelah banjir bandang dan longsor melanda sejak 24 November 2025. Hingga Jumat (12/12), BNPB melaporkan 995 korban meninggal dunia, bertambah lima jiwa dibanding sehari sebelumnya.

“Total sementara menunjukkan 995 jiwa meninggal dunia di tiga provinsi,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers daring.

Jumlah warga hilang turut meningkat menjadi 226 orang, sementara jumlah pengungsi tetap di angka 884.889 jiwa—menjadikannya salah satu krisis kemanusiaan terbesar Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir.

Potensi Penurunan Jumlah Korban: Verifikasi Data Temukan Banyak Ketidaksesuaian

Meski mendekati angka seribu, BNPB menyatakan jumlah korban kemungkinan akan menurun seiring verifikasi data yang kini dilakukan lebih ketat pada level kecamatan bersama Dukcapil.

Verifikasi by name by address menemukan sejumlah kejanggalan:

Sebagian jenazah berasal dari area pemakaman, bukan korban bencana.

Beberapa nama yang tercatat meninggal ternyata wafat sebelum bencana.

Ditemukan data ganda serta identitas yang keliru dalam laporan awal.

Mulai besok, BNPB memperkirakan sejumlah kabupaten mulai menggunakan data resmi catatan sipil, menggantikan laporan manual dari lapangan.

Mengapa Banjir di Sumatera Begitu Parah? Tiga Faktor Utama Penyebabnya

Para ahli mengidentifikasi tiga faktor kunci yang membuat bencana ini sangat destruktif:

1. Aktivitas Atmosfer Tinggi di Puncak Musim Hujan

Sumatera utara berada di fase puncak musim hujan dengan dua puncak curah hujan dalam setahun.

Curah hujan >150 mm/hari merupakan kondisi normal.

Beberapa stasiun BMKG mencatat >300 mm/hari, setara banjir besar Jakarta 2020.

2. Pengaruh Siklon Tropis Senyar

Pada 24 November, muncul vortex di Semenanjung Malaysia yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka.
Siklon ini memperkuat hujan ekstrem melalui:

peningkatan uap air,

penguatan awan konvektif,

perluasan cakupan hujan.

3. Kerusakan Lingkungan & Perubahan Tutupan Lahan

Penurunan tutupan vegetasi memperburuk kemampuan tanah menyerap air.
Menurut pakar geospasial ITB, Heri Andreas, banjir besar terjadi ketika daerah yang dahulu menyerap air—seperti hutan—berubah menjadi:

permukiman,

perkebunan intensif,

atau lahan terbuka.

Akibatnya, air hujan mengalir sebagai limpasan cepat, memicu banjir hanya dalam beberapa jam. Heri juga menyoroti bahwa peta bahaya banjir Indonesia belum sepenuhnya akurat, sehingga perencanaan tata ruang berbasis risiko masih lemah.

Ujian Berat bagi Sistem Kebencanaan Indonesia

Bencana di Sumatera menjadi peringatan bahwa Indonesia masih sangat rentan terhadap kombinasi cuaca ekstrem dan degradasi lingkungan.
Tim SAR terus bekerja menyisir puing dan aliran sungai, berupaya menemukan ratusan warga yang belum ditemukan.

Di sisi lain, pemerintah menghadapi pekerjaan besar:
memperbaiki data, memulihkan lingkungan, dan memperkuat mitigasi jangka panjang.

Meski jumlah korban mungkin berubah setelah verifikasi, tragedi ini telah meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Sumatera—sekaligus menjadi alarm keras bagi seluruh Indonesia.

(L6)
#BNPB #UpdateKorbanBencanaSumatera #BencanaSumatera

 

Serasinews.com, Aceh — BNPB kembali memperbarui data dampak banjir dan longsor yang menimpa tiga provinsi di Sumatera: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dalam rilis resmi yang disampaikan Kamis (11/12/2025), jumlah korban meninggal dunia kini menyentuh 990 jiwa, setelah 21 jenazah tambahan ditemukan oleh tim gabungan sepanjang hari.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa Aceh masih menjadi wilayah dengan penemuan korban terbanyak. Aceh Utara, yang terdampak paling parah, kembali menyumbang sebagian besar penemuan terbaru, disusul tiga jasad di Sumatera Utara dan dua di Sumatera Barat.

Proses Identifikasi Korban Masih Berlangsung

Seluruh jasad yang ditemukan langsung dibawa ke posko DVI yang tersebar di sejumlah kabupaten terdampak untuk dilakukan identifikasi. Proses ini melibatkan BNPB, Basarnas, Polri, TNI, dan para relawan yang bekerja hampir tanpa jeda sejak bencana terjadi.

Pengungsi Berkurang Hampir 10 Ribu Jiwa

Di tengah kabar duka tersebut, terdapat perkembangan positif terkait kondisi pengungsian. Per Kamis (11/12), jumlah pengungsi turun menjadi 884.889 jiwa, berkurang 9.615 jiwa dibandingkan sehari sebelumnya. Penurunan ini terjadi seiring membaiknya sebagian kawasan, terutama lokasi yang banjirnya sudah surut dan telah dinilai aman untuk ditempati kembali.

Akses Terbatas dan Cuaca Masih Mengancam

Meski begitu, tim SAR masih berjibaku dengan kondisi medan yang sulit. Beberapa wilayah masih terisolasi karena jalan rusak, jembatan putus, dan material longsor yang menutupi akses. Di Aceh dan Sumut, pencarian bahkan dilakukan dengan perahu karet dan alat berat, sementara di daerah lain petugas harus berjalan kaki menembus medan berat.

BMKG memperingatkan bahwa curah hujan tinggi masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan, membuat tim penyelamat harus tetap waspada terhadap bencana susulan.

Bencana Terbesar di Sumatera dalam 10 Tahun Terakhir

Dengan jumlah korban yang hampir menembus seribu jiwa, bencana banjir dan longsor ini dinilai sebagai salah satu tragedi terbesar di Sumatera dalam satu dekade. BNPB memastikan operasi pencarian dan penyelamatan akan terus dilanjutkan hingga seluruh laporan orang hilang terverifikasi.

Sementara itu, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah tengah mempercepat penyaluran bantuan, perbaikan posko sementara, dan penyusunan langkah pemulihan jangka panjang.

(B1)
#BNPB #BencanaSumatera #UpdateKorbanBencanaSumatera

 

Serasinews.com, Jakarta — Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera pada penghujung 2025 terus menelan korban. Hingga Rabu, 10 Desember 2025 pukul 14.40 WIB, BNPB melaporkan 969 orang meninggal dan 254 orang masih hilang akibat banjir besar dan longsor yang menghantam Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Data terbaru ini diperoleh melalui Dashboard Penanganan Banjir dan Longsor Sumatera, yang terus diperbarui seiring proses evakuasi yang belum berhenti.

Jumlah korban tersebut meningkat dibandingkan sehari sebelumnya, di mana korban meninggal tercatat 964 jiwa. Kenaikan lima korban dalam waktu kurang dari 24 jam mencerminkan masih ditemukannya korban baru di sejumlah titik bencana.

Aceh Menjadi Pusat Dampak Terparah

BNPB merinci sebaran korban meninggal sebagai berikut:

Aceh: 391 jiwa
Terjadi penambahan dua korban. Akses menuju beberapa wilayah, seperti Aceh Tengah dan Aceh Besar, masih terputus akibat jembatan dan jalan runtuh.

Sumatera Utara: 338 jiwa
Tidak ada perubahan data, namun pencarian korban hilang masih dipusatkan di Mandailing Natal dan Tapanuli Selatan.

Sumatera Barat: 235 jiwa
Bertambah satu korban dari hari sebelumnya. Agam, Tanah Datar, dan Pesisir Selatan terpantau menjadi area dengan kerusakan paling besar.

Dengan total mendekati 1.000 korban jiwa, peristiwa ini masuk dalam kategori bencana banjir dan longsor paling fatal dalam 10 tahun terakhir.

Kerusakan Infrastruktur Meluas

Bencana ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga merusak fasilitas publik secara masif. BNPB mencatat:

1.200 fasilitas umum rusak

434 rumah ibadah terdampak

219 fasilitas kesehatan rusak

290 kantor pemerintahan terdampak

581 fasilitas pendidikan rusak

498 jembatan putus atau rusak berat

157.900 rumah rusak berbagai kategori

Akibatnya, aktivitas masyarakat lumpuh di ratusan titik, dan pelayanan publik banyak yang harus dipindahkan ke fasilitas darurat.

Puluhan Ribu Mengungsi, Kebutuhan Mendesak Meningkat

Laporan lapangan menunjukkan puluhan ribu warga kini tinggal di posko pengungsian, masjid, sekolah, dan tenda darurat. Kebutuhan yang paling mendesak antara lain:

bahan pangan dan air bersih

obat-obatan serta layanan kesehatan darurat

perlengkapan bayi dan lansia

dukungan psikososial untuk anak-anak

Distribusi bantuan masih terkendala cuaca dan akses yang terputus.

Evakuasi Dihadang Medan Berat

Tim dari Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan BPBD masih berupaya menemukan 254 korban hilang. Namun medan ekstrem, longsor susulan, serta minimnya alat berat memperlambat proses pencarian.
Beberapa lokasi dilaporkan tertimbun material longsor setebal lebih dari 5 meter, memaksa tim melakukan penggalian manual dengan risiko tinggi.

Status Darurat Tetap Diperpanjang

BNPB menegaskan status tanggap darurat masih berlaku di sejumlah daerah. Pemerintah pusat mengoordinasikan bantuan lintas instansi dan mengimbau masyarakat tetap waspada, mengingat potensi cuaca ekstrem diperkirakan terus berlanjut hingga akhir Desember 2025.

Dengan korban jiwa yang terus bertambah, kerusakan masif, dan puluhan ribu orang mengungsi, bencana di Sumatera ini menjadi tragedi nasional yang meninggalkan duka mendalam dan membutuhkan penanganan jangka panjang.

(Rini/Mond)
#BencanaSumatera #BanjirSumatera #BNPB #UpdateKorbanBanjirSumatera

 

Serasinews.com, Jakarta — Bencana hidrometeorologi yang melanda beberapa provinsi di Pulau Sumatera terus menimbulkan duka. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data hingga Selasa petang, 9 Desember, menyebutkan jumlah korban meninggal dunia mencapai 964 jiwa, bertambah tiga orang dari sehari sebelumnya. Semua korban tambahan berasal dari Provinsi Aceh, salah satu wilayah yang paling parah terdampak. Sementara itu, korban hilang kini tercatat 264 orang, menurun dari 293 orang, berkat upaya pencarian intensif tim SAR gabungan.

“Evakuasi dan pencarian korban terus dilakukan meski terkendala cuaca dan medan,” ujar perwakilan BNPB.

Hampir 900 Ribu Warga Mengungsi
Dampak bencana juga terlihat dari lonjakan pengungsi yang kini mencapai 894.101 jiwa, tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Warga terpaksa meninggalkan rumah akibat banjir, longsor, dan rusaknya akses jalan, serta kini bertahan di posko darurat, sekolah, masjid, maupun tenda pengungsian. Kondisi pengungsian masih membutuhkan perhatian terkait ketersediaan makanan siap saji, air bersih, layanan kesehatan, sanitasi, dan perlindungan bagi anak-anak serta lansia.

Distribusi Bantuan Meningkat
BNPB melaporkan percepatan distribusi logistik. Hingga pukul 14.00 WIB, tercatat:

3 pengiriman darat dengan total 14,08 ton

17 pengiriman udara dengan total 17,54 ton

Total bantuan yang didistribusikan dalam sehari mencapai 31,62 ton, sebagian besar berupa bahan makanan dan kebutuhan pokok.

BBM dan Bahan Makanan Dikirim TNI AU
TNI Angkatan Udara juga dikerahkan untuk wilayah terisolasi:

20 drum BBM solar (4 ton) via pesawat CN TNI AU

10 ton bahan makanan via pesawat Hercules

Bantuan tiba di Bandara Rambele, Aceh, dan langsung disalurkan ke Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, yang sempat terisolasi akibat putusnya jalur darat.

Operasi Kemanusiaan Diperluas
BNPB memastikan operasi kemanusiaan terus dilakukan, termasuk pencarian korban hilang, pemulihan akses logistik, pelayanan kesehatan darurat, dan pendataan kerusakan rumah serta fasilitas umum. Pemerintah juga mengimbau masyarakat tetap waspada karena potensi cuaca ekstrem masih tinggi.

(Rini/Mond)
#BNPB
#UpdateKorbanBanjirSumatera
#BanjirSumatera

 

Serasinews.com, Kabupaten Agam – Kabupaten Agam, Sumatra Barat, masih menghadapi tantangan berat pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda beberapa wilayah dalam beberapa waktu terakhir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan bahwa hingga awal Desember 2025, sejumlah daerah masih terisolasi akibat kerusakan akses transportasi dan infrastruktur penting.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memaparkan kondisi tersebut dalam rapat terbatas bersama Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara pada Minggu, 7 Desember 2025. Ia menegaskan bahwa proses pemulihan di Sumatra Barat masih berjalan dan membutuhkan penanganan intensif.

“Di Kabupaten Agam, khususnya wilayah Limo Nagari, masih terdapat kecamatan yang terisolasi. Hal serupa terjadi di Pesisir Selatan serta Tigo Nagari yang aksesnya belum sepenuhnya pulih,” ujar Suharyanto pada Senin (8/12/2025).

Distribusi Logistik Tetap Berjalan Melalui Udara, Darat, dan Air

Meski akses darat masih terputus di beberapa titik, penyaluran bantuan kepada korban bencana tetap berlangsung. BNPB memastikan distribusi logistik dilakukan melalui berbagai jalur, baik udara, darat, maupun air.

Di Pesisir Selatan, bantuan masih bergantung pada transportasi udara. Sementara itu, di Agam, pengiriman bantuan kini dapat dilakukan dengan kombinasi jalur darat, udara, dan air.

BNPB juga mencatat ketersediaan stok logistik di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) berada dalam kondisi aman. Saat ini terdapat 24,22 ton bantuan tersimpan, sementara 98,8 ton lainnya telah disalurkan ke wilayah terdampak.

Akses Jalan Nasional dan Provinsi Mulai Dibuka Bertahap

Terkait konektivitas, jalur nasional Padang–Bukittinggi melalui Bukit Anai dipastikan tidak terputus total. Kendaraan masih dapat melintas melalui jalur alternatif yang telah disiapkan.

Adapun beberapa jalur provinsi masih dalam proses perbaikan, di antaranya:

Jalur Sicincin (Padang Pariaman) – Malalak (Agam) diperkirakan selesai dalam tiga minggu ke depan.

Jalur Padang Luar Bukittinggi – Maninjau ditargetkan normal kembali dalam satu minggu, sesuai laporan Kementerian PUPR.

Keterbatasan ini masih mempengaruhi aktivitas ekonomi, distribusi pertanian, dan mobilitas masyarakat.

Listrik dan Komunikasi Pulih Total, Air Bersih Masih Terkendala

Jaringan listrik dan komunikasi di wilayah terdampak telah pulih 100 persen. Meski begitu, layanan air bersih masih terkendala dan kini dalam tahap perbaikan di 21 kecamatan yang tersebar di tujuh kabupaten/kota. Warga masih bergantung pada bantuan suplai air bersih dari pemerintah dan relawan.

Kebutuhan Anggaran Pemulihan Capai Rp13,52 Triliun

BNPB juga menyampaikan besarnya kebutuhan anggaran untuk memperbaiki infrastruktur pascabencana. Berdasarkan penghitungan sementara Kementerian PUPR, dibutuhkan dana sebesar Rp13,52 triliun untuk memulihkan kondisi infrastruktur menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Anggaran tersebut mencakup perbaikan jalan, jembatan, fasilitas umum, jaringan air bersih, hingga infrastruktur permukiman.

Agam Jadi Prioritas Nasional dalam Pemulihan

BNPB menegaskan bahwa pemulihan pascabencana di Sumatra Barat, khususnya Kabupaten Agam, menjadi prioritas pemerintah pusat. Selain fokus pada perbaikan fisik, pemerintah turut mengutamakan pemulihan sosial, ekonomi, dan penanganan trauma bagi warga terdampak.

Suharyanto memastikan kesiapan alutsista seperti helikopter dan alat berat untuk mendukung proses distribusi dan penanganan bencana.

Dengan sejumlah wilayah yang masih terisolasi dan kerusakan infrastruktur yang luas, bencana banjir bandang dan longsor di Sumatra Barat menjadi salah satu tantangan terbesar dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi ekstrem.

(IN)
#BanjirSumbar #BNPB
#

 

Serasinews.com, Jakarta — Gelombang banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak 24 November 2025 kini tercatat sebagai salah satu bencana paling mematikan dalam 20 tahun terakhir.
Hingga Minggu (7/12/2025) pukul 08.20 WIB, BNPB melaporkan 916 korban jiwa, sementara 274 orang masih hilang. Data ini bersumber dari Dashboard Penanganan Banjir dan Longsor Sumatra yang diperbarui berkala.

Update per 7 Desember 2025: meninggal 916 jiwa, hilang 274 jiwa, terluka 4,2 ribu jiwa,” tulis BNPB dalam keterangannya.

Kerusakan Fisik Meluas: Infrastruktur Lumpuh di Banyak Titik

Skala kerusakan membuat sejumlah wilayah praktis terisolasi. BNPB mencatat:

1.300 fasilitas umum rusak

420 rumah ibadah terdampak

199 fasilitas kesehatan tak berfungsi optimal

234 gedung pemerintahan rusak

697 fasilitas pendidikan terdampak

405 jembatan rusak atau putus

105.900 rumah rusak dari ringan hingga total

Kerusakan ini memutus rantai transportasi dan distribusi, membuat proses evakuasi serta pengiriman bantuan berlangsung sangat lambat.

Korban Terus Bertambah

Pada hari sebelumnya (6/12), korban meninggal berada di angka 914 jiwa. Dalam konferensi pers, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan sebaran korban:

Aceh: 359 jiwa

Sumatra Utara: 329 jiwa

Sumatra Barat: 226 jiwa

Ia menegaskan bahwa operasi pencarian masih berlangsung nonstop, namun medan ekstrem dan cuaca buruk menjadi tantangan terbesar.

Penyebab Bencana: Kombinasi Cuaca Ekstrem & Degradasi Lingkungan

Para ahli menilai besarnya dampak bencana ini merupakan hasil dari tumpang-tindih faktor atmosfer dan kerusakan lingkungan.

1. Curah Hujan Ekstrem & Aktivitas Atmosfer Tinggi

Ketua Prodi Meteorologi ITB Muhammad Rais Abdillah menjelaskan bahwa Sumatra utara sedang berada pada puncak musim hujan, dengan intensitas yang mencapai 300 mm/hari di beberapa titik.
Pembentukan Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka turut meningkatkan konsentrasi awan hujan, diperkuat fenomena lain seperti cold surge vortex dan sistem awan skala meso.

2. Lingkungan yang Rusak Tidak Lagi Menyerap Air

Dosen ITB Heri Andreas menegaskan bahwa perubahan fungsi lahan membuat wilayah tersebut kehilangan kemampuan alami untuk meresapkan air.
Daerah yang dahulu berhutan kini berubah menjadi area permukiman, perkebunan, hingga lahan terbuka—menyebabkan air hujan langsung mengalir ke sungai dengan volume besar.

3. Berkurangnya Ruang Tampung Alami

Rawa, hutan rawa, dan dataran banjir—yang seharusnya menjadi penahan air—telah banyak berubah fungsi. Kondisi ini membuat wilayah tak mampu menahan tekanan air saat hujan ekstrem datang.

Situasi Pengungsian: Minim Logistik, Akses Terbatas

Ribuan warga bertahan di tenda pengungsian yang penuh sesak. Air bersih terbatas, obat-obatan menipis, dan penyakit infeksi mulai muncul di kalangan anak-anak.
Sejumlah lokasi hanya dapat dijangkau melalui udara, menggunakan helikopter BNPB dan TNI.

Seruan Ahli: Tata Ruang Sumatra Harus Dievaluasi Total

Para pakar mendesak pemerintah untuk melakukan pembenahan besar-besaran terkait:

pengelolaan DAS,

tata ruang berbasis risiko,

pemulihan vegetasi,

serta peningkatan sistem peringatan dini.

“Jika perubahan lahan tak dikendalikan, bencana serupa hanya menunggu waktu,” ujar Heri.

Banjir dan longsor ini bukan sekadar musibah akibat curah hujan ekstrem; ini adalah cerminan rapuhnya ekosistem dan tata ruang.
Upaya pencarian masih berlangsung, dan kemungkinan jumlah korban terus bertambah.

Pesan para ahli jelas: memperbaiki lingkungan dan tata ruang bukan lagi opsi—melainkan kebutuhan mendesak.

(L6)
#BNPB #UpdateKorbanBanjirSumatera
#BencanaAlam

 

Serasinews.com, SUMATERA — Hujan tanpa jeda yang mengguyur Aceh dan sebagian besar wilayah Sumatera sejak akhir November akhirnya berubah menjadi bencana dahsyat. Bukan sekadar banjir musiman, tetapi tragedi kemanusiaan yang merenggut ratusan nyawa dan meninggalkan luka kolektif bagi jutaan warga.

Per Sabtu, 6 Desember 2025, BNPB mencatat 883 korban meninggal, 520 orang hilang, dan lebih dari 4.200 luka-luka. Angka ini terus bertambah seiring upaya pencarian yang terhambat cuaca buruk dan akses yang terputus.

Agam: Kabupaten yang Dihantam Paling Keras

Dari 51 kabupaten terdampak, Agam di Sumatera Barat menjadi wilayah dengan korban jiwa terbanyak: 171 orang meninggal. Longsor besar menyapu permukiman di kaki bukit hanya dalam hitungan detik, menyisakan tumpukan tanah tebal dan puing bangunan.

Tim SAR masih bekerja siang-malam. Suara mesin alat berat berpadu dengan jeritan keluarga yang mencari anggota keluarganya. Namun beberapa titik masih tak dapat ditembus—jalan lenyap, jembatan runtuh, dan bukit yang terus mengelupas setiap kali hujan turun.

Gelombang Pengungsian Terbesar di Aceh Tamiang

Di Aceh Tamiang, kisahnya tak kalah pahit. Lebih dari 281.300 warga meninggalkan rumah yang tak lagi dapat ditinggali. Balai desa, sekolah, masjid, bahkan emperan toko berubah menjadi tempat perlindungan darurat.

Di banyak posko, muncul persoalan baru: air bersih menipis, sanitasi rusak, anak-anak mulai terserang penyakit kulit, dan aroma obat-obatan bercampur lumpur memenuhi udara.

Kerusakan Fisik yang Masif

Skala kehancuran yang tercatat BNPB memperlihatkan betapa berat dampak bencana ini:

121.500 rumah rusak

1.100 fasilitas umum hancur

270 fasilitas kesehatan terdampak

509 sekolah rusak

338 rumah ibadah terdampak

221 gedung dan kantor rusak

405 jembatan putus atau rusak berat

Jembatan-jembatan yang putus membuat sejumlah wilayah terisolasi total. Bantuan logistik hanya bisa masuk dengan perahu atau jalur udara.

Jembatan Bailey Mulai Dirakit

Pemerintah pusat bergerak cepat. Dua jembatan bailey yang menghubungkan Aceh–Sumut mulai dirakit kembali untuk mengembalikan aliran logistik yang sempat terhenti. Setiap jam sangat berharga karena bantuan ke wilayah pedalaman bergantung pada jalur ini.

Ancaman Belum Usai

BMKG mengingatkan potensi hujan ekstrem masih tinggi. Cuaca sewaktu-waktu dapat memicu longsor susulan dan banjir bandang di daerah yang tanahnya sudah jenuh air.

BNPB mengimbau warga tetap waspada dan tidak kembali ke zona rawan sebelum dinyatakan aman sepenuhnya.

Solidaritas Mengalir

Di tengah duka, gelombang solidaritas menguat. Relawan datang dari berbagai daerah, donasi logistik terus berdatangan, dan lembaga internasional mulai menawarkan dukungan.

Bencana ini tak hanya menguji kesiapan negara, tetapi juga ketangguhan masyarakat untuk bangkit dari kehancuran.

(Rini/Mond)
#BNPB
#UpdateKorbanBanjirSumatera

 

Serasinews.com, Jakarta — Gelombang banjir dan longsor yang menghantam Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat memunculkan dampak kemanusiaan yang sangat besar. BNPB melaporkan bahwa hingga Jumat (5/12) jumlah korban meninggal telah mencapai 836 orang, sementara 509 warga masih belum ditemukan. Skala bencana ini menjadikannya salah satu tragedi hidrometeorologi paling mematikan dalam sepuluh tahun terakhir di Indonesia.

Sumatra Utara Paling Parah Terdampak

Korban jiwa terbanyak berasal dari Sumatra Utara, diikuti Provinsi Aceh dan Sumatra Barat. Hujan ekstrem berkepanjangan memperlemah struktur tanah, memicu rangkaian longsor di wilayah perbukitan serta kawasan aliran sungai.
BNPB juga mencatat 2.700 warga mengalami luka-luka, terutama akibat tertimbun material longsor dan terseret arus banjir saat mencari selamat.

Pendataan masih berlangsung karena sejumlah daerah terpencil belum dapat diakses akibat jalan terputus dan banyak jembatan runtuh.

Rumah dan Infrastruktur Luluh Lantak

Kerusakan fisik cukup masif. Sedikitnya 10.500 rumah rusak di 51 kabupaten/kota. Banyak rumah warga dinyatakan tidak layak huni karena kerusakan berat.

Rincian Kerusakan

Fasilitas umum: 536 unit

Fasilitas kesehatan: 25 unit

Sekolah: 326 unit

Rumah ibadah: 185 unit

Gedung/kantor: 115 unit

Jembatan putus: 295 unit

Putusnya ratusan jembatan membuat beberapa wilayah praktis terisolasi. Bantuan hanya dapat didorong melalui helikopter atau jalur air yang aman.

Bantuan Awal Mulai Mengalir

Untuk memenuhi kebutuhan mendesak para penyintas, BNPB telah menyalurkan berbagai bantuan darurat berupa:

4.400 paket sembako

67 koli pakaian

1.100 matras

40 tenda pengungsi

49 perangkat Starlink untuk mengatasi mati total jaringan komunikasi di daerah terdampak

Teknologi satelit tersebut digunakan untuk mempercepat koordinasi tim penyelamat serta memastikan informasi dari lapangan dapat tersampaikan tanpa hambatan.

Evakuasi Masih Berpacu dengan Cuaca

Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian korban meski cuaca tidak bersahabat. Hujan susulan memaksa sejumlah operasi dihentikan sementara karena ancaman longsor.
Ribuan warga kini menghuni pos-pos pengungsian dengan kebutuhan utama berupa air bersih, layanan kesehatan, selimut, serta obat-obatan.

BMKG: Potensi Hujan Ekstrem Belum Usai

BMKG kembali memperingatkan bahwa curah hujan tinggi masih berpotensi terjadi beberapa hari ke depan. Pemerintah daerah diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama di kawasan rawan longsor dan banjir.

Luka Mendalam di Tanah Sumatra

Dengan ratusan korban meninggal dan ratusan lainnya masih hilang, bencana ini meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat di tiga provinsi. Pemerintah pusat menyatakan kesiapan menambah personel dan logistik, sekaligus mulai menyiapkan tahap rehabilitasi jangka panjang.

(K)
#BanjirSumatera #Peristiwa #BNPB
#UpdateKorbanBanjirSumatera

 

Serasinews.com, Jakarta – Gelombang bencana terbesar dalam sepuluh tahun terakhir kembali meninggalkan jejak luka mendalam di Sumatera. Banjir bandang serta longsor yang menyapu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kini memasuki fase paling memilukan.

Pada Kamis (4/12), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pembaruan data terbaru: skala kerusakan jauh melampaui perkiraan awal.
Hingga hari ini, 776 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 564 lainnya masih hilang. Di tengah tumpukan puing dan kubangan lumpur, keluarga korban terus mencari harapan yang tersisa.

Selain korban jiwa, 2.600 warga mengalami luka-luka, mulai dari cedera ringan hingga trauma berat. Sumatera Utara tercatat sebagai provinsi yang paling parah terdampak, disusul Aceh dan Sumatera Barat.

10,4 Ribu Rumah Rata Tanah – 51 Kabupaten/Kota Luluh Lantak

Data BNPB menggambarkan betapa dahsyatnya terjangan bencana kali ini. Permukiman dari pesisir hingga lereng bukit porak-poranda. Rumah warga ambruk, fasilitas umum rusak, dan akses antardaerah terputus.

Kerusakan yang tercatat meliputi:

Rumah & Infrastruktur Warga

10.400 rumah hancur

295 jembatan putus, membuat banyak wilayah benar-benar terisolasi

132 rumah ibadah mengalami kerusakan

Fasilitas Publik

354 fasilitas umum terdampak

213 sekolah rusak

100 gedung pelayanan publik lumpuh

9 fasilitas kesehatan rusak, menghambat layanan medis

Ribuan pengungsi kini bertahan di titik-titik penampungan darurat dengan logistik yang masih terbatas.

Bantuan Mengalir: Dari Sembako hingga Starlink

Untuk mempercepat pemulihan darurat, BNPB mengirimkan bantuan ke berbagai lokasi terdampak di tiga provinsi.

Bantuan yang telah disalurkan mencakup:

4.400 paket sembako

49 perangkat Starlink untuk memulihkan komunikasi di wilayah yang terputus

1.100 matras

67 koli pakaian

40 tenda pengungsian

Perangkat Starlink menjadi tulang punggung komunikasi darurat setelah banyak menara BTS roboh dan jaringan fiber optik terputus tertimbun longsor.

Duka Menggenang Bersama Lumpur

Banjir besar yang datang seketika dan longsor yang menyapu pemukiman membuat banyak warga tak sempat menyelamatkan apapun. Tim SAR masih berjuang menembus lumpur setinggi pinggang, sementara alat berat sulit bergerak akibat jalan runtuh.

Di tenda-tenda pengungsian, relawan medis mencatat peningkatan kasus infeksi kulit, demam, dan gangguan psikologis, terutama pada anak-anak dan lansia.

Jalan Panjang Menuju Pemulihan

Meski cuaca mulai membaik, ancaman banjir susulan dan longsor masih membayangi, terutama di kawasan perbukitan yang tanahnya sudah jenuh air. BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti instruksi pemerintah daerah.

Bencana ini diperkirakan menjadi salah satu yang paling mematikan dan merusak di Sumatera dalam satu dekade terakhir, menuntut sinergi besar antara pemerintah, relawan, dan masyarakat.

(K)
#BNPB #UpdateKorbanBanjirSumatera
#BanjirSumatera #BencanaAlam

 

Serasinews.com, Jakarta — Curah hujan ekstrem yang menghantam wilayah Sumatra sejak akhir November berubah menjadi bencana besar. Laporan terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Rabu pagi mencatat 753 korban meninggal, 650 orang hilang, dan lebih dari 2.600 warga terluka. Data ini diperoleh dari pembaruan dashboard resmi penanganan bencana.

Peristiwa ini kini termasuk salah satu bencana hidrometeorologi paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir. BNPB menyebutkan dampak terberat dirasakan di tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan total warga terdampak mencapai 3,3 juta jiwa.

Korban Menurut Wilayah

Jumlah korban meninggal terbagi atas 301 jiwa di Sumatera Utara, 234 jiwa di Sumatera Barat, dan 218 jiwa di Aceh. Aceh dan Sumbar menjadi wilayah dengan laporan orang hilang terbanyak. Tim SAR masih menjangkau sejumlah area yang lama terisolasi, sehingga angka tersebut diperkirakan dapat bertambah.

Kerusakan fisik juga mencengangkan: sekitar 3.600 rumah rusak berat, 2.100 rusak sedang, dan 3.700 rusak ringan. Banyak jembatan, akses jalan, sekolah, hingga fasilitas kesehatan mengalami kerusakan serius.

Operasi di Lapangan

Basarnas, BNPB, TNI/Polri, serta relawan bergerak serentak melakukan pencarian dan evakuasi. Sejumlah daerah hanya bisa ditembus lewat udara akibat tanah longsor dan jembatan yang runtuh. Kondisi cuaca yang tak menentu memperlambat operasi.

Pemerintah menambah pengiriman logistik dan armada udara untuk menjangkau wilayah terpencil. Pendataan ulang masih dilakukan, sehingga estimasi korban dapat berubah sewaktu-waktu.

Suasana Pengungsian dan Gelombang Bantuan

Di lokasi pengungsian, duka menyelimuti warga yang kehilangan keluarga dan tempat tinggal. Tim medis bekerja intensif menangani luka serta trauma. Dari media sosial, beredar luas gambar permukiman yang rata oleh banjir, rumah terseret arus, dan jalan yang terbelah.

Meski begitu, solidaritas masyarakat terlihat kuat. Relawan lokal, organisasi kemanusiaan, hingga warga dari provinsi lain terus berdatangan membawa logistik dasar, meskipun distribusi kerap terhambat akses yang rusak.

Faktor Penyebab

Ahli meteorologi menyebut hujan ekstrem dipicu sistem sirkulasi siklonik di sekitar perairan Sumatra. Kerusakan lingkungan—mulai dari deforestasi hingga perubahan tata guna lahan—memperbesar risiko banjir bandang dan longsor. Evaluasi tata ruang dan penguatan mitigasi bencana dinilai semakin mendesak.

Kebutuhan Mendesak

Prioritas saat ini meliputi:

Pencarian dan evakuasi korban yang belum ditemukan.

Distribusi logistik: makanan, air bersih, obat-obatan, perlengkapan pengungsian.

Pelayanan kesehatan dan dukungan psikologis bagi pengungsi.

Pembukaan akses sementara untuk mempercepat pergerakan bantuan.

Pendataan identitas korban dan keluarga terdampak.

Melangkah ke Depan

Bencana ini menorehkan luka mendalam bagi jutaan warga. Namun fase pemulihan juga menjadi kesempatan memperbaiki tata kelola lingkungan, memperkuat infrastruktur tahan bencana, dan membangun sistem peringatan dini yang lebih efektif. Dalam waktu dekat, fokus utama tetap pada penyelamatan nyawa serta pemulihan yang adil dan transparan.

(L6)
#BNPB #BanjirSumatera
#BencanaAlam
#UpdateKorbanBanjitSumatera

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.