Articles by "BanjirPadang"

Aceh Afif Maulana Agam AIDS Aipda Dian WR AirterjunLembahAnaiMeluap Aksibersihpantai AksiJalanan Aleknagari Amak Lisa AmalanBulanRajab AndreRosiade AnjingPelacak anthropophobia Antikorupsi ApdateKorbanBencanaSumatera Apelsiaga Apeltanggapbencana Arif maulana Arosuka Artikel Artis Minang Asusila balapliar BalapMotor Bali Balikpapan BandarNarkobaKabur Bandung BangunanLiar Banji Banjir BanjirAceh BanjirAgam BanjirBandang BanjirPadang BanjirSumatera BanjirSumbar BanjirSumut bansos banten BantuanBencanaAcehHilang BantuanKorbanBencanaPasbar Banyuwangi Bapenda BareskrimPolri Batam BatangArau Batuk BBM BeaCukai bencana Bencana alam Bencanaalam BencanaAlamSumateraBarat BencanaHidrometeorologi BencanaKotaPadang BencanaSumatera BencanaSumbar BerantasNarkoba BibitSiklonTropis95B BKSDA BMKG BNNPSumbar BNNsumbar BNPB BobonSantoso Box Redaksi BPBDKabupatenAgam BPBDPadang BPBDSumbar BPHMigas BrimobPoldaSumbar Brimobuntukindonesia BRISuperLeague bukit sitinurbaya Bukittinggi BungaBangkai BungaRafflesia BWSS V padang BWSSV BWSSVPadang Calon Bupati cemburubuta CerintIrallozaTasya Cikampek Cikarang CuacaEkstrem cuacapanasekstrem curanmor Daerah danabos Dandrem 032 WBR dankodaeral II Demonstrasi Denpasar Depok DeptCollector Dharmasraya Dinas sosial DinasPendidikanSumbar DinasPerpusipPadang DinasPerpustakaandanArsip DinasPertanian dinassosial dinassosialpadang Dirlantas Dirlantas Polda Sumbar DirlantasPoldaSumbar Disdukcapil DitlantasPoldaSumbar DitpolairudPoldaSumbar DPCPKBkotapadang DPDRI DPR DPRD Padang DPRDpadang DPRDsumbar DPUPR DPUPRPadang dubalangkota EmpatPilar Enarotali Evakuasi festival sepakbola Filipina Galodo GalodoLembahAnai gangguanhormon GanjaKering gaya hidup GayaHidup gempa GempaBumi gerakcepatdinsos gorontalo GrasstrackMotocross Gresik GunungMerapiErupsi gurbernurriaukenaottkpk HAM HargaCabaiNaik Haripahlawan Harisumpahpemuda Hidroneteologi Hipnotis HismawaMigas HIV Hot New HubunganSesamaJenis hukum Huntara HUT Humaspolri ke 74 HUT80Brimob Hutan IKW IKWRI IlegalFishing IlegalMinning IllegalLogging Indonesia Indonesia. indonesiamaju infrastruktur Intan jaya Internasional irigasi Islam Islami Jakarta Jakarta Selatan JalanLembahAnaiPutus JalanLongsor JalanRetak Jambi Jawa Tengah Jayapura Jayawijaya JembatanPutus JembatanRetak Jogyakarta jurnalis JusufKalla K9 Kabupaten Agam kabupaten dharmasraya Kabupaten Solok KabupatenAgam KabupatenDharmasraya KabupatenPasamanBarat KabupatenPesisirSelatan kabupatenSolokSelatan KafeKaraoke KAI Sumbar Kakorlantas kakorlantaspolri kapolres kapolressijunjung Kapolri KarangTaruna kasat narkoba KasusMedis keamanan kebakaran KebakaranPasarPayamumbuh KebatanGunungNagoPutus kecamatankototangah kecelakaan kegiatanrutin KejariDharmasraya kejaripadang kejaripesel kekerasan kelangkaanBBM kelangkaansolar Kemenag Kemenhut Kemenkes Kementrian PU kementriankebudayaan KementrianLingkunganHidup KemuliaanBulanRajab kendaraan KeracunanMakanan Kesehatan keselamatan bersama keselamatan kerja kesiapsiagaan kesunyian malam ketertiban umum KetertibanUmum Kiwirok KKB KLHK Kodim 0307 Tanah Datar KomnasHAM komplotanganjalATM KorbanBanjirAgam KorbanBrncanaAgam Korem 032/WB Korpolairud korupsi Kota Padang KotaPadang KotaPariaman KPK Kriminal KRYD KUHP KumpulanDo'a Laksamanamuda Lampung LembahAnai Lembang Leonardy LGBT life style lifestyle Lima Puluh Kota LimaPuluhKota lingkungan listrikilegal literasi lombok timur Longsor LongsorKampusUINImambonjol LowonganKerjaPalsu Madiun Magelang MahardikaMudaIndonesia MahyeldiAnsharullah Makan Bergizi Gratis Makasar Malalak MalPraktek ManfaatAirKelapa manila MapolsekMuaraBatangGadisDibakarMasaa MataElang Medan MengelolaAirUntukNegri mentalhealth Mentawai Mesum Mimika Miras MirasIlegal MobilBencanaDibakarMassa MobilPatwalPoldaSumbarKecelakaan MobilSatpolPPAcehDibakarMassa MogokKerja MTsN10pesisirselatan Muhammadiyah mutilasibayi nagarisolokambah nagarisulitair narkoba Narkotika Nasioanl Nasional ngaraisianok NinjaSawit NTT odgj OknumGuruLGBT Oksibil olahraga Opini OprasiLilinSinggalang2025 oprasimalam oprasitumpasbandar2025 oprasizebra2025 oprasizebrasinggalang2025 OrangHanyut OTTKPK PADA Padang Padang panjang Padang Pariaman PadangAman PadangPariaman PadangRancak PadangSigap Pahlawannasional pajak air tanah Palimanan pandekarancak pantaipadang Papua parenting Pariaman Parlemen Pasaman Pasaman barat pasamanbarat pasang pasarrayapadang Pasuruan Payakumbuh PDAM PeduliBencana Pekanbaru Pelalawan pelayananhumanis pelayanansosial PelemikBantuanAsing PemakamanMasalKorbanBencanaSumbar PembabatanHutan PembalakanHutanMentawai pembalakanLiar Pembunuhan pemerasan Pemko Padang PemkoPadang PemulihanBencana PemutihanPajakKendaraan pencabulan PencarianKorbanBanjirPadang Pencirian PenculikanAnak Pencurian Pendidikan penegakanhukum penemuanbayi penemuanJanin PenemuanJasadBayo penemuanmayat Penertiban Pengancaman pengangguran penganiayaan Pengeroyokan Penggelapan Penjarahan Perbankan Perceraian Perdagangan peristiwa peristiwadaerah perlindungananak Persami PersijaJakarta pertahanan PerumdaAirMinum Pesisir Selatan PesisirSelatan Peti PJN PKL PolaMakan PolantasMenyapa Polda banten Polda Jabar Polda Kalbar Polda Metro Jaya polda Papua POLDA SulBar POLDA SUMBAR PoldaRiau Poldasumbar PoldaSumut Polhut Policegoestoscool Polisi Politik polPP polres Polres 50 kota Polres Dharmasraya Polres Mentawai Polres Padang panjang Polres Pasaman Polres Pasaman Barat Polres Solok Polres solok selatan PolresPadang polrespasaman polrespasamanbarat polrespasbar PolresPayakumbuh polrespesel PolresSolokKota polresSolokSelatan Polresta bukittinggi Polresta Padang PolresTanahDatar polrestapadang POLRI PolriPresisi Polsek bungus barat Polsek Koto Tangah Padang Polsek Lubeg Pontianak PrabowoSubianto PrajuritTNITewas PrediksiCuaca premanisme Presiden RI PrestaPadang psp padang Ptostitusi PuanMaharani Puncak jaya Purwakarta jawabarat QuickWins Razia RekeningDormant Religi RevisiKUHP Riau RidwanKamil RokokIlegal sabu Sajam SakitPerut Sarkel SatgasDamaiCartenz satgasoprasidamai satlantaspolresta SatpolPP SatpolPPAceh Sawahlunto Sawmil SeaGamen2025 segmen sianok seherman SekolahRakyat Semarang semenpadang SemenPadangFC Senjatatajam sepakbola sepakbolaindonesia SepakBolaWanita Serang ServisKendaraanGratisKorbanBanjirAgam SiagaBencana SigapMembangunNegriUntukRakyat Sijunjung sikat singgalang2025 silent treatment simulasibencana Sinkhole siswismptewassaathiking sitinjaulauik Skoliosis SMA1pulaupunjung sobatlalulintasrancakbana solok Solok selatan solokarosuka solokselatan solsel Sosialisasi SPBUganting SPPG STNK Strongpoint subsidi ilegal sukabumi Sulawesi Tenggara Sumatera Barat SumateraBarat Sumaterbarat Sumatra barat Sumbar SungaiKuranji Surabaya swasembadapangan TambangEmasIlegal tambangilegal TambangIlegalSumbar Tanah datar tanahdatar tanggapdarurat TanggapDaruratBencana tawuran TawuranNarkoba Terbaru Ternate Timika Papua timklewang TimnasIndonesiaU22 TimnasWanitaIndonesia TNI TPUTunggulHitam Transformasi polri transpadang transportasi TrukTerbakar tsunamiDrill Tuak Uin UIN IB Padang UpadateKorbanBencanaSumatera UpdateKorbanBanjirSumatera UpdateKorbanBencanaAlam UpdateKorbanBencanaSumatera Utama UUMD3 Viral Yalimo Yogyakarta Yuhukimo
Tampilkan postingan dengan label BanjirPadang. Tampilkan semua postingan

 

Serasinews.com, Padang – Sungai-sungai di Kota Padang tak lagi mengalir seperti dulu. Setelah rangkaian banjir dan longsor, alur air berubah arah, melebar, dan perlahan mendekati permukiman warga. Ancaman itu kini nyata, berdiri hanya beberapa langkah dari pintu rumah.

Hujan deras yang mengguyur Padang pada Jumat, 2 Januari 2026, menjadi penanda bahaya yang kian mendesak. Debit air meningkat tajam, tebing sungai tergerus, dan jarak aman yang selama ini diandalkan warga hilang dalam waktu singkat.

Dari Jarak Aman ke Zona Bahaya

Di Lubuk Minturun (Lumin), warga menyaksikan sendiri bagaimana sungai “berpindah tempat”. Sismi Aulia menyebut, aliran sungai yang dahulu berjarak sekitar 20 meter dari rumah kini tinggal sekitar 5 meter. Lebih mengkhawatirkan, arah alirannya tak lagi lurus, melainkan membelok ke kawasan permukiman.

“Sekarang sungainya seperti mengincar rumah kami. Setiap hujan deras, kami selalu waspada. Tidur pun tidak pernah tenang,” katanya.

Sekitar 40 hingga 50 kepala keluarga berada dalam kondisi rawan. Beberapa rumah yang berdiri dekat tebing sungai mengalami runtuhan tanah sedikit demi sedikit. Warga mengaku sudah menyampaikan keluhan ke pihak kelurahan, namun upaya nyata seperti pembangunan DAM atau pemasangan bronjong belum kunjung dilakukan.

Ketika Bendera Putih Menjadi Tanda Bahaya

Situasi lebih genting terjadi di Griya Permata II Banda Gadang. Di kawasan ini, warga mengibarkan bendera putih di depan rumah—bukan sebagai simbol menyerah, melainkan sebagai sinyal darurat.

Syarifah, salah seorang warga, mengatakan perubahan aliran sungai telah membawa bencana langsung. Saat hujan deras mengguyur, sedikitnya 10 rumah hanyut, dua rumah rusak berat, dan akses jalan amblas.

“Sungai sekarang sudah sampai ke depan rumah. Kami benar-benar takut. Rumah saya juga bisa hanyut kapan saja,” ujarnya.

Trauma pascabencana membuat warga belum sempat mengurus laporan resmi. Banyak yang masih berusaha memulihkan diri, sembari dihantui kekhawatiran akan hujan berikutnya.

“Kami hanya berharap ada bantuan cepat. Kalau hujan besar datang lagi, kami tidak punya tempat aman,” tuturnya.

Dampak Kerusakan Alam dan Tata Ruang

Pengamat lingkungan Indang Dewata menilai kondisi ini merupakan akumulasi dari kerusakan hulu sungai dan lemahnya penataan ruang. Material banjir seperti kayu, lumpur, dan pasir menyebabkan pendangkalan sungai, sehingga air meluap dan mencari jalur terdekat—yang sering kali adalah kawasan permukiman.

Ia mengingatkan bahwa aturan sempadan sungai sejatinya melarang pembangunan dalam radius 30 hingga 50 meter dari aliran sungai. Selain itu, kawasan hulu harus dijaga dari pembalakan dan alih fungsi lahan, sementara di hilir diperlukan infrastruktur pengendali banjir dan ruang terbuka hijau.

Tanpa langkah cepat dan tegas, perubahan aliran sungai ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan sinyal krisis lingkungan yang lebih besar—di mana warga Kota Padang dipaksa hidup berdampingan dengan ancaman yang terus bergerak mendekat.

(Rini

#BanjirPadang #Padang #Petistiwa


 

Serasinews.com, Padang — Banjir mendadak melanda kawasan permukiman di Jalan DPR Ujung, Gang Babussalam 6, Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Jumat (2/1/2026). Hujan lebat yang turun sejak dini hari menyebabkan saluran drainase tak mampu menampung debit air, sehingga luapan air menggenangi rumah warga.

Air naik dengan cepat dan disertai arus cukup kuat. Warga yang tinggal di kawasan padat penduduk tersebut tak sempat menyelamatkan barang-barang, bahkan sebagian di antaranya terjebak di dalam rumah. Ketinggian air dilaporkan mencapai lutut hingga pinggang orang dewasa.

Situasi darurat ini membuat warga panik, terutama karena anak-anak dan lansia tidak mampu mengevakuasi diri secara mandiri. Beberapa keluarga memilih bertahan sambil menunggu bantuan datang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang menerima laporan kejadian pada siang hari dan langsung menurunkan Tim Reaksi Cepat ke lokasi sekitar pukul 15.30 WIB. Proses evakuasi dilakukan menggunakan perahu karet karena sejumlah rumah telah terendam cukup dalam.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, mengatakan fokus utama penanganan adalah penyelamatan warga rentan. Petugas menyisir permukiman satu per satu untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal di tengah banjir.

“Evakuasi kami lakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian karena arus air cukup deras,” kata Hendri.

Sebanyak delapan warga berhasil dievakuasi dengan selamat, terdiri dari dua orang dewasa dan enam lainnya anak-anak. Anak-anak dievakuasi dengan cara digendong, sementara warga dewasa dibantu naik ke perahu karet.

Seluruh korban kemudian diungsikan ke Masjid Al-Manar yang berada di lokasi lebih tinggi dan aman dari genangan. Di tempat tersebut, warga mendapat pendampingan awal serta kebutuhan dasar dari petugas dan relawan.

Penanganan banjir melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD, perangkat kecamatan dan kelurahan, BKO Satpol PP, Kelompok Siaga Bencana, hingga masyarakat setempat yang turut membantu proses evakuasi dan pengamanan lingkungan.

Hingga Jumat sore, BPBD masih melakukan pendataan dampak dan kerugian akibat banjir. Warga diminta tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat kondisi cuaca di Kota Padang masih berpeluang hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi.

(Rini/Mond) 

#BanjirPadang #Peristiwa #Padang


 

Serasinews.com, Padang — Banjir kembali melanda kawasan Pasar Lalang Guo, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Jumat sore (2/1), akibat meluapnya Sungai Batang Kuranji setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak Kamis malam. Puluhan personel Polresta Padang dikerahkan untuk mengevakuasi warga yang terjebak banjir.

Evakuasi dipimpin Kepala Satuan Reserse Narkoba Polresta Padang, AKP Martadius, bersama personel gabungan dari sejumlah satuan. Dengan peralatan seadanya, petugas menerobos genangan air demi mengevakuasi warga yang masih berada di rumah dan area pasar yang terendam.

Luapan sungai menyebabkan rumah warga serta kawasan pasar terendam air dengan ketinggian bervariasi, mulai dari setinggi lutut hingga pinggang orang dewasa. Akibatnya, aktivitas warga lumpuh dan sebagian terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Petugas memprioritaskan penyelamatan anak-anak, lansia, dan perempuan yang kesulitan menyelamatkan diri akibat derasnya arus air. Sejumlah warga hanya mampu menyelamatkan barang seperlunya, sementara petugas turut membantu mengamankan dokumen penting dan barang berharga milik warga.

Kapolresta Padang, Kombes Pol Apri Wibowo, menyatakan pihaknya langsung bergerak cepat setelah menerima laporan adanya warga yang terjebak banjir akibat meluapnya sungai.

“Keselamatan warga adalah prioritas utama kami. Begitu menerima laporan, personel langsung kami terjunkan untuk melakukan evakuasi, terutama terhadap kelompok rentan,” ujarnya.

Selain evakuasi, kepolisian juga melakukan pengamanan di lokasi banjir serta pengaturan arus lalu lintas guna mencegah kemacetan dan kecelakaan akibat genangan air di jalan.

Warga setempat menilai banjir kali ini cukup parah karena debit air sungai naik secara tiba-tiba setelah hujan deras berlangsung selama berjam-jam. Beberapa warga mengaku tidak sempat menyelamatkan barang-barang karena air dengan cepat masuk ke rumah.

Kapolresta Padang mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di bantaran sungai dan wilayah rawan banjir, agar tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat curah hujan masih tinggi.

Hingga Jumat malam, personel Polresta Padang masih bersiaga di lokasi untuk memastikan seluruh warga telah dievakuasi dan mengantisipasi kemungkinan luapan sungai kembali terjadi.

(Rini/Mond)
#Polri #Peristiwa #BanjirPadang #Daerah
#Padang

 

Serasinews.com, Padang — Curah hujan sedang hingga lebat yang mengguyur Kota Padang sejak Kamis malam hingga Jumat dini hari (2/1/2026) mengakibatkan terjadinya jalan amblas di kawasan Batu Busuk, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 01.45 WIB dan menyebabkan akses transportasi warga setempat terputus total.

Dari hasil pemantauan di lokasi, bagian jalan yang amblas diperkirakan sepanjang 15 meter. Kerusakan terlihat cukup parah karena badan jalan runtuh ke arah sungai, sehingga tidak memungkinkan untuk dilalui baik oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, menyampaikan bahwa kejadian ini dipicu oleh tingginya curah hujan yang berlangsung dalam waktu lama. Kondisi tersebut menyebabkan debit Sungai Batu Busuk meningkat dan menggerus tanah di sekitar struktur jalan.

“Curah hujan yang cukup tinggi sejak malam hari membuat debit sungai naik drastis. Struktur tanah di sekitar jalan menjadi labil dan tidak mampu menahan beban, sehingga terjadi amblas,” jelas Hendri.

Usai kejadian, BPBD Kota Padang bersama Babinsa, relawan Rumah Zakat, serta warga setempat segera turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan awal, mengamankan area, dan memasang rambu peringatan agar tidak dilalui masyarakat.

Hingga Jumat pagi, petugas masih melakukan pemantauan secara intensif. Hujan yang masih turun dikhawatirkan dapat memperburuk kondisi tanah dan memicu longsor susulan di sepanjang aliran sungai.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka, kejadian ini berdampak besar terhadap mobilitas warga. Jalan yang amblas merupakan akses utama masyarakat Batu Busuk menuju pusat kota dan wilayah sekitarnya. Akibat terputusnya jalur tersebut, warga terpaksa menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh dan memakan waktu tempuh lebih lama.

BPBD Kota Padang mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar Sungai Batu Busuk, untuk tetap waspada dan menjauhi lokasi kejadian demi keselamatan. Masyarakat juga diminta segera melapor apabila menemukan tanda-tanda bahaya seperti retakan tanah, pergeseran bangunan, atau peningkatan debit air sungai secara tiba-tiba.

Saat ini, BPBD masih berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan kajian teknis serta merencanakan langkah penanganan lanjutan agar akses jalan dapat segera dipulihkan.

(Rini/Mond

#Peristiwa #BanjirPadang #Padang

#Daerah


 

Serasinews.com, Padang — Aksi solidaritas kembali ditunjukkan oleh pemuda Karang Taruna Kecamatan Lubuk Begalung (KT Lubeg) melalui program Lubeg Peduli. Kali ini, kegiatan kemanusiaan tersebut dipusatkan di Kelurahan Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, salah satu wilayah di Kota Padang yang terdampak cukup parah akibat banjir bandang.

Kegiatan ini merupakan pelaksanaan Lubeg Peduli yang kedua, setelah sebelumnya digelar di Kecamatan Pauh. Dengan mengusung semangat gotong royong, para pemuda KT Lubeg turun langsung ke lapangan untuk membantu warga terdampak, baik melalui penyaluran bantuan maupun aksi sosial secara langsung.

Sejak Sabtu (27/12/2025) pagi, relawan KT Lubeg telah memulai berbagai kegiatan, di antaranya mendirikan dapur umum guna memenuhi kebutuhan konsumsi warga. Selain itu, bantuan perlengkapan sekolah juga disalurkan kepada anak-anak yang peralatan belajarnya rusak akibat banjir.

Tak hanya fokus pada bantuan logistik, KT Lubeg juga melakukan pembersihan lumpur sisa banjir, gotong royong membersihkan lingkungan, serta membantu perbaikan rumah warga yang mengalami kerusakan. Aksi tersebut menjadi wujud nyata kepedulian pemuda terhadap kondisi masyarakat pascabencana.

Perhatian khusus diberikan kepada anak-anak melalui kegiatan trauma healing. Dengan pendekatan permainan dan edukasi sederhana, relawan berupaya mengurangi trauma serta mengembalikan semangat dan keceriaan anak-anak korban banjir.

Ketua Karang Taruna Kecamatan Lubuk Begalung, Zalman Effendi, menyampaikan bahwa kegiatan Lubeg Peduli merupakan bentuk tanggung jawab sosial pemuda untuk hadir membantu masyarakat di saat sulit.

“Alhamdulillah, ini merupakan kegiatan Lubeg Peduli yang kedua. Terima kasih kepada seluruh pengurus dan relawan yang telah mempersiapkan kegiatan ini. Semoga apa yang kami lakukan dapat sedikit meringankan beban masyarakat yang terdampak banjir bandang,” ujarnya.

Kegiatan ini terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak, di antaranya Karang Taruna Kecamatan Nanggalo, Dubalang, serta PKH Lubeg, yang bersama-sama memastikan kegiatan berjalan dengan lancar dan tepat sasaran.

Dukungan juga datang dari Karang Taruna tingkat provinsi dan kota. Ketua Karang Taruna Provinsi Sumatera Barat, Mahdianur, dan Ketua Karang Taruna Kota Padang, Zalmadi, turut hadir serta memberikan apresiasi atas inisiatif sosial yang dilakukan KT Lubeg.

Dalam kesempatan tersebut, Zalmadi juga menyampaikan terima kasih kepada para donatur yang telah mendukung kegiatan ini, termasuk komunitas Habitat Mountaineering Semarang, Pemerintah Desa, Karang Taruna Urip Rahayu, masyarakat Desa Montong Gamang Kecamatan Kopang Lombok Tengah NTB, serta donatur lainnya.

Melalui program Lubeg Peduli, Karang Taruna Kecamatan Lubuk Begalung kembali menegaskan perannya sebagai bagian dari garda terdepan pemuda dalam aksi kemanusiaan. Kehadiran mereka di tengah masyarakat terdampak menjadi bukti bahwa solidaritas dan kepedulian tetap hidup di tengah bencana.

(Rini/Mond)

#BanjirPadang #KarangTaruna


 

Serasinews.com, Padang — Jejak banjir bandang masih terlihat jelas di Perumahan Griya Pratama, RT 07 RW 01, Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang. Lumpur kering menempel di dinding rumah warga, sementara aroma sisa genangan belum sepenuhnya sirna. Namun di balik sisa-sisa bencana itu, semangat kebersamaan mulai tumbuh kembali.

Rabu (24/12), personel Satgas Penanggulangan Bencana Alam (Gulbencal) Yonif 133/Yudha Sakti turun langsung membantu warga melalui kegiatan karya bakti pembersihan lingkungan pascabanjir. Kehadiran prajurit TNI ini menjadi bukti nyata kepedulian negara terhadap masyarakat yang tengah berjuang memulihkan kehidupan mereka.

Sejak pagi, prajurit berseragam loreng menyusuri gang-gang perumahan. Lumpur tebal diangkat dari lantai rumah, kayu dan puing yang terbawa arus deras dipindahkan, serta saluran air dan fasilitas umum dibersihkan dari tumpukan sampah. Meski seragam mereka basah dan kotor oleh lumpur, semangat pengabdian tetap terpancar.

Kegiatan ini berlangsung dalam suasana gotong royong. Warga setempat turut ambil bagian—ibu-ibu menyiapkan air minum, para bapak membantu mengangkut material, sementara anak-anak menyaksikan dengan wajah ceria. Kebersamaan itu menghadirkan rasa aman dan harapan baru setelah bencana melanda.

“Melihat tentara turun langsung membantu seperti ini, kami merasa tidak sendirian,” ungkap salah seorang warga dengan suara bergetar. Banjir bandang tak hanya merusak rumah, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi para korban.

Komandan lapangan, Letda Inf Riki Yosda dari Satgas Gulbencal Yonif 133/Yudha Sakti, menjelaskan bahwa kegiatan pembersihan akan terus dilakukan hingga lingkungan benar-benar pulih dan layak huni.

“Kami akan terus membantu sampai kondisi lingkungan kembali normal. Harapannya, aktivitas warga dapat berjalan seperti sediakala dan beban masyarakat terdampak bisa berkurang,” ujarnya.

Ia menambahkan, karya bakti ini bertujuan mempercepat normalisasi lingkungan sekaligus mencegah timbulnya penyakit pascabanjir. Lingkungan yang bersih menjadi kunci penting dalam memulihkan kehidupan sosial dan ekonomi warga.

Lebih dari sekadar membersihkan lumpur dan puing, kehadiran prajurit Yonif 133/Yudha Sakti memberikan dukungan moril bagi masyarakat Banda Gadang. Di tengah keterbatasan, sinergi antara TNI dan warga menjadi kekuatan untuk bangkit bersama.

Di Perumahan Griya Pratama, karya bakti hari itu menjadi simbol solidaritas dan kemanusiaan—bahwa di balik bencana selalu ada tangan-tangan yang siap menolong, serta harapan untuk memulai kembali kehidupan yang lebih baik.

(Rini/Mond)

#TNI #Padang #BanjirPadang


 

Serasinews.com, Padang — Status Tanggap Darurat Bencana di Kota Padang resmi berakhir pada Senin, 22 Desember 2025. Selanjutnya, mulai 23 Desember 2025, pemerintah daerah menetapkan masa transisi pascabencana sebagai tahapan awal pemulihan menuju rehabilitasi dan rekonstruksi.

Penetapan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, dalam Rapat Koordinasi Evaluasi Akhir Tanggap Darurat Bencana yang melibatkan pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, serta pemerintah kabupaten/kota se-Sumbar. Rapat dilaksanakan secara daring dari Rumah Dinas Wali Kota Padang.

Maigus menjelaskan, hingga berakhirnya masa tanggap darurat, masih terdapat dua korban yang dinyatakan hilang. Sementara 11 korban lainnya telah ditemukan. Setelah melalui evaluasi dan musyawarah bersama keluarga korban, pemerintah memutuskan menghentikan operasi pencarian resmi terhitung sejak 22 Desember 2025.

“Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, keterbatasan teknis, serta permintaan dan keikhlasan keluarga korban,” ujarnya.

658 KK Masih Terdampak

Memasuki masa transisi, persoalan pengungsian masih menjadi fokus utama. Data Pemko Padang mencatat 658 kepala keluarga masih terdampak bencana.

Dari jumlah tersebut, 93 KK dengan 365 jiwa menempati Hunian Sementara (Huntara) yang disediakan pemerintah. Sementara warga lainnya menjalani hunian sementara secara mandiri dengan menumpang di rumah keluarga atau menyewa tempat tinggal.

Pemko Padang berharap adanya dukungan dana tunggu hunian guna meringankan beban ekonomi warga selama masa transisi.

Hunian Tetap Disiapkan

Untuk solusi jangka panjang, pemerintah kota telah menyiapkan lahan seluas 3 hektare untuk pembangunan hunian tetap (Huntap). Lahan tersebut berada di dua lokasi, yakni belakang Pasar Simpang Haru dan kawasan Bumi Perkemahan.

Pemko Padang berharap pemerintah pusat dapat memfasilitasi pembangunan hunian tetap tersebut agar warga terdampak dapat segera kembali menjalani kehidupan secara normal.

Infrastruktur dan Pertanian Terdampak

Bencana juga mengakibatkan kerusakan signifikan pada infrastruktur dan sektor ekonomi. Rusaknya jaringan irigasi membuat 4.140 hektare sawah tidak dapat difungsikan, berdampak langsung pada sektor pertanian.

Selain itu, tercatat sembilan jembatan mengalami kerusakan dengan tingkat sedang hingga berat. Sejumlah bangunan sekolah juga dilaporkan rusak berat dan membutuhkan penanganan segera.

Fokus Pemulihan Pascabencana

Pemerintah Kota Padang menegaskan bahwa masa transisi pascabencana akan difokuskan pada penanganan pengungsi, pemulihan ekonomi masyarakat, serta perbaikan infrastruktur dasar. Koordinasi lintas pemerintah terus diperkuat agar proses pemulihan berjalan terpadu dan berkelanjutan.

Masa transisi ini diharapkan menjadi langkah awal bagi masyarakat Padang untuk bangkit dan menata kembali kehidupan pascabencana.

(Rini/Mond)

#BanjirPadang #Padang

 

Serasinews.com, Padang — Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla (JK) turun langsung ke lokasi banjir di Kelurahan Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu (20/12/2025). Di tengah upaya pembersihan yang masih berlangsung, JK menegaskan bahwa penanganan pasca banjir harus dilakukan cepat, menyeluruh, dan tidak boleh ditunda.

JK menyoroti banyaknya kayu besar yang menumpuk di sungai sebagai faktor utama yang memperparah banjir. Material tersebut terbawa dari wilayah hulu, menyumbat aliran air, dan meningkatkan daya rusak saat debit sungai naik.

“Kerusakan yang terjadi cukup serius. Salah satu penyebabnya adalah kayu-kayu dari atas yang masuk ke sungai akibat kerusakan lingkungan. Ini harus segera ditangani sekarang, bukan nanti,” kata JK.

Menurutnya, banjir yang berulang tidak bisa hanya dikaitkan dengan hujan deras.

 Kerusakan lingkungan di daerah hulu, termasuk pengelolaan hutan yang tidak terkendali, menjadi persoalan mendasar yang harus dibenahi agar bencana serupa tidak terus terulang.

JK juga mendorong agar kayu-kayu sisa banjir tidak sekadar dibersihkan, tetapi dikelola dengan baik dan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Ia menilai, material tersebut masih memiliki nilai guna jika ditangani secara terorganisir.

“Kayu ini jangan dianggap sampah. Potong, angkut, dan manfaatkan yang masih bisa dipakai. Bisa untuk bahan rumah, perabot, atau kebutuhan lainnya,” ujarnya.

Selain itu, JK menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah daerah, warga, relawan, dan lembaga kemanusiaan dalam proses pemulihan. Ia mengingatkan bahwa pembersihan sungai harus disertai perencanaan jangka panjang dan perbaikan sistem pengelolaan lingkungan.

“Kalau hanya membersihkan tanpa memperbaiki sistemnya, banjir akan datang lagi. Ini harus jadi titik awal perbaikan,” tegasnya.

Melalui kunjungan tersebut, JK berharap musibah banjir di Padang menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga lingkungan dan memperkuat mitigasi bencana demi keselamatan masyarakat ke depan.


(Rini/Mond)

#JusufKalla #BanjirPadang #Padang

 

Serasinews.com, Padang –
Di antara lumpur yang masih melekat, rumah-rumah yang rusak, dan trauma yang belum sepenuhnya pulih, sebuah pemandangan tak biasa muncul di Kota Padang. Kepulan asap dari wajan raksasa perlahan membubung ke udara, bukan membawa kabar duka, melainkan aroma masakan hangat yang menandai hadirnya harapan dan kepedulian.

YouTuber sekaligus food vlogger nasional Mr. Bobon Santoso berkolaborasi dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) menggelar aksi masak besar selama tiga hari untuk membantu warga terdampak banjir bandang. Kegiatan ini bukan sekadar membagikan makanan, tetapi juga menjadi ruang trauma healing dan penguat semangat bagi ribuan korban bencana.

Ribuan Porsi Makanan Setiap Hari

Aksi kemanusiaan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat (19/12/2025) hingga Minggu (21/12/2025), dengan kapasitas mencapai 10.000 porsi makanan per hari. Fokus distribusi ditujukan kepada warga Kelurahan Lubuk Minturun dan Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto (KPIK), dua wilayah yang mengalami dampak terparah akibat banjir bandang.

Dapur darurat didirikan di Kampung Apa, Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto, yang menjadi pusat aktivitas masak besar. Setiap harinya, proses memasak dilakukan dua kali, yakni:

Pukul 09.00 WIB untuk makan siang

Pukul 15.00 WIB untuk makan malam

Ratusan relawan, personel TNI, serta warga setempat bergotong royong menyiapkan bahan makanan dalam jumlah besar, memastikan setiap porsi dapat dinikmati oleh mereka yang membutuhkan.

Sajian Besar dengan Rasa Kepedulian

Hari pertama, Jumat (19/12/2025), dibuka dengan menu yang menghangatkan:

Makan siang: Ayam kecap sebanyak 600 kilogram dan nasi 100 kilogram

Makan malam: Bakso ikan 300 kilogram dengan nasi 100 kilogram

Aroma masakan dari kuali raksasa menyebar ke penjuru kampung, menghadirkan senyum dan keceriaan, terutama bagi anak-anak yang sebelumnya akrab dengan suasana pengungsian.

Pada Sabtu (20/12/2025), menu yang disajikan berganti:

Makan siang: Nugget dan nasi

Makan malam: Udang asam manis dan nasi

Sementara pada hari terakhir, Minggu (21/12/2025):

Makan siang: Bakso sapi dan nasi

Makan malam: Tumis kembang kol dan brokoli lengkap dengan nasi

Seluruh makanan dibagikan langsung kepada warga terdampak. Apabila persediaan mencukupi, distribusi juga diperluas ke wilayah lain seperti Batu Busuak dan Surau Gadang.

Mengobati Luka, Menguatkan Hati

Bagi warga, sepiring nasi hangat lebih dari sekadar pengisi perut. Ia menjadi simbol perhatian dan bukti bahwa mereka tidak sendirian menghadapi musibah.

“Setelah banjir, rasanya kami kehilangan segalanya. Tapi hari ini, kami merasa masih ada yang peduli,” ungkap salah seorang warga dengan mata berkaca-kaca.

Kehadiran Mr. Bobon yang terjun langsung ke dapur, mengaduk masakan di wajan raksasa, serta bercengkerama dengan warga menciptakan suasana akrab dan hangat. Pendekatan inilah yang menjadikan masak besar ini sebagai bagian dari pemulihan psikologis bagi korban bencana.

Di Balik Aksi Kemanusiaan

Mr. Bobon Santoso, atau Junaidi Santoso, dikenal luas melalui konten big cooking di kanal YouTube miliknya. Lebih dari sekadar kreator konten, ia merupakan food vlogger dan pengusaha kuliner yang aktif terlibat dalam berbagai aksi sosial dan kemanusiaan di berbagai daerah terdampak bencana.

Melalui keahlian memasak dan popularitasnya, ia terus berupaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang sedang tertimpa musibah.

Solidaritas yang Tak Pernah Padam

Aksi masak besar ini diharapkan mampu meringankan beban warga, memulihkan semangat kebersamaan, serta menghadirkan kebahagiaan sederhana di tengah keterbatasan.

Di antara sisa-sisa banjir dan kenangan pahit, suara sendok yang beradu dengan piring, tawa anak-anak, serta aroma masakan hangat menjadi pengingat bahwa kepedulian dan solidaritas masih hidup.

Dari wajan raksasa di Padang, tersampaikan satu pesan kuat:
bencana boleh merenggut harta, tetapi tidak akan pernah memadamkan rasa kemanusiaan.

(Rini/Mond)
#BanjirPadang #Padang #BobonSantoso

 

Serasinews.com, Padang — Pemerintah Kota Padang kembali menetapkan perpanjangan Status Tanggap Darurat Bencana Banjir dan Longsor menyusul kondisi pascabencana yang masih memerlukan penanganan intensif. Perpanjangan kedua ini berlaku selama 16 hingga 22 Desember 2025.

Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Wali Kota Padang Nomor 842 Tahun 2025, yang ditandatangani oleh Wali Kota Padang, Fadly Amran. Pemerintah daerah menilai bahwa sejumlah dampak bencana hidrometeorologi masih dirasakan masyarakat, sehingga langkah darurat tetap diperlukan.

Beberapa wilayah dilaporkan masih mengalami kerusakan infrastruktur, keterbatasan akses transportasi, serta belum terpenuhinya kebutuhan dasar warga terdampak. Kondisi ini mendorong Pemko Padang untuk melanjutkan status tanggap darurat guna memastikan penanganan berjalan cepat dan terkoordinasi.

Selama masa perpanjangan, penanganan difokuskan pada lima aspek utama, yakni pencarian dan evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, penyediaan tempat penampungan sementara, perlindungan kelompok rentan, serta pemulihan darurat sarana dan prasarana vital.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, balita, dan penyandang disabilitas menjadi perhatian khusus, terutama terkait akses layanan kesehatan, pemenuhan gizi, dan perlindungan sosial. Di sisi lain, perbaikan sementara infrastruktur penting seperti jalan, jembatan, jaringan listrik, dan fasilitas umum terus diupayakan agar aktivitas warga dapat kembali berjalan.

Pelaksanaan tanggap darurat dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari perangkat daerah, BPBD, TNI-Polri, relawan, hingga organisasi kemanusiaan. Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu mempercepat proses pemulihan sekaligus mengantisipasi potensi bencana susulan.

Untuk mendukung seluruh kegiatan tersebut, pembiayaan dibebankan pada APBD Kota Padang Tahun 2025, serta dapat bersumber dari dana lain yang sah dan tidak mengikat sesuai ketentuan yang berlaku.

Perpanjangan status ini mencerminkan komitmen Pemko Padang dalam mengedepankan keselamatan masyarakat serta memastikan penanganan bencana dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan hingga kondisi dinyatakan aman.

(Rini/Mond)
#Padang #BanjirPadang #TanggapDarurat #BencanaHidrometeorologi

 


Serasinews.com, PADANG — Banjir bandang yang melanda Kota Padang pada 28 November 2025 meninggalkan dampak serius, tak hanya pada permukiman warga, tetapi juga pada dunia pendidikan. Ribuan anak kehilangan seragam, buku, dan perlengkapan sekolah, sehingga terancam tertinggal bahkan putus sekolah.

Menjawab kondisi tersebut, Pemerintah Kota Padang menyalurkan bantuan pendidikan kepada 1.229 siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) yang terdampak langsung bencana.

“Hari ini bantuan pendidikan bagi siswa dan guru terdampak banjir mulai disalurkan,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang melalui Sekretaris Dinas, Nurfitri, Senin (15/12/2025).

Berdasarkan data Dinas Pendidikan, sebanyak 589 siswa SD dan 640 siswa SMP kehilangan perlengkapan sekolah akibat terjangan banjir. Banyak di antara mereka terpaksa menunda kembali ke sekolah karena tidak lagi memiliki seragam dan alat belajar.

“Kehilangan seragam dan perlengkapan sekolah menjadi beban berat bagi keluarga korban. Karena itu Pemko hadir untuk memastikan anak-anak tetap bisa melanjutkan pendidikan,” ujar Nurfitri.

Bantuan yang disalurkan melalui dana Belanja Tidak Terduga (BTT) meliputi seragam Pramuka, tas sekolah, serta perlengkapan alat tulis. Selain itu, para siswa juga menerima seragam putih-merah dan putih-biru hasil dukungan Gapopin Sumatera Barat.

Tak hanya menyasar korban langsung, Pemko Padang juga menyalurkan bantuan alat tulis dalam rangka pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan kepada 6.348 siswa SD dan 4.034 siswa SMP di seluruh Kota Padang.

Perhatian juga diberikan kepada tenaga pendidik. Sebanyak 154 guru dan tenaga kependidikan yang terdampak banjir menerima uang duka sebesar Rp1 juta per orang, hasil donasi internal Dinas Pendidikan dan satuan pendidikan.

“Bantuan ini untuk membantu guru dan tenaga kependidikan yang rumahnya rusak atau hanyut akibat banjir,” jelas Nurfitri.

Seluruh bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Wali Kota Padang, Fadly Amran, di hunian sementara korban banjir bandang di Kecamatan Koto Tangah.

Melalui langkah ini, Pemerintah Kota Padang menegaskan komitmennya menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah situasi darurat. Di tengah pemulihan pascabencana, ruang kelas kembali dihidupkan sebagai tempat anak-anak Padang menata masa depan.

(Rini/Mond

#BanjirPadang #Padang

#Pendidikan


 

Serasinews.com, Padang — Hujan deras yang turun tanpa henti sejak Minggu siang, 14 Desember 2025, kembali membawa kekhawatiran bagi warga Kota Padang. Curah hujan tinggi menyebabkan banjir merendam sejumlah kawasan permukiman dan memaksa warga menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman.

Banjir dilaporkan terjadi di Kelurahan Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, serta Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh. Air yang meluap dengan cepat menggenangi rumah warga, memutus akses jalan, dan menyulitkan aktivitas masyarakat, terutama bagi anak-anak dan warga lanjut usia.

Di Gurun Laweh, tepatnya di RT 02 RW 02, genangan air mencapai setinggi lutut orang dewasa. Kondisi ini membuat warga tidak memiliki banyak waktu untuk menyelamatkan barang-barang mereka. Sebanyak 22 warga akhirnya dievakuasi ke SD Negeri 07 Gurun Laweh yang dijadikan lokasi pengungsian sementara.

Camat Nanggalo, Amrizal Rengganis, mengatakan pihaknya terus memantau kondisi wilayah terdampak dan memastikan seluruh warga berada dalam kondisi aman. Menurutnya, tim kecamatan masih bersiaga penuh karena hujan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Sementara itu, situasi serupa juga terjadi di kawasan Batu Busuk, Kecamatan Pauh. Hujan lebat di daerah perbukitan menyebabkan aliran sungai meluap dan mengancam rumah-rumah warga di sepanjang bantaran. Proses evakuasi dilakukan oleh tim gabungan dari BPBD Kota Padang, TNI, Polri, serta relawan kebencanaan.

Camat Pauh, Titin Masfetrin, menyampaikan bahwa evakuasi masih berlangsung dan warga terdampak telah diarahkan ke lokasi yang lebih aman. Meski medan cukup sulit dan hujan masih turun, petugas tetap berupaya mengevakuasi warga dengan penuh kehati-hatian.

Hingga Minggu malam, hujan masih mengguyur Kota Padang. Pemerintah daerah mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor, agar tetap waspada dan segera mengungsi apabila kondisi membahayakan.

Bagi warga terdampak, malam itu menjadi ujian ketangguhan, sembari berharap hujan segera berhenti dan situasi kembali normal.

(Rini/Mond)
#Peristiwa #BanjirPadang #Padang

 

Serasinews.com, Padang — Hujan deras yang mengguyur Kota Padang sejak Minggu siang, 14 Desember 2025, memicu banjir mendadak di Batu Busuk, Kecamatan Pauh. Air sungai yang meluap masuk ke pemukiman, menenggelamkan rumah warga hingga setinggi lutut orang dewasa dan membuat delapan penghuni terjebak.

Peristiwa paling menegangkan terjadi di sekitar Jembatan Baru Batu Busuk. Dua warga sempat hanyut terseret arus saat mencoba menyelamatkan diri, namun berhasil dievakuasi dan kini kondisinya stabil setelah mendapat perawatan medis. Enam warga lainnya terpaksa mengungsi karena rumah mereka tidak lagi aman.

Evakuasi melibatkan BPBD Kota Padang, Dinas Pemadam Kebakaran, BKO Pauh, perangkat kecamatan dan kelurahan, serta masyarakat setempat. Arus deras dan medan licin membuat proses penyelamatan berlangsung penuh risiko.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, total 15 warga berhasil dievakuasi dari kawasan rawan banjir, termasuk sembilan dewasa dan tiga remaja. Ia mengingatkan warga untuk menjauhi sungai dan segera mencari tempat aman bila debit air meningkat.

Kejadian ini menegaskan bahwa Batu Busuk dan Lambung Bukit masih menjadi wilayah rawan banjir saat hujan lebat. Warga diimbau tetap waspada, sementara pemerintah diminta memperkuat mitigasi agar kejadian serupa tidak terulang.

Di balik derasnya air, keselamatan jiwa tetap menjadi prioritas utama—pelajaran mahal dari alam yang tak boleh diabaikan.

(Rini/Mond)

#Peristiwa #BanjirPadang
#Padang

 

Serasinews.com,Padang — Pemerintah Kota Padang menyiapkan solusi jangka panjang bagi warga terdampak banjir dengan merencanakan pembangunan hunian tetap (Huntap). Saat ini, korban banjir masih menempati hunian sementara (Huntara) di Rumah Khusus, Kecamatan Koto Tangah, sambil menunggu realisasi pembangunan rumah permanen.

Untuk mendukung rencana tersebut, Pemko Padang telah menyiapkan sekitar 3,5 hektare lahan yang tersebar di tiga lokasi di Kecamatan Koto Tangah. Kawasan ini dipilih karena dinilai strategis sekaligus dekat dengan wilayah asal para korban banjir.

Kepala Dinas Pertanahan Kota Padang, Desmon Danus, mengatakan ketersediaan lahan menjadi modal awal agar pembangunan Huntap dapat segera dilaksanakan setelah adanya kepastian dukungan dari pemerintah pusat.

“Kami telah menyiapkan sekitar 3,5 hektare lahan di tiga lokasi yang berpotensi digunakan untuk hunian tetap korban banjir,” ujarnya, Sabtu (13/12/2025).

Tiga Lokasi yang Disiapkan

Adapun tiga lokasi yang dimaksud berada di Kecamatan Koto Tangah, yakni:

Bumi Perkemahan Air Dingin, Balai Gadang, dengan luas sekitar 2,98 hektare, merupakan aset milik Pemko Padang dan dinilai paling siap dikembangkan.

Kawasan Desaku Menanti, Air Dingin, Balai Gadang, memiliki total luas sekitar 2 hektare, namun sekitar 1,5 hektare telah dimanfaatkan untuk kantor Dinas Sosial dan perumahan.

Belakang Kantor Camat Koto Tangah, dengan luas sekitar 3.000 meter persegi, meski lebih kecil tetap menjadi salah satu opsi.

“Masing-masing lokasi memiliki kelebihan dan keterbatasan. Nantinya akan dipilih lokasi yang paling efektif dan layak,” jelas Desmon.

Menunggu Keputusan dan Dukungan Pusat

Meski lahan telah tersedia, pembangunan Huntap belum dapat dilakukan dalam waktu dekat. Pemko Padang masih menunggu arahan Wali Kota Padang serta kepastian dukungan dari pemerintah pusat, mengingat pembangunan hunian tetap umumnya melibatkan anggaran dan kebijakan nasional.

Pendataan Penerima Huntap

Selain kesiapan lahan, Pemko Padang juga tengah melakukan pendataan dan verifikasi calon penerima Huntap. Proses ini mencakup status kepemilikan rumah, tingkat kerusakan akibat banjir, serta kondisi sosial ekonomi warga terdampak.

“Pendataan penting agar bantuan benar-benar tepat sasaran,” tambah Desmon.

Target Pembangunan 4–5 Bulan

Jika persetujuan dari pemerintah pusat telah diperoleh, pembangunan Huntap diperkirakan akan memakan waktu empat hingga lima bulan. Hunian tersebut diharapkan menjadi tempat tinggal yang aman, layak, dan permanen bagi para korban banjir.

Pembangunan Huntap ini menjadi bagian dari upaya pemulihan pascabencana, tidak hanya menyediakan rumah, tetapi juga membantu memulihkan kehidupan sosial dan ekonomi warga terdampak agar dapat kembali hidup dengan lebih stabil dan bermartabat.

(Rini/Mond)
#BanjirPadang #Padang

 

Serasinews.com,Padang — Aktivitas di sejumlah posko pengungsian korban banjir bandang dan longsor di Kota Padang mulai berkurang. Jika dua pekan lalu tenda-tenda dipenuhi pengungsi, kini suasana tampak lebih lengang. Sebagian tikar telah digulung, dan beberapa keluarga mulai meninggalkan lokasi pengungsian.

Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Padang pada 28 November 2025 sempat memaksa ribuan warga mengungsi. Permukiman rusak, akses jalan terputus, dan warga harus bertahan di posko darurat dengan berbagai keterbatasan. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi perlahan membaik.

Berdasarkan data terbaru, jumlah pengungsi kini tersisa 262 orang. Angka tersebut menurun signifikan dibandingkan masa awal bencana.

“Sebanyak 262 jiwa masih berada di pengungsian,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, Sabtu (13/12/2025).

Penurunan jumlah pengungsi dipengaruhi oleh mulai ditempatinya hunian sementara (huntara) yang disiapkan Pemerintah Kota Padang. Puluhan unit huntara yang dibangun di Kampung Nelayan, Kecamatan Koto Tangah, telah dihuni oleh keluarga terdampak dengan kerusakan rumah berat.

“Sebagian pengungsi sudah pindah ke hunian sementara di Koto Tangah,” jelas Hendri.

Selain itu, sejumlah warga memilih tinggal sementara di rumah sanak saudara. Faktor kenyamanan dan dukungan keluarga menjadi pertimbangan utama bagi para korban untuk meninggalkan posko pengungsian.

Pemerintah Kota Padang memastikan akan terus memantau kebutuhan warga terdampak. Jika masih diperlukan, penambahan unit hunian sementara akan dilakukan sesuai permintaan dan kondisi di lapangan.

Meski jumlah pengungsi berkurang, proses pemulihan masih terus berjalan. Bagi ratusan warga yang masih bertahan di pengungsian, kepastian tempat tinggal dan masa depan menjadi harapan utama.

Pemko Padang menegaskan komitmennya untuk mendampingi warga hingga kehidupan kembali normal pascabencana.

(Rini/Mond)
#BanjirPadang # Padang

 

Serasinews.com,  Padang – Curah hujan tinggi yang mengguyur Kota Padang sejak dini hari Rabu (10/12/2025) membuat BPBD Kota Padang meningkatkan kewaspadaan. Debit air di sejumlah sungai utama menunjukkan tren naik, sehingga masyarakat diminta menghindari seluruh area bantaran sungai.

Hujan mulai turun sejak subuh dan hingga siang hari belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Intensitas hujan yang merata di hampir seluruh wilayah kota memicu potensi terjadinya luapan sungai, banjir bandang, dan longsor di daerah yang rentan.

“Kami mengimbau warga, terutama yang tinggal dekat sungai, untuk sementara menjauh dari bantaran. Keselamatan harus diutamakan,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton.

Titik-Titik Sungai Dipantau Ketat

BPBD melaporkan bahwa peningkatan debit terjadi di sebagian besar sungai besar di Kota Padang. Meski belum ada luapan besar yang menyebabkan kerusakan, kondisi saat ini dinilai dapat berubah cepat mengikuti intensitas hujan.

Beberapa wilayah bantaran sungai yang diminta dihindari warga antara lain:

Lubuk Minturun – Bungo Pasang

Gunung Nago

Sungai Kuranji

Batu Busuak

Batang Jirak, Lubuk Begalung

Serta beberapa anak sungai di daerah rawan

“Peningkatan debit masih dalam batas terkendali, tetapi kondisi ini sangat dinamis,” jelas Hendri.

Cuaca Ekstrem dan Risiko Kiriman Air

BPBD menyoroti potensi hujan deras di wilayah hulu sungai yang dapat menimbulkan kiriman air secara tiba-tiba. Namun pantauan saat ini menunjukkan hujan justru lebih lebat di wilayah pusat kota, yang tetap berpotensi mempercepat kenaikan debit secara signifikan.

Fenomena ini menandakan adanya anomali cuaca yang membuat wilayah dataran dan permukiman padat lebih terdampak dari biasanya.

BPBD Tetap Siaga, Warga Diminta Aktif Melapor

Seluruh personel BPBD berada dalam kondisi siaga penuh. Pemantauan dilakukan secara berkala di titik rawan longsor, jalur evakuasi, dan sepanjang aliran sungai.

Masyarakat diimbau agar:

Menghindari aktivitas di bantaran sungai

Tidak berada di jembatan kecil saat debit meningkat

Segera melapor jika menemukan kenaikan air yang tiba-tiba

Menyiapkan dokumen penting dan perlengkapan darurat

Hujan masih mengguyur sebagian besar wilayah Kota Padang hingga berita ini diturunkan. Awan pekat tetap menyelimuti kota, menandakan kondisi cuaca belum stabil.

“Kami terus mengawasi situasi di lapangan. Warga diminta tetap waspada dan tidak menurunkan kewaspadaan,” tutup Hendri.

(Rini/Mond)

#BanjirPadang #BPBDPadang
#Padang

 

Serasinews.com, Padang — Hamparan kayu gelondongan yang menguasai pesisir Pantai Padang pascabanjir bandang masih memunculkan pertanyaan besar: apakah kayu-kayu itu hanyut akibat derasnya arus dari hulu, atau justru menjadi jejak praktik illegal logging yang selama ini terpendam?

Untuk memastikan jawabannya, tim gabungan dari KSDA Sumbar, PKH, tim penerbitan kawasan hutan, Mabes Polri, hingga Polda telah turun melakukan penyelidikan. Kepala Balai KSDA Sumbar, Hartono, menegaskan bahwa kesimpulan baru akan ditetapkan setelah investigasi tuntas.

“Kami ingin benar-benar memastikan asal kayu ini, apakah dari hulu atau ada faktor lain,” ujar Hartono di Posko Penanggulangan Bencana Kemenhut, Selasa (9/12/2025).

Sampel Kayu Diuji di Laboratorium

Sejumlah sampel kayu dari titik berbeda di Pantai Padang kini tengah menjalani uji forensik kehutanan. Pemeriksaan ini akan mencocokkan karakter kayu dengan tegakan di kawasan hulu, terutama daerah Palembayan hingga Kota Padang—wilayah yang diduga dilalui material banjir.

Koordinasi lintas lembaga terus dilakukan untuk menelusuri akar penyebab bencana, termasuk potensi kerusakan hutan yang ikut memperburuk dampak banjir.

3.327 Ton Sampah, 1.100 Ton Berupa Kayu

Di saat penyelidikan berjalan, Pemkot Padang berkejaran dengan waktu menangani tumpukan material pascabencana. Kepala DLH Kota Padang, Fadelan Fitra Masta, mencatat total sampah mencapai 3.327 ton, dan 1.100 ton di antaranya adalah kayu gelondongan.

“Beberapa titik pantai seperti ditelan oleh lautan kayu,” kata Fadelan.

Alih-alih dibuang ke TPA, sebagian besar kayu justru dimanfaatkan kembali agar dampaknya tidak menambah beban lingkungan.

Kayu Diolah Warga dan Disalurkan ke Industri

Warga pesisir ikut mengumpulkan kayu-kayu tersebut. Banyak yang memanfaatkannya sebagai bahan bakar untuk usaha kecil, sementara sebagian besar lainnya disalurkan ke PT Semen Padang sebagai bahan bakar alternatif.

“Kami ingin memaksimalkan pemanfaatan kayu, bukan menambah volume ke TPA,” jelas Fadelan.

Strategi 3R dan Target Sembilan Hari

Tim LPS bersama bank sampah menerapkan pemilahan sejak hari pertama, menggunakan prinsip 3R untuk mempercepat pemulihan. Upaya ini meringankan beban armada pengangkut dan mempercepat normalisasi area terdampak. Zona penanganan disebar ke banyak titik dengan target pembersihan selesai dalam sembilan hari.

Menunggu Jawaban Penting

Di tengah upaya pemulihan, kayu-kayu yang awalnya menjadi simbol kerusakan kini beralih menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi warga dan industri. Namun satu hal masih menggantung:

Apakah tumpukan kayu itu benar-benar hasil dari banjir besar, ataukah bukti nyata kerusakan hutan yang selama ini tak terungkap?

Hasil uji forensik kini menjadi kunci, dan publik menunggu kepastian itu.

(Rini/Mond)
#BKSDA #IllegalLogging
#BanjirPadang
#

 

Serasinews.com, Padang – Suara gemuruh air cokelat pekat masih mendominasi aliran Sungai Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat. Sungai yang selama puluhan tahun menjadi penopang kehidupan warga kini berubah seketika. Lebarnya melebar drastis hingga 30–50 meter, menggerus tanah-tanah yang dulu menjadi fondasi kokoh bagi permukiman penduduk.

Di kawasan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, kerusakan tampak nyata. Lima rumah warga hilang tersapu banjir, dua lainnya hancur berat. Puing bangunan, kayu berserakan, dan timbunan lumpur tebal menjadi saksi bisu kedahsyatan banjir bandang yang menerjang pada 26–27 November 2025.

“Berdasarkan laporan tim satgas di lapangan, terdapat lima rumah yang hanyut dan dua mengalami kerusakan berat,” ujar Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (PKHL) KLHK, Thomas Nifinluri, saat meninjau lokasi bencana, Selasa (9/12/2025).

DAS Kuranji: Jalur Air Besar yang Mengamuk

Sungai Kuranji merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Kawasan Air Dingin seluas sekitar 21 ribu hektare berdasarkan data BPDAS Agam Kuantan. Wilayah itu terdiri atas:

APL: 9.069,93 ha

Hutan lindung: 2.888,36 ha

Suaka margasatwa: 9.263,74 ha

Tubuh air: 106,16 ha

DAS sepanjang 24 km ini membentang dari hulu hingga muara di pesisir Kota Padang. Menurut Thomas, sekitar 50 persen wilayah DAS berada dalam kawasan konservasi dan kawasan industri, sementara sisanya merupakan APL dan area air.

Bencana ini tidak hanya menyapu permukiman, tetapi juga mengancam ekosistem hutan, satwa liar, hingga stabilitas hidrologi kota.

Longsoran Raksasa dari Hulu: Pemicu Utama

Kepala BKSDA Sumbar, Hartono, menjelaskan bahwa pelebaran Sungai Kuranji bukan sekadar akibat luapan air, melainkan hantaman material longsoran dalam jumlah sangat besar dari kawasan hulu.

Material tersebut berupa kayu besar, lumpur pekat, batuan, dan tanah lepas yang meluncur deras dan menerjang badan sungai.

“Pelebaran sungai mencapai 50 meter akibat material besar yang terbawa dari hulu,” jelas Hartono di Posko Penanggulangan Bencana Banjir Kementerian Kehutanan di Padang.

Analisis citra satelit mengungkap adanya longsoran masif di Suaka Margasatwa Barisan, sekitar 11 kilometer dari lokasi banjir.

“Longsoran di kawasan suaka margasatwa itu jumlahnya sangat besar dan menjadi sumber masuknya gelombang material ke Sungai Kuranji,” tambahnya.

Memeriksa Penyebab: Faktor Alam atau Degradasi Hutan?

BKSDA Sumbar bersama tim PKH, Mabes Polri, dan Polda Sumbar kini terus memantau kondisi hulu. Pemeriksaan difokuskan pada:

Kondisi tutupan hutan sebelum bencana

Perubahan vegetasi dalam 1–3 minggu terakhir

Potensi aktivitas manusia yang mengganggu kawasan

“Kami akan mengecek kondisi tegakan dan tutupan lahan apakah masih baik sebelum bencana,” kata Hartono.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan apakah bencana murni terjadi karena proses alam atau ada unsur kerusakan lingkungan yang memperparah.

Padang Dikepung Lima DAS Berisiko Tinggi

Kota Padang memiliki lima DAS besar, tiga di antaranya merupakan DAS dengan risiko banjir bandang paling tinggi. Letak geografis kota yang berada di antara Pegunungan Barisan dan pesisir Samudera Hindia menjadikan wilayah ini sangat rentan terhadap banjir bandang, longsor, dan aliran debris.

Perubahan Sungai Bersifat Permanen

Hartono menegaskan bahwa perubahan Sungai Kuranji bukan fenomena sementara. Struktur alur sungai telah berubah secara permanen akibat volume material longsoran yang sangat besar.

“Dengan ruasan sebesar itu dan kubikasi material yang terbawa, ini jelas bukan kejadian berskala kecil,” ujarnya.

Kondisi ini menyebabkan:

Risiko banjir susulan meningkat

Kapasitas aliran sungai berubah

Ancaman erosi dan amblesan tanah makin besar

Luka yang Dalam bagi Warga

Bagi masyarakat Tabing Banda Gadang, bencana ini bukan sekadar catatan statistik. Rumah yang hilang berarti hilangnya seluruh kehidupan mereka. Kini, warga harus memulai dari awal, sementara rasa cemas terhadap bencana susulan masih terus menghantui.

Sungai Kuranji yang dulunya menjadi sumber air, tempat mencari ikan, dan jalur kehidupan kini berubah menjadi simbol amarah alam yang belum sepenuhnya mereda.

(L6)

#Padang #BanjirPadang #SungaiKuranji

 Serasinews.com, Padang – Banjir besar yang melanda Kota Padang dan Sumatera Barat tidak hanya merendam rumah dan jalan, tetapi juga mengganggu layanan air minum bagi ratusan ribu warga. Aliran air baku terputus, intake tertimbun material, pipa terseret arus—situasinya mendesak. Namun, di tengah krisis itu, muncul kisah tentang kolaborasi, solidaritas, dan kerja cepat lintas lembaga yang mempercepat pemulihan lebih dari perkiraan.

Direksi Perumda Air Minum Kota Padang melalui Kasubag Humas, Adhie Zein, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat membantu memulihkan layanan air bersih.

BWS V Sumatera & BPBPK: Garda Terdepan Pemulihan Infrastruktur
Balai Wilayah Sungai (BWS) V Sumatera langsung menurunkan alat berat untuk membersihkan intake Kampung Koto, membuka akses menuju intake Palukahan, dan mempercepat perbaikan jaringan yang rusak. Menurut Adhie, tanpa dukungan teknis mereka, proses pemulihan bisa jauh lebih lama.

BPBPK Sumatera Barat di bawah pimpinan Maria Doeni Isa juga turut memantau kondisi kerusakan, mengirimkan alat berat, dan memastikan koordinasi lintas kementerian sehingga akses air bersih tetap terjaga selama masa darurat.

Bantuan Pipa dan Mobil Tangki: Menjaga Aliran Air Bersih
Sinergi BWS V Sumatera dan BPBPK menghadirkan bantuan pipa sepanjang ±1.500 meter, yang menjadi “urat nadi” tambahan untuk mempercepat pemulihan sumber air baku. Adhie menekankan bahwa bantuan ini bukan sekadar material, melainkan simbol kehadiran negara di saat krisis.

Di saat beberapa instalasi masih belum normal, berbagai instansi bergerak cepat menyalurkan air bersih menggunakan mobil tangki. DAMKAR, PMI, Kementerian PUPR, BNPB, BPBD, serta PU Kota dan Provinsi Sumbar memastikan warga tetap mendapatkan suplai air.

Peran Tokoh Publik dan Lembaga Lainnya
Bantuan datang dari berbagai pihak: anggota DPR RI Andre Rosiade, Zigo Rolando, Albert Indra Lukman, Dewan Pengawas Perumda, Dinas Kehutanan, DLH, PSDA, OJK, alumni FK Unand, hingga LAZ. Ada yang membantu logistik, memfasilitasi komunikasi, atau terjun langsung ke lapangan—semua peran sama pentingnya.

Direksi Perumda AM Kota Padang: Bukti Kita Tidak Sendiri
Direksi menegaskan bahwa bencana ini mengingatkan pentingnya layanan air minum dan kekuatan jaringan solidaritas di Sumatera Barat. Adhie menutup dengan pesan:

“Kami tidak pernah sendiri. Bantuan, perhatian, dan kerja sama ini adalah kehormatan bagi kami. Semoga sinergi ini terus terjaga, demi pelayanan air bersih yang lebih kuat, tangguh, dan manusiawi.”

(Rini/Mond)
#PerumdaAirMinum #Padang
#BanjirPadang

 

Serasinews.com, PADANG, SUMBAR — Lubuk Minturun pagi itu terasa muram. Tanah yang terbuka dan bongkahan batu yang belum tersentuh evakuasi berdiri seperti saksi bisu kekuatan alam. Di tengah kondisi yang masih labil itu, Direktur Lalu Lintas Polda Sumatera Barat, Kombes Pol Reza, hadir langsung untuk memastikan jalur darurat tetap bisa bernapas.

Menyusuri Jalur yang Luka, Membaca Bahasa Alam

Sejak matahari belum tinggi, Kombes Pol Reza bergerak dari satu titik rawan ke titik lain. Ia memeriksa jalan yang tergerus, bahu jalan yang menggantung, hingga tebing yang retak-retaknya tampak masih hidup.
Setiap berhenti, ia berdiskusi dengan petugas lapangan dan warga. Matanya menyusuri kerusakan seolah sedang membaca peta risiko.

Apakah jalur ini cukup aman bagi ambulans? Apakah truk logistik bisa melewati segmen ini tanpa tersangkut? Seberapa cepat arus bantuan bisa tiba?

“Kita harus memastikan jalur pertolongan tetap terbuka,” ujarnya dalam nada yang tegas namun penuh kehati-hatian.

Gerak Cepat di Lapangan: Rambu, Pengawasan, dan Kontrol Arah

Personel Dirlantas yang ikut mendampingi tak membuang waktu. Rambu-rambu peringatan dipasang di lokasi yang berpotensi berbahaya, sementara beberapa polisi berdiri mengatur arus kendaraan agar pengendara tidak tergelincir atau nekat melintas di daerah yang rapuh.

Mereka juga mencatat setiap retakan baru dan serpihan tanah yang longsor perlahan—indikator yang bisa memicu langkah cepat jika situasi berubah.
Di beberapa lokasi diterapkan sistem buka-tutup demi menjaga jalur bantuan tetap hidup, walau tidak sepenuhnya stabil.

Polisi Menjadi Titik Pegangan di Tengah Kekacauan

Kehadiran polisi di tengah kerusakan memberikan rasa tenang bagi warga yang sejak malam harus berjaga. Bagi mereka, melihat petugas terus siaga berarti ada pihak yang memastikan keteraturan di saat lingkungan kehilangan keseimbangannya.

Dirlantas menegaskan bahwa peran mereka lebih dari sekadar mengatur lalu lintas. Mereka juga memastikan distribusi bantuan, pergerakan alat berat, dan proses pemulihan berjalan tanpa hambatan.

“Kami ingin masyarakat merasa didampingi. Apa pun kondisinya, kami akan menjaga akses yang mereka butuhkan,” ucapnya.

Pesan Kewaspadaan: Jangan Memaksakan Perjalanan

Kombes Pol Reza menyerukan agar warga tidak memaksakan diri melintas di jalur yang masih dalam penanganan. Banyak titik tampak aman, namun menyimpan ancaman. Ia meminta masyarakat mengikuti arahan petugas dan segera memberi tahu jika melihat tanda-tanda pergerakan tanah.

“Perjalanan bisa ditunda. Keselamatan tidak,” tegasnya.

(Rini/Mond)
#DirlantasPoldaSumbar #BanjirPadang #Padang

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.