Articles by "Artikel"

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan


 Serasinews.com- Apakah kamu termasuk seseorang yang perfeksionis? sejauh mana kamu memahami ciri kepribadian perfeksionis?Jika kamu ingin semua berjalan sesuai dengan rencana, tepat sasaran dan tujuan, belum tentu menjadi seseorang yang perfeksionis. Ada hal yang lebih kompleks tentang ciri kepribadian perfeksionis. Dilansir dari Psychology Today, seseorang yang perfeksionis akan menjadikan hidupnya tentang pencapaian atau penampilan yang sempurna. Perfeksionis dinilai dapat memotivasi dan mendorong seseorang untuk menjadi lebih baik dan mencapai kesuksesan. Seorang yang perfeksionis biasanya mampu menghasilkan suatu pekerjaan yang mengagumkan. Selain itu dapat  menjadikan kehidupan seseorang lebih terstruktur dan lebih tertib, serta dapat menjadikan seseorang profesional dalam bidangnya. 

Selain terdapat sisi positif pada orang yang perfeksionis, ternyata ada dampak negatif jika perfeksionis yang dimiliki terlalu ekstrem. Dilansir dari jurnal Perfomance Psychology tahun 2016, perfeksionis adalah karakteristik kepribadian, yang didefinisikan sebagai berusaha untuk kesempurnaan dan menetapkan standar kinerja yang sangat tinggi, disertai kecenderungan untuk evaluasi yang terlalu kritis. Perfeksionisme bukan sekadar berjuang atau berusaha untuk menjadi yang terbaik. Ketika seseorang termotivasi untuk melakukan suatu hal dengan maksimal, maka hal tersebut dapat dianggap sebagai perilaku yang sehat. Hal ini berbeda dengan perfeksionis. "Perfeksionisme tidak sama dengan berjuang untuk menjadi yang terbaik. Kesempurnaan bukan tentang pencapaian dan pertumbuhan yang sehat. Sayangnya, perfeksionis sering dijadikan alasan untuk melindungi diri dari rasa malu, cemas, atau harga diri yang rendah,” ungkap Brené Brown, penulis dan profesor penelitian di University of Houston Graduate College of Social Work.

Lantas, apa yang menyebabkan seseorang memiliki perfeksionis begitu tinggi? Penyebab perfeksionis sebenarnya sangat beragam. Setiap orang juga mungkin akan mengalami penyebab yang berbeda-beda. Dilansir dari laman Good Therapy, berikut ini beberapa faktor penyebab seseorang memiliki sifat perfeksionisme, yaitu: Merasa takut, tidak aman, dan ragu dengan kemampuan diri sendiri, sehingga sangat memerlukan pengakuan dari orang lain. Memiliki orang tua atau tumbuh dalam keluarga yang memiliki perfeksionisme tinggi. Biasanya, orang tua dengan riwayat pencapaian tinggi terkadang merasakan tekanan yang luar biasa untuk memenuhi pencapaian mereka sebelumnya. Hal inilah yang akhirnya memberikan tekanan pada anak-anaknya seperti : Memiliki masalah kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan atau gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Namun, tidak semua pengidap OCD atau gangguan kecemasan itu perfeksionis. Orang-orang yang memiliki keterikatan yang bermasalah dengan orang tua saat mereka masih muda mungkin mengalami kesulitan menenangkan diri sebagai orang dewasa. Mereka mungkin mengalami kesulitan menerima hasil yang baik sebagai baik jika tidak sempurna. Anak-anak yang sering dipuji atas prestasinya mungkin merasakan tekanan untuk terus berprestasi seiring bertambahnya usia. Faktor ini juga dapat menjadi penyebab seseorang menjadi perfeksionis.

Selanjutnya, bagaimana cara kamu mengetahui kamu seseorang yang perfeksionis atau tidak? Adakah beberapa kriteria berikut yang sesuai dengan ciri kepribadianmu ? 

1. Tidak dapat melakukan suatu pekerjaan, kecuali mereka tahu bahwa mereka melakukannya dengan sempurna. 

2. Selalu melihat hasil akhir sebagai bagian paling penting dalam pekerjaan. Umumnya, seorang yang perfeksionis tidak menghargai proses yang dilakukannya.

 3. Tidak melihat suatu pekerjaan selesai sampai hasilnya sempurna menurut standar mereka. Orang dengan perfeksionisme mungkin tidak ingin memulai suatu tugas sampai mereka tahu bahwa mereka dapat melakukannya dengan sempurna. 

4. Meluangkan banyak waktu untuk menyelesaikan tugas yang biasanya tidak membutuhkan waktu lama bagi orang lain untuk menyelesaikannya. 

5. Hanya fokus kepada kesempurnaan, sehingga terkadang mengabaikan hal-hal lainnya. Ketika mencapai hasil yang diinginkan, seringnya mereka juga merasa tidak puas.

Seorang yang perfeksionis juga dapat melakukan beberapa hal berikut ini, yaitu: Menghabiskan 30 menit dalam mengirimkan e-mail atau pesan. Percaya bahwa kurang dua poin dalam ujian adalah tanda kegagalan. Sulit merasa bahagia ketika melihat orang lain sukses. Membandingkan diri sendiri secara tidak realistis dengan orang lain. Berfokus pada produk akhir daripada proses pembelajaran. Menghindari bermain game atau mencoba aktivitas baru bersama teman karena takut dianggap kurang sempurna. Melewatkan kelas atau menghindari tugas karena tidak ada gunanya berusaha kecuali kesempurnaan dapat dicapai. Itulah yang menjadi alasan mengapa perfeksionisme ekstrem bisa menjadi hal yang sangat berbahaya. Sebab, mereka yang perfeksionis hanya mementingkan diri sendiri dan fokus untuk menghindari kegagalan. Mereka juga cenderung tidak percaya pada cinta tanpa syarat, sebab mereka mengharapkan kasih sayang dan persetujuan orang lain untuk bergantung pada hasil yang sempurna.

Sebenarnya perfeksionisme tidak hanya tentang urusan pekerjaan. Seseorang yang terlalu perfeksionis juga dapat berpengaruh pada kehidupan dan interaksi sosial, seperti: Perfeksionisme dapat menyebabkan seseorang menempatkan standar tidak realistis mereka pada pasangan Kondisi ini lama-kelamaan membuat mereka merasa tingkat stres yang tinggi saat berada dalam sebuah hubungan. Ketika seseorang perfeksionis tentang cara mereka berbicara atau menulis, kualitas ucapan atau tulisan mereka dapat menurun. Hal ini menyebabkan mereka berbicara sangat sedikit atau menghindari menulis karena takut membuat kesalahan. Perfeksionisme seputar penampilan fisik juga bisa menyebabkan seseorang mengalami gangguan makan atau kecanduan olahraga. Seseorang yang perfeksionis menghindari memulai tugas yang tidak membuat mereka merasa percaya diri. Hal ini sering kali disebabkan oleh keinginan untuk menyelesaikan tugas dengan sempurna.

Orang yang memiliki kecenderungan perfeksionis sering bekerja seorang diri secara berlebihan karena tidak percaya dengan hasil dari pekerjaan orang lain dan menghindari pengalaman baru karena takut melakukan kesalahan dan kegagalan. Kegagalan dalam mencapai standar dan tujuan yang telah ditetapkan dapat membuat perfeksionis merasa tidak berharga. Ketakutan lain yang dihadapi oleh perfeksionis adalah penolakan dari lingkungan sekitar. Perfeksionis meyakini jika orang lain mengetahui kekurangannya, mereka tidak akan menerima dirinya dan dirinya akan merasa sakit karena disalahkan, dihakimi, dan malu. Perfeksionisme sering kali dilihat sebagai sifat positif yang meningkatkan peluang untuk sukses, tetapi sesungguhnya tanpa disadari perfeksionisme ini dapat menyebabkan pikiran atau perilaku yang merusak diri sendiri yang membuat lebih sulit mencapai tujuan. Hal ini dapat menyebabkan stres, kecemasan, depresi, dan masalah kesehatan mental lainnya. 

Menurut Hewitt & Flett (1991) perfeksionisme terbagi menjadi 3 jenis, yaitu: Self-oriented perfectionism, yaitu standar yang tinggi dan tidak realistik untuk dirinya sendiri. Perfeksionis termotivasi untuk mencapai standar yang telah ditetapkannya dan berusaha untuk menghindari kegagalan. Other-oriented perfectionism, yaitu standar yang tinggi untuk orang lain. Perfeksionis menilai orang lain berdasarkan standar pribadinya yang tidak realistis dan sulit dipenuhi oleh orang lain. Socially prescribed perfectionism, yaitu kecenderungan menganggap orang lain memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap dirinya.

Apakah ini penyakit mental? Perfeksionisme adalah ciri kepribadian yang bisa berbahaya jika dialami secara ekstrem. Meskipun tidak dianggap sebagai penyakit mental, kepribadian perfeksionisme merupakan faktor umum dalam banyak gangguan mental, terutama yang didasarkan pada pikiran dan perilaku kompulsif, seperti gangguan obsesif-kompulsif (OCD) dan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif (OCPD). Nmaun, jika kamu merasa sifat perfeksionis yang kamu miliki membuat dirimu tertekan setiap hari, ketahuilah bahwa perilaku dan kebiasaan perfeksionis dapat diubah dengan: Menyadari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki diri, Menetapkan tujuan yang realistis dan dapat dicapai, Menurunkan standar yang dimiliki, Melihat dari sudut pandang orang lain, Memberi penghargaan kepada diri sendiri atas usaha yang telah dilakukan, Mengakui bahwa setiap orang dapat berbuat kesalahan, Menyadari bahwa kesalahan merupakan proses dari pembelajaran, Membagi tugas berat menjadi langkah-langkah kecil dalam menyelesaikan tugas. 

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Caranya gampang dengan : Perawatan OCD biasanya mencakup psikoterapi dan pengobatan. Menggabungkan kedua perawatan tersebut biasanya menghasilkan efek yang lebih baik. Umumnya, dokter akan meresepkan obat antidepresan untuk membantu mengurangi gejala OCD. Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) adalah jenis antidepresan yang sering digunakan untuk mengurangi perilaku obsesif dan kompulsif. Selain obat-obatan, terapi bicara dengan terapis dapat membantu pengidap untuk mengubah pola pikir dan perilaku. Terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi paparan dan respons adalah jenis terapi bicara yang efektif untuk sebagian besar pengidap OCD. Pencegahan eksposur dan respons (ERP) juga diperlukan agar pengidap OCD dapat mengatasi kecemasan yang terkait dengan pikiran obsesif dengan cara lain, tanpa harus terlibat dalam perilaku kompulsif.

Anda mungkin dianggap sebagai seorang perfeksionis, jika selalu menuntut agar setiap pekerjaan yang dilakukan harus membuahkan hasil terbaik sama sekali tak bercela. Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk berusaha tampil sempurna. Perfeksionisme malah mungkin bisa menjadi dongkrak kesuksesan Anda di tengah masyarakat yang serba kompetitif. Namun, apakah menjadi seorang perfeksionis baik untuk Anda? Tidak ada manusia yang sempurna. Namun, bukan berarti Anda tidak boleh berusaha untuk menjadi yang terbaik. Meski begitu, ada perbedaan besar antara menjadi seseorang yang terbaik di bidangnya dengan seseorang yang perfeksionis. Menjadi yang terbaik di suatu bidang artinya mengerahkan semua kemampuan terbaik yang Anda miliki untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan. Ya, siapapun yang bekerja keras bisa mencapai target prestasi tersebut, sehingga Anda termotivasi untuk berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Namun, keinginan untuk menjadi yang terbaik di bidang pekerjaan tentu tidak sama dengan menjadi perfeksionis. Seorang perfeksionis mengharapkan kesempurnaan dari diri sendiri maupun orang lain berdasarkan standar tertentu yang tidak masuk akal dan terlalu tinggi. Mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan sangat keras (atau bisa dibilang workaholic) dan mendambakan kesempurnaan dari setiap hal yang dilakukannya maupun yang dilakukan oleh orang lain. Sayangnya, perfeksionis tidak selalu bisa dianggap sebagai karakteristik positif.

Pada akhirnya, kecemasan ini terwujud dalam perasaan tidak pernah merasa puas atau bangga karena para perfeksionis tidak percaya bahwa mereka telak melakukan pekerjaan dengan cukup baik, meski tidak sempurna. Oleh karena itu, orang-orang yang perfeksionis akan melakukan berbagai cara untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan kriteria dan rencananya. Jika yang ia lakukan belum memenuhi kriteria, ia akan terus mengulangi pekerjaan itu hingga benar-benar sempurna. Bahkan, para perfeksionis tidak segan untuk menuntut atau mengkritik orang lain agar bekerja lebih baik lagi.(Radhyatul Hamidah)


 Padang, Serasinews.com- Broken home merupakan kondisi saat keluarga mengalami perpecahan dan terputusnya struktur peran anggota keluarga yang gagal menjalankan kewajiban dari peran mereka. Pengertian broken home juga dapat dilihat dari dua aspek, yaitu broken home karena struktur keluarga tidak utuh dikarenakan perceraian atau salah satu orangtua meninggal dunia. Ada juga kondisi di mana orangtua tidak bercerai, tapi struktur keluarga tidak utuh karena salah satu orangtua meninggalkan rumah atau tidak memberi kasih sayang lagi dengan anak dan pasangannya. Contohnya, kedua orangtua sering bertengkar sehingga struktur keluarga tersebut tidak sehat lagi secara psikologis. Keluarga yang mengalami broken home dapat ditandai dengan ciri-ciri berikut. Kedua orangtua bercerai atau berpisah Hubungan kedua orangtua sudah tidak baik lagi Orangtua tidak memberi kasih sayang dan perhatian pada anak Orangtua sering meninggalkan rumah Sering terjadi pertengkaran Suasana rumah tidak harmonis Salah satu orangtua meninggal dunia.

Kondisi perpecahan pada struktur keluarga ini tentu dapat berdampak buruk bagi perkembangan dan kesehatan mental anak. Broken home dapat menyebabkan anak merasa kehilangan peran penting keluarga di hidupnya, merasa stres, tertekan, hingga merasa dirinya yang menjadi penyebab perpisahan tersebut. Dampak dari broken home umumnya akan membuat anak merasa sedih dan kehilangan motivasi atau penyemangat. Beberapa anak mengalami kesedihan yang berkelanjutan, Menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab perpisahan, Menjadi lebih posesif, Sulit percaya dengan orang lain, Kehilangan kasih sayang, Tidak punya identitas diri, Trauma untuk menjalin hubungan dengan orang lain.

Tumbuh di keluarga yang sering mengalami pertengkaran antar orang tua. Menurut mereka, keadaan seperti itu sudah mereka anggap biasa, karena terlalu sering nya mereka melihat kondisi itu di rumah, sehingga terkadang anak menjadi tidak betah dirumah dan cenderung selalu sedih jika keadaan rumah sedang tidak baik. Hidup di lingkungan keluarga yang keras seperti itu membuat anak broken home cenderung menjadi anak yang  introvert (tertutup) dan tidak percaya diri, bahan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Sikap seperti itu bisa memungkinkan anak broken home mencari pelarian ke hal-hal negatif seperti pergaulan bebas, bermabuk-mabukan, narkoba, depresi dan lain-lain, hingga menyebabkan anak bisa stress, dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan seperti self-harm, melakukan tindak bullying terhadap orang lain, dan lain-lain. Maka, dari situlah tidak sedikit orang yang berfikir bahwa anak broken home adalah anak yang akan membawa pengaruh buruk bagi lingkungan sekitarnya dan berfikir bahwa anak broken home seolah-olah tidak pernah di urus oleh orang tua nya, hancur, liar, tidak terkontrol, dan tidak terarah. Secara tidak langsung, pandangan atau stigma negatif yang ada dikalangan masyarakat itu membuat mereka semakin tidak percaya diri dan menutup diri, mereka seperti membatasi hubungan untuk berteman dengan orang lain, berprestasi, dan berkembang. Mereka cenderung berfikir bahwa mungkin memang takdir mereka tidak bisa bangkit dari masa lalu mereka yang kelam dan merubah masa depan mereka menjadi lebih baik. Namun, apakah anak broken home akan selalu seperti itu? di sangkut pautkan dengan stigma negatif? Dan tidak bisa untuk mengubah hidup menjadi lebih baik? Menurut penelitian American Psychological Association, anak yang mengalami broken home lebih cenderung menunjukkan masalah-masalah perilaku nya, hal itu bukan berarti semua anak broken home mengalami masalah perilaku serta dinilai buruk dan hancur. Nyatanya, berdasarkan penelitian selama 20 tahun, sekitar 80% orang-orang yang berasal dari keluarga broken home dapat beradaptasi dengan baik dan memperlihatkan efek positif dalam hal pendidikan, kehidupan sosial, dan kesehatan mental.

BROKEN HOME, Rumah rusak. Rusak disini bukan karena bencana alam semacam gempa bumi, banjir ataupun longsor. ‘Rumah Rusak’ adalah sebuah peribahasa atau istilah yang menggambarkan fenomena sebuah tatanan keluarga yang ‘tidak berhasil’ menjalakan fungsi keluarga yang semestinya. Sebagaimana arti secara kasat mata, rumah yang rusak bisa jadi atapnya bolong sehingga ketika hujan airpun masuk, juga bisa jadi acak-acakan berhamburan dan blingsatan. Intinya tidak ada keharmonisan di dalamnya, namun belum tentu yang tidak harmonis itu adalah broken home, karena masih banyak keluarga yang bertahan kokoh walaupun kadang harmonis dan kadang tidak harmonis.

Namun broken home tidaklah semuanya negatif, masih banyak juga positif yang didapat karena situasi itu, seperti : Lebih Cepat Tumbuh Dewasa, Adanya rasa ingin mengubah hidup, Lebih menghargai dan mengerti tentang keluarga, Anak broken home cenderung lebih mandiri. Anak broken home tidak selalu identik dengan stigma negatif seperti yang ada di kalangan kita saat ini. Sering kali anak broken home dianggap berlebihan jika mengekspresikan kesedihannya karena keluarga, hal itu bisa menyebabkan bertambahnya rasa depresi dan bisa mengakibatkan stress terhadap anak broken home. Disini, yang anak broken home butuhkan bukanlah perhatian khusus atau diperlakukan khusus, yang mereka butuhkan adalah bagaimana cara menyikapi keadaan ini dan membantu mereka berfikir bahwa hal seperti broken home ini adalah bukan suatu hal yang perlu disedihi berlarut-larut, bantu mereka untuk bangkit lagi dari masalah yang mereka alami ini, dengarkan cerita-cerita yang ingin mereka ceritakan, jangan biarkan mereka memendam terlalu larut karena itu bisa menyebabkan dendam, kesedihan mendalam dan bisa sampai mengganggu keadaan hati mereka.

Banyak Orang sukses yang berasal dari keluarga broken home? Mungkin untuk pertanyaan ini sebagian dari kita masih ragu-ragu menjawabnya. Banyak yang berpendapat bahwa orang yang sukses, kebanyakan berasal dari keluarga yang lengkap dan bahagia karena cinta kasih dari keluarga adalah salah satu kunci untuk membuat motivasi untuk maju semakin besar. Namun ternyata, tidak sedikit juga anak-anak yang berasal dari keluarga broken home, alias memiliki orang tua yang bercerai atau bahkan hanya memiliki satu orang tua, yang bisa sukses luar biasa. 

Siapa yang tidak kenal Oprah Winfrey? Dikenal sebagai seorang presenter sebuah talkshow sukses, ternyata tidak banyak yang tahu bahwa Oprah, yang bernama asli Orpah, punya masa kecil yang tidak biasa. Oprah terlahir dari seorang ibu yang masih berusia remaja dan hidup miskin. Ibunya bahkan tidak dinikahi dan harus hidup dalam kemiskinan karena ibunya hanyalah seorang pembantu rumah tangga. Setelah Oprah lahir, ibunya pergi untuk bekerja selama enam tahun dan dia dititipkan pada neneknya. Saking miskinnya, Oprah bahkan hanya bisa memakai baju yang terbuat dari karung kentang sehingga membuat dia sering menjadi bahan olok-olok temannya. Pada usia 9 tahun, Oprah mengaku pernah diperkosa dan hamil pada usia 14 tahun, dan akhirnya anaknya meninggal dunia saat masih bayi. Hidup dengan sejarah masa lalu yang kelam tidak membuat Oprah lalu minder dan patah semangat. Dia kemudian menjadi wartawan dan akhirnya memiliki acara talkshow-nya sendiri yang sukses luar biasa, The Oprah Winfrey Show 

Bieber dibesarkan oleh ibunya dan dibantu oleh kakek-neneknya dari pihak ibu. Ibunya berpenghasilan rendah. Lalu ayahnya menikah dengan wanita lain dan mempunyai dua anak dari istrinya. Walaupun cuma dibesarkan oleh ibunya, Bieber tumbuh menjadi anak yang aktif dan kemampuan musiknya sangat menonjol. Beruntung Bieber punya ibu yang sangat memahami dirinya. Ibunya tahu dia memiliki bakat musik yang luar biasa sehingga mengunggah video anaknya saat sedang menyanyi di sebuah kompetisi. Saat itulah ada pencari bakat yang melihat talenta Bieber yang akhirnya menjadi terkenal dan jadi idola di seluruh dunia.

Eminem, Cerita masa kecil rapper yang satu ini lebih sedih lagi. Dia bahkan tidak mengenal ayahnya karena sejak berumur 18 bulan, ayahnya telah pergi meninggalkannya. Akhirnya artis bernama asli Marshall Bruce Mathers III ini tinggal bersama ibunya. Pada umur 14 tahun, Eminem mulai tertarik pada musik rap dan mulai bernyanyi rap. Sayangnya pada usia 17 tahun dia dikeluarkan dari sekolah karena nilai-nilainya yang turun dan sering membolos. Tapi kecintaannya pada rap semakin membuat Eminem menekuninya dan sekarang dia telah menjadi rapper yang tidak lagi dipandang sebelah mata. Selain menjadi rapper, dia juga bermain dalam filmnya yang berjudul 8 Mile.

Siapa yang sangka, presiden RI yang ke 6 ini dulunya juga berasal dari keluarga broken home ini. SBY mengakui pernah goncang akibat perceraian orangtuanya yang terjadi ketika ia remaja. Sang Ibu tak menikah lagi dan tinggal di Blitar, Jawa Timur, sedang ayahnya menikah lagi beberapa tahun lalu dan bermukim di Pacitan " Di persimpangan itu, saya bersumpah harus keluar dari situasi broken home dan menjadi seseorang, " ujar SBY mengenang masa remajanya.

Presiden berkulit hitam pertama di Amerika juga salah seorang broken homers. Orang tuanya bertemu di tahun 1960 ketika menghadiri acara di University of Hawaii di Mānoa, di mana ayahnya adalah seorang pelajar asing. Pasangan ini kemudian menikah pada 2 Februari 1961, mereka terpisah ketika Obama adalah berumur dua tahun dan bercerai pada tahun 19 64. Ayah Obama kembali ke Kenya dan melihat anaknya hanya sekali lagi sebelum mati dalam sebuah kecelakaan mobil pada tahun 1982. Setelah bercerai, ibunya menikah dengan mahasiswa Indonesia Lolo Soetoro, mereka bertemu ketika menghadiri sebuah kuliah di Hawaii. Kemudian, Obama beserta keluarganya pindah ke Indonesia. Obama kecil kemudian bersekolah di sekolah Lokal di Jakarta, seperti Besuki Publik dan Sekolah Santo Fransiskus Sekolah Asisi, sampai dia berumur sepuluh tahun.


Jika kalian termasuk dalam barisan yang menganggap kegagalan kalian disebabkan karena ulah orang tua, maka introspeksi dan ubahlah pola pikir. Banyak orang yang bisa meraih sukses meski tumbuh dan berkembang di tengah keluarga yang broken home, atau orang tua dengan segudang tuntutan. Semestinya hal-hal tersebut bisa menjadi motivasi bagi kita untuk bangkit dan memperbaiki keadaan. Selama orang tua masih men-support secara fiansial maka tidak ada alasan bagi kalian untuk drop out dan berkacau ria dalam kehidupan.


Lalu kenapa anak broken home ada yang lari ke narkoba, seks bebas atau bahkan bunuh diri? Mereka mencari kasih sayang ditempat lain, mencari tempat yang bisa membuat mereka melupakan permasalahan yang ada di keluarganya.Bagi anak-anak broken home, yuk salurkan pikiran kita ke hal-hal positif seperti ke pelajaran di sekolah atau hal produktif lain yang sesuai minat kalian seperti musik, menulis, olahraga, dll. Jadikan masalah yang ada dirumah menjadi 'cambuk' buat kalian supaya jadi anak yang membanggakan. Lihatlah contoh orang sukses diatas, mereka fokus ke hal-hal yang mereka sukai dan akhirnya menekuni dan menjadi sukses luar biasa. "Ah kalo berteori sih memang mudah!" kata salah satu anak broken home.Tapi apa salahnya kan untuk mencoba!! Memang perceraian pasti akan membawa dampak psikologis bagi anak-anak. Seperti saya, sesuatu yang berhubungan dengan keluarga pasti menjadi hal yang sangat sensitif buat saya, baik itu film, foto, cerita, dll. Tapi saya tidak ingin membuat ibu saya sedih jadi saya bertekad untuk jadi anak yang sukses dan membanggakan. Ini hidup kalian, bukan hidup orang tua kalian. Kalianlah yang menentukan masa depan kalian sendiri, bukan orang tua kalian. Jika kalian berfikir bahwa kalian adalah objek penderita dari semua permasalahan kedua orang tua kalian maka kalian keliru. Percaya deh, orang tua kalian jauh lebih terluka dari kalian. Perceraian itu menyakitkan, jika menjadi kacau dan tidak berprestasi dengan mengkambing hitamkan perceraian mereka.Hidup harus terus berjalan, engkau tidak sendiri banyak orang yang menyayangimu tanpa kau sadari.Anggaplah pohon bambu itu sebagai contoh perumpamaan seorang manusia. Bambu tidak pernah ada yang tumbuh sendiri, dia pasti akan terlihat biasa saja dan mungkin tanaman yang rapuh, Tapi jika bambu itu tumbuh berdampingan dengan bambu lain, maka ia akan terlihat indah dan kuat, Begitu pun sebaliknya dengan manusia. Anggap lah sebuah ujian yang kau rasakan sekarang ini sebagai awal dari keberhasilan mu nanti. Tuhan tidak mungkin memberikan cobaan melampaui batas kemampuan manusia itu sendiri.

Hal yang mudah diucap namun susah dilakukan, yaitu bersyukur. Banyak orang diluar sana yang mungkin mempunyai kehidupan yang lebih sulit dibanding kalian, bersyukurlah bagi kalian yang masih mendapatkan perhatian, kasih sayang dan waktu dari orang tua kalian meski orang tua kalian sudah berpisah, teruslah bersyukur untuk apa yang telah terjadi di hidup kalian, belajar untuk mengikhlaskan dan bersabar. Mungkin kalian terpilih menjadi anak broken home karena kalian bisa menyikapi dan menghadapi keadaan ini dengan dewasa, dengan tegar. Tuhan tidak akan memberikan masalah hidup kepada umat nya jika umat nya tidak bisa menghadapi nya, pasti ada hikmah yang baik dibalik semua kejadian ini. Dan kalian juga harusnya bersyukur karena jika kalian berada dikeluarga yang broken home, dan masing-masing orang tua kalian menemukan pasangan mereka kembali kalian akan dapat kasih sayang yang lebih dan banyak. Tak hanya dari pihak yang satu namun juga dari pihak yang lain. Karena tak semua dari broken home itu menyedihkan dan mengecewakan.

Menurut Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) dan Mahkamah Agung (MA) mereka mencatat selama 10 tahun terakhir telah terjadi peningkatan perceraian hingga 70 persen di Indonesia. Maka dari itu, cukup banyak anak broken home yang berada di Indonesia tapi bukan berarti juga populasi keluarga yang utuh itu sedikit. Banyak juga terdapat public figure atau petinggi-petinggi diluar sana yang berlatar belakang broken home namun bisa sukses dan bisa menghadapi masalah broken home yang mereka rasakan saat mereka masih kecil. Maka dari itu, jangan jadikan masalah broken home alasan untuk menjadi anak yang tidak terarah atau hancur masa depan nya. Jadikan broken home sebagai acuan dan semangat untuk mengubah hidup menjadi lebih baik kedepannya, belajar menerima masalah broken home ini dan berfikir positif tentang ini semua, banyak hal positif yang bisa kita ambil dan kita pelajari untuk masa depan, jadikan ini sebagai motivasi untuk berkeluarga di masa depan, ambil hal positif dari kedua orang tua, dan buang hal negatif dari orang tua. Banyak hal positif yang bisa kalian ambil dari broken home ini, tergantung bagaimana cara kalian menanggapi dan menghadapi masalah ini. Jangan takut dan bersedih, karena kalian tidak sendiri.

Ubahlah cara pandang kalian. Kalian harus lebih realistis mensikapi hidup. Kehidupan akan terus berlangsung meski orang tua kalian bercerai. Masa depan kalain masih terbentang meski orang tua kalian tidak bersama lagi, sebab masa depan kalain ada di tangan kalian sendiri,bukan di tangan orang tua kalian.(GFH)


Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.