Articles by "Bencanaalam"

Aceh Afif Maulana Agam AIDS Aipda Dian WR AirterjunLembahAnaiMeluap Aksibersihpantai AksiJalanan Aleknagari Amak Lisa AmalanBulanRajab AnjingPelacak anthropophobia Antikorupsi ApdateKorbanBencanaSumatera Apelsiaga Apeltanggapbencana Arif maulana Arosuka Artikel Artis Minang Asusila balapliar BalapMotor Bali Balikpapan BandarNarkobaKabur Bandung Banji Banjir BanjirAceh BanjirAgam BanjirBandang BanjirPadang BanjirSumatera BanjirSumbar BanjirSumut bansos banten BantuanBencanaAcehHilang BantuanKorbanBencanaPasbar Banyuwangi Bapenda Batam BatangArau Batuk BBM BeaCukai bencana Bencana alam Bencanaalam BencanaAlamSumateraBarat BencanaHidrometeorologi BencanaKotaPadang BencanaSumatera BencanaSumbar BerantasNarkoba BibitSiklonTropis95B BKSDA BMKG BNNPSumbar BNNsumbar BNPB BobonSantoso Box Redaksi BPBDKabupatenAgam BPBDPadang BPBDSumbar BPHMigas BrimobPoldaSumbar Brimobuntukindonesia BRISuperLeague bukit sitinurbaya Bukittinggi BungaBangkai BungaRafflesia BWSS V padang BWSSV BWSSVPadang Calon Bupati cemburubuta CerintIrallozaTasya Cikampek Cikarang CuacaEkstrem cuacapanasekstrem curanmor Daerah danabos Dandrem 032 WBR dankodaeral II Denpasar Depok DeptCollector Dharmasraya Dinas sosial DinasPendidikanSumbar DinasPerpusipPadang DinasPerpustakaandanArsip DinasPertanian dinassosial dinassosialpadang Dirlantas Dirlantas Polda Sumbar DirlantasPoldaSumbar Disdukcapil DitlantasPoldaSumbar DitpolairudPoldaSumbar DPCPKBkotapadang DPDRI DPR DPRD Padang DPRDpadang DPRDsumbar DPUPR DPUPRPadang dubalangkota EmpatPilar Enarotali Evakuasi festival sepakbola Filipina Galodo GalodoLembahAnai gangguanhormon GanjaKering gaya hidup GayaHidup gempa GempaBumi gerakcepatdinsos gorontalo GrasstrackMotocross Gresik GunungMerapiErupsi gurbernurriaukenaottkpk HAM HargaCabaiNaik Haripahlawan Harisumpahpemuda Hidroneteologi Hipnotis HismawaMigas HIV Hot New HubunganSesamaJenis hukum Huntara HUT Humaspolri ke 74 HUT80Brimob Hutan IKW IKWRI IlegalFishing IlegalMinning IllegalLogging Indonesia Indonesia. indonesiamaju infrastruktur Intan jaya Internasional irigasi Islam Islami Jakarta Jakarta Selatan JalanLembahAnaiPutus JalanLongsor JalanRetak Jambi Jawa Tengah Jayapura Jayawijaya JembatanPutus JembatanRetak Jogyakarta jurnalis JusufKalla K9 Kabupaten Agam kabupaten dharmasraya Kabupaten Solok KabupatenAgam KabupatenDharmasraya KabupatenPasamanBarat KabupatenPesisirSelatan kabupatenSolokSelatan KafeKaraoke KAI Sumbar Kakorlantas kakorlantaspolri kapolres kapolressijunjung Kapolri KarangTaruna kasat narkoba KasusMedis keamanan kebakaran KebakaranPasarPayamumbuh KebatanGunungNagoPutus kecamatankototangah kecelakaan kegiatanrutin KejariDharmasraya kejaripadang kejaripesel kekerasan kelangkaanBBM kelangkaansolar Kemenag Kemenhut Kemenkes Kementrian PU kementriankebudayaan KementrianLingkunganHidup KemuliaanBulanRajab kendaraan KeracunanMakanan Kesehatan keselamatan bersama keselamatan kerja kesiapsiagaan kesunyian malam ketertiban umum KetertibanUmum Kiwirok KKB KLHK Kodim 0307 Tanah Datar KomnasHAM komplotanganjalATM KorbanBanjirAgam KorbanBrncanaAgam Korem 032/WB Korpolairud korupsi Kota Padang KotaPadang KotaPariaman KPK Kriminal KRYD KUHP KumpulanDo'a Laksamanamuda Lampung LembahAnai Lembang Leonardy LGBT life style lifestyle Lima Puluh Kota LimaPuluhKota lingkungan listrikilegal literasi lombok timur Longsor LongsorKampusUINImambonjol LowonganKerjaPalsu Madiun Magelang MahardikaMudaIndonesia MahyeldiAnsharullah Makan Bergizi Gratis Makasar Malalak MalPraktek ManfaatAirKelapa manila MapolsekMuaraBatangGadisDibakarMasaa MataElang Medan MengelolaAirUntukNegri mentalhealth Mentawai Mesum Mimika Miras MirasIlegal MobilBencanaDibakarMassa MobilPatwalPoldaSumbarKecelakaan MobilSatpolPPAcehDibakarMassa MogokKerja MTsN10pesisirselatan Muhammadiyah mutilasibayi nagarisolokambah nagarisulitair narkoba Narkotika Nasioanl Nasional ngaraisianok NinjaSawit NTT odgj OknumGuruLGBT Oksibil olahraga Opini OprasiLilinSinggalang2025 oprasimalam oprasitumpasbandar2025 oprasizebra2025 oprasizebrasinggalang2025 OrangHanyut OTTKPK PADA Padang Padang panjang Padang Pariaman PadangAman PadangPariaman PadangRancak PadangSigap Pahlawannasional pajak air tanah Palimanan pandekarancak pantaipadang Papua parenting Pariaman Parlemen Pasaman Pasaman barat pasamanbarat pasang pasarrayapadang Pasuruan Payakumbuh PDAM PeduliBencana Pekanbaru Pelalawan pelayananhumanis pelayanansosial PelemikBantuanAsing PemakamanMasalKorbanBencanaSumbar PembabatanHutan PembalakanHutanMentawai pembalakanLiar Pembunuhan pemerasan Pemko Padang PemkoPadang PemulihanBencana PemutihanPajakKendaraan pencabulan PencarianKorbanBanjirPadang Pencirian PenculikanAnak Pencurian Pendidikan penegakanhukum penemuanbayi penemuanJanin PenemuanJasadBayo penemuanmayat Penertiban Pengancaman pengangguran penganiayaan Pengeroyokan Penggelapan Penjarahan Perbankan Perceraian Perdagangan peristiwa peristiwadaerah perlindungananak Persami PersijaJakarta pertahanan PerumdaAirMinum Pesisir Selatan PesisirSelatan Peti PJN PKL PolaMakan PolantasMenyapa Polda banten Polda Jabar Polda Kalbar Polda Metro Jaya polda Papua POLDA SulBar POLDA SUMBAR PoldaRiau Poldasumbar PoldaSumut Polhut Policegoestoscool Polisi Politik polPP polres Polres 50 kota Polres Dharmasraya Polres Mentawai Polres Padang panjang Polres Pasaman Polres Pasaman Barat Polres Solok Polres solok selatan PolresPadang polrespasaman polrespasamanbarat polrespasbar PolresPayakumbuh polrespesel PolresSolokKota polresSolokSelatan Polresta bukittinggi Polresta Padang PolresTanahDatar polrestapadang POLRI PolriPresisi Polsek bungus barat Polsek Koto Tangah Padang Polsek Lubeg Pontianak PrabowoSubianto PrajuritTNITewas PrediksiCuaca premanisme Presiden RI PrestaPadang psp padang Ptostitusi PuanMaharani Puncak jaya Purwakarta jawabarat QuickWins Razia RekeningDormant Religi RevisiKUHP Riau RidwanKamil RokokIlegal sabu Sajam SakitPerut Sarkel SatgasDamaiCartenz satgasoprasidamai satlantaspolresta SatpolPP SatpolPPAceh Sawahlunto Sawmil SeaGamen2025 segmen sianok seherman SekolahRakyat Semarang semenpadang SemenPadangFC Senjatatajam sepakbola sepakbolaindonesia SepakBolaWanita Serang ServisKendaraanGratisKorbanBanjirAgam SiagaBencana SigapMembangunNegriUntukRakyat Sijunjung sikat singgalang2025 silent treatment simulasibencana Sinkhole siswismptewassaathiking sitinjaulauik Skoliosis SMA1pulaupunjung sobatlalulintasrancakbana solok Solok selatan solokarosuka solokselatan solsel Sosialisasi SPBUganting SPPG STNK Strongpoint subsidi ilegal sukabumi Sulawesi Tenggara Sumatera Barat SumateraBarat Sumaterbarat Sumatra barat Sumbar SungaiKuranji Surabaya swasembadapangan tambangilegal Tanah datar tanahdatar tanggapdarurat TanggapDaruratBencana tawuran TawuranNarkoba Terbaru Ternate Timika Papua timklewang TimnasIndonesiaU22 TimnasWanitaIndonesia TNI TPUTunggulHitam Transformasi polri transpadang transportasi TrukTerbakar tsunamiDrill Tuak Uin UIN IB Padang UpadateKorbanBencanaSumatera UpdateKorbanBanjirSumatera UpdateKorbanBencanaAlam UpdateKorbanBencanaSumatera Utama UUMD3 Viral Yalimo Yogyakarta Yuhukimo
Tampilkan postingan dengan label Bencanaalam. Tampilkan semua postingan

 

Serasinews.com, PADANG — Duka akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat belum berakhir. Di tengah upaya pencarian korban yang masih hilang, Kepolisian Daerah Sumatera Barat (Polda Sumbar) mengungkapkan bahwa hingga kini sebanyak 28 jenazah korban bencana belum berhasil diidentifikasi.

Wakil Kepala Polda Sumbar, Brigjen Pol Solihin, menyampaikan bahwa puluhan jenazah tersebut saat ini masih menjalani proses identifikasi lanjutan dengan metode forensik yang lebih mendalam di Jakarta.

“Hingga saat ini masih terdapat 28 jenazah yang belum teridentifikasi dan sedang dalam proses pengujian lanjutan di Jakarta,” ujar Solihin di Padang, Selasa (23/12/2025).

Menurutnya, proses identifikasi menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kondisi jenazah yang rusak akibat terseret arus deras, tertimbun material longsor, hingga keterbatasan data pembanding dari pihak keluarga korban.

Pencarian Korban Masih Terus Berlangsung

Seiring proses identifikasi, operasi pencarian korban yang dinyatakan hilang juga belum dihentikan. Aparat kepolisian bersama tim SAR gabungan, TNI, relawan, serta masyarakat setempat masih menyisir sejumlah lokasi rawan yang diduga menjadi titik terjebaknya korban.

“Pencarian dan proses identifikasi tetap kami lanjutkan. Polri bersama seluruh pihak terkait akan terus bekerja semaksimal mungkin,” tegas Solihin.

Dari total 16 kabupaten dan kota terdampak, tercatat tiga daerah masih memperpanjang status tanggap darurat, yakni:

Kabupaten Agam

Kabupaten Pasaman Barat

Kabupaten Tanah Datar

Perpanjangan status ini menunjukkan bahwa dampak bencana masih sangat signifikan, baik dari sisi kemanusiaan, infrastruktur, maupun layanan dasar masyarakat.

Data Korban Terus Bertambah

Berdasarkan dashboard Satu Data Bencana Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dampak bencana hingga saat ini mencatat angka yang mencengangkan:

260 orang meninggal dunia

72 orang masih dinyatakan hilang

382 orang mengalami luka-luka

296.307 jiwa terdampak langsung

Angka tersebut diperkirakan masih dapat berubah seiring berlanjutnya proses pencarian dan identifikasi korban.

Kesehatan Pengungsi Mulai Memburuk

Tak hanya korban jiwa, kondisi kesehatan para pengungsi kini menjadi persoalan serius. Tim Paramedis Jalanan Sumbar menemukan berbagai gangguan kesehatan fisik dan psikologis yang dialami warga selama bertahan di lokasi pengungsian.

Koordinator Paramedis Jalanan Sumbar, Sarah Uzlifah, mengatakan pemeriksaan kesehatan telah dilakukan sejak 30 November 2025, dengan menyisir sejumlah titik terdampak parah seperti:

Batu Busuk

Gurun Laweh

Tabiang Batu Gadang, Kota Padang

Palembayan, Kabupaten Agam

Koto Tuo Sani dan Malalo, Kabupaten Solok

“Keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah sakit kepala, asam lambung, demam, serta luka akibat bencana. Kondisi psikologis pengungsi juga tidak lepas dari tekanan,” ujar Sarah, Kamis (4/12/2025).

Ia menambahkan, banyak pengungsi mengalami sulit tidur, kecemasan berlebih, hingga trauma mendalam akibat peristiwa banjir bandang yang datang secara tiba-tiba.

“Ini juga perlu penanganan lanjutan, tidak bisa diabaikan,” kata Sarah, yang saat ini menempuh pendidikan magister di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Hunian Padat Perparah Kondisi Kesehatan

Kondisi tempat tinggal sementara pengungsi disebut sangat memengaruhi kesehatan mereka. Hunian yang padat, minim privasi, serta keterbatasan akses air bersih dan sanitasi menjadi masalah utama.

“Di Palembayan misalnya, banyak warga mengungsi di rumah saudaranya. Rumah yang seharusnya ditempati satu kepala keluarga, kini diisi hingga tiga kepala keluarga,” ungkap Sarah.

Situasi ini membuat pengungsi rentan terserang penyakit menular, kelelahan fisik, serta tekanan mental berkepanjangan.

Kelompok Rentan Butuh Perhatian Khusus

Paramedis Jalanan Sumbar menyoroti kondisi kelompok rentan seperti:

Ibu hamil

Anak-anak

Lansia

Dari hasil pemeriksaan lapangan, kelompok ini menunjukkan tanda-tanda kelelahan serius dan membutuhkan pemantauan medis secara berkala.

“Kami berharap masalah ini menjadi perhatian bersama. Penanganan kesehatan tidak bisa hanya datang sesekali, tetapi harus berkelanjutan, terutama untuk kelompok rentan,” tegas Sarah.

Kolaborasi Kemanusiaan Terus Diperluas

Ke depan, Paramedis Jalanan Sumbar memastikan akan melanjutkan pemeriksaan dan screening kesehatan di titik-titik pengungsian lain yang masih terdampak.

Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi lintas lembaga, termasuk dengan Sekolah Gender Sumbar dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang, guna memastikan pendekatan penanganan bencana yang lebih menyeluruh, adil, dan berperspektif kemanusiaan.

“Iya, kita kolaborasi agar penanganan ini tidak hanya medis, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan perlindungan warga,” pungkas Sarah.

(L6)

#BanjirSumbar #BencanaAlam #SumateraBarat

 

Serasinews.com, Agam, Sumatera Barat — Pemerintah Kabupaten Agam terus mempercepat upaya perlindungan dan pemulihan bagi warga terdampak bencana alam. Dari total 539 keluarga yang rumahnya rusak berat dan berada di kawasan rawan bencana, sebanyak 476 keluarga telah menyatakan bersedia direlokasi ke hunian sementara (huntara) yang akan segera dibangun pemerintah.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten Agam, Rinaldi, di Lubuk Basung, Senin (15/12/2025). Ia menyebutkan, seluruh keluarga yang bersedia direlokasi telah menandatangani surat pernyataan kesediaan, setelah melalui proses pendataan dan validasi bersama pemerintah nagari.

“Sebanyak 476 keluarga telah menyatakan siap menempati huntara. Data ini sudah kami validasi bersama pemerintah nagari, camat, dan wali nagari,” ujar Rinaldi.

Empat Kecamatan Jadi Lokasi Relokasi

Relokasi akan dilakukan di empat kecamatan terdampak, dengan lokasi huntara yang telah ditinjau langsung oleh tim gabungan pemerintah daerah.

Di Kecamatan Palembayan, sebanyak 225 keluarga akan direlokasi ke huntara yang dibangun di SDN 05 Kayu Pasak Nagari Salareh Aia serta lapangan voli Batu Mandi Nagari Salareh Aia Timur. Lokasi ini dinilai aman dari ancaman banjir dan longsor serta mudah diakses warga.

Sementara di Kecamatan Tanjung Raya, sebanyak 183 keluarga akan menempati huntara di Linggai Park, Nagari Duo Koto, yang dinilai strategis dan dekat dengan fasilitas umum.

Adapun di Kecamatan Ampek Koto, terdapat 54 keluarga yang akan direlokasi ke huntara di lahan DOB Nagari Balingka. Sedangkan di Kecamatan Malalak, sebanyak 14 keluarga akan menempati huntara di lapangan Lampeh Jorong Bukik Malanca, Nagari Malalak Timur.

“Seluruh lokasi telah kami tinjau bersama camat dan wali nagari, dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan kelayakan huni,” jelas Rinaldi.

63 Keluarga Masih Menolak Direlokasi

Meski demikian, pemerintah mencatat masih ada 63 keluarga yang menolak direlokasi. Penolakan tersebut umumnya disebabkan oleh keterikatan emosional terhadap rumah lama, kekhawatiran kehilangan mata pencaharian, serta keengganan meninggalkan tanah milik sendiri.

Pemerintah daerah, kata Rinaldi, akan terus melakukan pendekatan persuasif dan dialog agar warga memahami risiko tinggal di zona merah, khususnya di wilayah bantaran sungai dan daerah rawan longsor.

“Keselamatan warga adalah prioritas utama. Rumah yang rusak berat ini berada di kawasan berisiko tinggi,” tegasnya.

Pembangunan Libatkan TNI, Dibiayai BNPB

Dalam waktu dekat, Pemkab Agam akan melakukan survei teknis lanjutan di seluruh lokasi huntara sebelum pembangunan dimulai. Untuk mempercepat proses, pembangunan huntara akan melibatkan TNI.

Hunian sementara yang dibangun bertipe 21, dilengkapi dapur, akses jalan, dan fasilitas pendukung lainnya agar layak dihuni. Seluruh pembiayaan pembangunan bersumber dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Pemerintah menargetkan pembangunan huntara rampung sebelum akhir Desember 2025, sehingga warga dapat segera menempati tempat tinggal yang aman.

“Setelah survei selesai, pembangunan langsung dimulai. Target akhir Desember sudah bisa dihuni,” kata Rinaldi.

Menuju Hunian Tetap Tahun 2026

Rinaldi menegaskan, huntara bersifat sementara dan akan digunakan hingga hunian tetap (huntap) selesai dibangun. Pemkab Agam telah merencanakan pembangunan huntap bagi korban bencana pada tahun 2026 sebagai bagian dari pemulihan jangka panjang.

“Huntara ini menjadi jembatan menuju hunian tetap. Pemerintah berkomitmen memastikan warga bisa kembali hidup aman dan bermartabat,” pungkasnya.

Langkah cepat ini diharapkan mampu menekan risiko bencana lanjutan sekaligus memberikan kepastian dan rasa aman bagi ratusan keluarga terdampak bencana di Kabupaten Agam.

(Rini/Mond)
#KorbanBencanaAgam #BencanaAlam
#KabupatenAgam

 

Serasinews.com; Agam, Sumatera Barat — Dampak rangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Agam kian nyata. Banjir bandang, tanah longsor, banjir, hingga angin puting beliung dalam beberapa hari terakhir tidak hanya menelan ratusan korban jiwa, tetapi juga memicu kerusakan masif di berbagai sektor kehidupan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam mencatat total kerugian sementara mencapai Rp 863,79 miliar. Angka tersebut meningkat signifikan dari pendataan awal sebesar Rp 682,35 miliar, seiring masih berlangsungnya proses verifikasi di lapangan.

“Data ini masih bersifat sementara hingga Jumat malam, 12 Desember 2025. Pendataan masih dilakukan oleh organisasi perangkat daerah di 16 kecamatan terdampak,” kata Kepala Pelaksana BPBD Agam, Rahmat Lasmono, di Lubuk Basung, Sabtu (13/12/2025).

Pendidikan dan Permukiman Warga Rusak Parah

Sektor pendidikan menjadi salah satu yang terdampak cukup serius. Sebanyak 102 unit fasilitas pendidikan dilaporkan rusak, mulai dari TK hingga SMP, dengan total kerugian mencapai Rp 7,98 miliar. Kerusakan meliputi 22 unit TK/PAUD, 65 sekolah dasar, dan 15 sekolah menengah pertama.

Kerusakan terparah terjadi pada sektor permukiman. BPBD mencatat kerugian rumah warga mencapai Rp 355,81 miliar, dengan rincian 493 rumah rusak ringan, 359 rumah rusak sedang, serta 806 rumah rusak berat yang sebagian besar hanyut atau tertimbun material longsor.

Infrastruktur Lumpuh

Bencana juga melumpuhkan infrastruktur vital. Sebanyak 49 titik jalan dan 69 jembatan mengalami kerusakan, mengakibatkan terputusnya akses antarwilayah dan menghambat distribusi logistik serta proses evakuasi.

Kerugian sektor infrastruktur—meliputi jalan, jembatan, dan fasilitas pendukung lainnya—ditaksir mencapai Rp 403,14 miliar, menjadikannya sektor dengan kerugian terbesar.

Sektor Pangan Terpukul

Sektor pertanian, peternakan, dan perikanan turut mengalami kerusakan serius. BPBD mencatat 1.948,23 hektare lahan pertanian rusak, 126 jaringan irigasi terdampak, 16 bendungan mengalami kerusakan, serta 5.025 ekor ternak mati atau hilang. Kerugian sektor ini diperkirakan mencapai Rp 82,91 miliar.

Sementara itu, sektor perikanan mencatat kerugian sebesar Rp 12,34 miliar, akibat rusaknya kolam dan keramba serta hanyutnya ikan dan benih.

Rumah Ibadah dan Korban Jiwa

Sebanyak 11 unit rumah ibadah dilaporkan rusak dengan total kerugian Rp 1,58 miliar.

Dari sisi kemanusiaan, bencana ini menjadi salah satu yang paling mematikan dalam sejarah Kabupaten Agam. Hingga Sabtu, BPBD mencatat 192 orang meninggal dunia, tujuh orang masih dirawat, dan 54 orang terdampak atau terisolasi. Selain itu, 72 orang masih dinyatakan hilang, mayoritas berada di Kecamatan Palembayan.

Ribuan Warga Mengungsi

Sebanyak 5.086 warga terpaksa mengungsi ke sejumlah lokasi pengungsian darurat. Pengungsi terbanyak berada di Kecamatan Tanjung Raya, disusul Palembayan, Matur, Palupuh, Malalak, dan Ampek Koto.

Pemerintah daerah bersama aparat gabungan dan relawan terus berupaya memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi, termasuk pangan, layanan kesehatan, dan dukungan psikososial.

Pemulihan Masih Panjang

BPBD menegaskan nilai kerugian Rp 863,79 miliar belum bersifat final dan masih berpotensi meningkat. Pendataan lanjutan akan menjadi dasar penyusunan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Tragedi ini menjadi peringatan serius akan tingginya kerentanan wilayah terhadap cuaca ekstrem, sekaligus tantangan besar bagi Kabupaten Agam untuk bangkit dari salah satu bencana terkelam dalam beberapa tahun terakhir.

(B1)
#BanjirAgam #SumateraBarat
#BPBDKabupatenAgam
#BencanaAlam

 

Serasinews.com, Padang — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memberi sinyal kuat bahwa status tanggap darurat bencana akan diperpanjang. Kerusakan yang masih luas dan lambatnya pemulihan di sejumlah wilayah pascabencana banjir, longsor, dan banjir bandang yang terjadi sejak akhir November 2025 menjadi alasan utama pemerintah belum dapat menutup fase darurat tersebut.

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, menegaskan bahwa sejumlah pekerjaan krusial di lapangan belum rampung.

“Pekerjaan tanggap darurat kita masih ada dan belum selesai. Sudah pasti akan diperpanjang karena penyelesaiannya memang belum tuntas,” ujar Mahyeldi di Padang, Minggu (7/12/2025).

Keputusan resmi mengenai perpanjangan status darurat akan diputuskan pada 8 Desember 2025, setelah seluruh kepala daerah mengirimkan laporan terbaru mengenai kondisi masing-masing wilayah.

Daerah Mulai Stabil dan Daerah Masih Kritis

Dalam laporan awal, Mahyeldi menyebut ada beberapa daerah yang mulai berangsur pulih, seperti:

Kota Solok

Kota Payakumbuh

Kota Bukittinggi

Namun sejumlah daerah lain masih berada dalam situasi kritis, di antaranya:

Kabupaten Agam

Kota Pariaman

Pesisir Selatan

serta beberapa wilayah lain yang masih fokus pada proses evakuasi.

Akses jalan dan jembatan di daerah perbukitan dan lembah sungai masih banyak yang terputus, menghambat distribusi logistik. Beberapa lokasi bahkan hanya dapat dijangkau kendaraan roda dua atau dibantu penyaluran manual oleh relawan.

“Ada titik-titik yang masih terisolasi. Akibat akses yang rusak, distribusi bantuan belum bisa berjalan optimal,” jelas Mahyeldi.

Kebutuhan Dasar Masih Mendesak

Pemprov Sumbar memastikan ketersediaan dan distribusi kebutuhan dasar bagi warga terdampak, terutama:

bahan pangan dan makanan siap konsumsi,

air bersih serta tandon penampungan,

perlengkapan tidur dan kebutuhan sanitasi,

paket khusus untuk ibu hamil, menyusui, dan balita.

Pemerintah terus mengupayakan penyambungan jaringan air yang terputus dan memaksimalkan suplai melalui mobil tangki.

20 Ribu Pengungsi dan Banyak Rumah Rusak Berat

Saat ini sekitar 20 ribu warga masih mengungsi, terutama mereka yang rumahnya rusak berat atau tinggal di area rawan yang belum boleh dihuni.

Para pengungsi tersebar di:

tenda-tenda darurat,

posko pengungsian,

dan hunian sementara (huntara) yang tengah dibangun.

Tim teknis sedang melakukan penilaian kelayakan lokasi permukiman. Pemerintah akan membantu pembangunan rumah bagi warga yang memiliki lahan, sementara bagi yang tidak memiliki tanah, akan disiapkan lokasi relokasi.

Banyak permukiman dinyatakan tidak layak huni karena berada pada jalur banjir bandang atau zona rawan longsor.

Bantuan Mengalir dari Berbagai Daerah

Dukungan bagi Sumatera Barat datang dari berbagai provinsi, seperti Riau dan Jambi, serta dari kabupaten/kota lain di Sumatra. Bantuan disalurkan melalui berbagai pihak:

TNI/Polri

Basarnas

BPBD

Relawan dan organisasi kemanusiaan

Komunitas masyarakat

Kolaborasi ini penting untuk mencegah penumpukan logistik dan memastikan alat berat yang membuka akses jalan dapat bekerja tanpa hambatan.

Menunggu Keputusan Perpanjangan Tanggap Darurat

Melihat kompleksitas situasi dan banyaknya sektor yang belum pulih, perpanjangan status tanggap darurat hampir tak terhindarkan. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan waktu tambahan bagi pemerintah untuk:

mempercepat perbaikan infrastruktur vital,

memperluas distribusi bantuan,

mempercepat pembangunan huntara,

serta memastikan seluruh pengungsi terpenuhi kebutuhannya.

Keputusan final dari Pemprov Sumbar akan diumumkan pada Senin, 8 Desember 2025.

(Rini/Mond)

#BencanaSumbar #BanjirSumbar #BencanaAlam #SumateraBarat

 

Serasinews.com, Jakarta — Gelombang banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak 24 November 2025 kini tercatat sebagai salah satu bencana paling mematikan dalam 20 tahun terakhir.
Hingga Minggu (7/12/2025) pukul 08.20 WIB, BNPB melaporkan 916 korban jiwa, sementara 274 orang masih hilang. Data ini bersumber dari Dashboard Penanganan Banjir dan Longsor Sumatra yang diperbarui berkala.

Update per 7 Desember 2025: meninggal 916 jiwa, hilang 274 jiwa, terluka 4,2 ribu jiwa,” tulis BNPB dalam keterangannya.

Kerusakan Fisik Meluas: Infrastruktur Lumpuh di Banyak Titik

Skala kerusakan membuat sejumlah wilayah praktis terisolasi. BNPB mencatat:

1.300 fasilitas umum rusak

420 rumah ibadah terdampak

199 fasilitas kesehatan tak berfungsi optimal

234 gedung pemerintahan rusak

697 fasilitas pendidikan terdampak

405 jembatan rusak atau putus

105.900 rumah rusak dari ringan hingga total

Kerusakan ini memutus rantai transportasi dan distribusi, membuat proses evakuasi serta pengiriman bantuan berlangsung sangat lambat.

Korban Terus Bertambah

Pada hari sebelumnya (6/12), korban meninggal berada di angka 914 jiwa. Dalam konferensi pers, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan sebaran korban:

Aceh: 359 jiwa

Sumatra Utara: 329 jiwa

Sumatra Barat: 226 jiwa

Ia menegaskan bahwa operasi pencarian masih berlangsung nonstop, namun medan ekstrem dan cuaca buruk menjadi tantangan terbesar.

Penyebab Bencana: Kombinasi Cuaca Ekstrem & Degradasi Lingkungan

Para ahli menilai besarnya dampak bencana ini merupakan hasil dari tumpang-tindih faktor atmosfer dan kerusakan lingkungan.

1. Curah Hujan Ekstrem & Aktivitas Atmosfer Tinggi

Ketua Prodi Meteorologi ITB Muhammad Rais Abdillah menjelaskan bahwa Sumatra utara sedang berada pada puncak musim hujan, dengan intensitas yang mencapai 300 mm/hari di beberapa titik.
Pembentukan Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka turut meningkatkan konsentrasi awan hujan, diperkuat fenomena lain seperti cold surge vortex dan sistem awan skala meso.

2. Lingkungan yang Rusak Tidak Lagi Menyerap Air

Dosen ITB Heri Andreas menegaskan bahwa perubahan fungsi lahan membuat wilayah tersebut kehilangan kemampuan alami untuk meresapkan air.
Daerah yang dahulu berhutan kini berubah menjadi area permukiman, perkebunan, hingga lahan terbuka—menyebabkan air hujan langsung mengalir ke sungai dengan volume besar.

3. Berkurangnya Ruang Tampung Alami

Rawa, hutan rawa, dan dataran banjir—yang seharusnya menjadi penahan air—telah banyak berubah fungsi. Kondisi ini membuat wilayah tak mampu menahan tekanan air saat hujan ekstrem datang.

Situasi Pengungsian: Minim Logistik, Akses Terbatas

Ribuan warga bertahan di tenda pengungsian yang penuh sesak. Air bersih terbatas, obat-obatan menipis, dan penyakit infeksi mulai muncul di kalangan anak-anak.
Sejumlah lokasi hanya dapat dijangkau melalui udara, menggunakan helikopter BNPB dan TNI.

Seruan Ahli: Tata Ruang Sumatra Harus Dievaluasi Total

Para pakar mendesak pemerintah untuk melakukan pembenahan besar-besaran terkait:

pengelolaan DAS,

tata ruang berbasis risiko,

pemulihan vegetasi,

serta peningkatan sistem peringatan dini.

“Jika perubahan lahan tak dikendalikan, bencana serupa hanya menunggu waktu,” ujar Heri.

Banjir dan longsor ini bukan sekadar musibah akibat curah hujan ekstrem; ini adalah cerminan rapuhnya ekosistem dan tata ruang.
Upaya pencarian masih berlangsung, dan kemungkinan jumlah korban terus bertambah.

Pesan para ahli jelas: memperbaiki lingkungan dan tata ruang bukan lagi opsi—melainkan kebutuhan mendesak.

(L6)
#BNPB #UpdateKorbanBanjirSumatera
#BencanaAlam

 

Serasinews.com,  Sumatera — Jumlah korban jiwa akibat rangkaian banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kembali bertambah. Hingga Sabtu (6/12/2025), BNPB melaporkan 914 orang meninggal dunia, naik 47 korban dari hari sebelumnya.

Dalam konferensi pers, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, merinci sebaran korban yang membuat publik terkejut:

Aceh: 359 jiwa (naik 14 dari sebelumnya 345)

Sumatera Utara: 329 jiwa

Sumatera Barat: 226 jiwa

“Ini data terbaru hingga Sabtu siang, hasil sinkronisasi dengan tim SAR gabungan di lapangan,” jelas Muhari.

389 Orang Masih Hilang

Jumlah warga yang masih dicari turun dari 521 menjadi 389 orang, sebuah penurunan signifikan yang sedikit memberi harapan di tengah duka. Banyak warga yang awalnya dilaporkan hilang ternyata ditemukan selamat di titik-titik pengungsian.

Meski demikian, Muhari menegaskan bahwa 389 orang yang belum ditemukan merupakan angka sangat besar sehingga setiap menit pencarian sangat menentukan. Tim SAR kini memperluas area pencarian hingga ke sepanjang aliran sungai, hutan terisolasi, dan lembah yang tertimbun longsor.

Mengapa Dampaknya Begitu Dahsyat?

Menurut BNPB dan para akademisi, sedikitnya tiga faktor kunci saling memperparah besarnya bencana di Sumatera.

1. Atmosfer Sangat Aktif: Siklon, Vortex, dan Hujan Ekstrem

Ketua Program Studi Meteorologi ITB, Muhammad Rais Abdillah, menyebut bahwa Sumatera Utara sedang berada pada puncak musim hujan. Sejumlah data menunjukkan:

Curah hujan mencapai 150–300 mm per hari

Beberapa stasiun BMKG mencatat lebih dari 300 mm, setara dengan level ekstrem banjir Jakarta 2020

Pada 24 November terbentuk vortex dari Semenanjung Malaysia yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka

Siklon ini meningkatkan suplai uap air dan memperluas wilayah hujan, sehingga curah hujan menjadi sangat deras, luas, dan berlangsung lama.

2. Kerusakan Lingkungan Memperburuk Dampak

Menurut Heri Andreas, Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, tingginya kerusakan lingkungan mempercepat terjadinya bencana. Hilangnya tutupan vegetasi, perubahan fungsi lahan, ekspansi permukiman dan perkebunan intensif, serta berkurangnya kapasitas tanah menyerap air membuat volume air besar langsung mengalir deras ke lembah dan sungai, memicu banjir bandang.

3. Kapasitas Tampung Wilayah yang Melemah

Banyak wilayah terdampak telah lama berada di titik kritis—sungai menyempit, sedimentasi tinggi, drainase buruk, serta minimnya kawasan resapan. Kondisi ini membuat infrastruktur pengendali air tak lagi mampu menahan limpasan dalam skala besar.

Heri menambahkan bahwa peta bahaya banjir di Indonesia masih belum memadai sehingga mitigasi risiko belum berjalan efektif.

Luka Panjang Sumatera: Antara Kehilangan dan Harapan

Bencana yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November ini menjadi salah satu yang terburuk dalam satu dekade terakhir. Lebih dari 914 keluarga kehilangan orang tercinta, ratusan lainnya masih hilang, dan ribuan warga terpaksa mengungsi.

Meski demikian, kabar ditemukannya penyintas dari daftar orang hilang menjadi secercah harapan di tengah gelombang duka.

Pencarian, evakuasi, dan pemulihan terus dilakukan. Sementara itu, satu pertanyaan besar kembali muncul:

Seberapa siap kita menghadapi bencana yang kini datang kian sering?

(L6)
#UpdateKorbanBanjirSumatera #BencanaAlam #BanjirSumatera

 

Serasinews.com, Sumatera Barat – Setelah banjir dan longsor melanda Sumatera Barat akhir November 2025, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat lonjakan kasus demam tertinggi di provinsi ini. Dari 25–29 November, tercatat 376 kasus demam di lima kabupaten terdampak: Pasaman, Pasaman Barat, Agam, Pesisir Selatan, dan Tanah Datar.

Selain demam, keluhan kesehatan lain yang muncul antara lain:

Nyeri otot (myalgia): 201 kasus

Gatal-gatal: 120 kasus

Gangguan pencernaan (dispepsia): 118 kasus

Infeksi saluran pernapasan (ISPA): 116 kasus

Hipertensi: 77 kasus

Luka-luka: 62 kasus

Sakit kepala: 46 kasus

Diare: 40 kasus

Asma: 40 kasus

Kemenkes menilai pola ini mirip dengan bencana sebelumnya, di mana penyakit berbasis lingkungan langsung meningkat saat kondisi darurat belum stabil.

Kasus Serupa di Sumatera Utara, Pola Berbeda di Aceh
Di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, kasus demam juga melonjak, mencapai 277 kasus pada 25 November–1 Desember. Sementara di Pidie Jaya, Aceh, keluhan yang paling banyak justru luka-luka, diikuti ISPA dan diare, menandakan perbedaan dampak sesuai kondisi lokal.

Demam Jadi Tanda Awal Lingkungan Belum Pulih
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, menjelaskan, demam muncul cepat karena tempat pengungsian padat, akses air bersih terbatas, dan paparan lingkungan yang kotor. “Banjir dan longsor meninggalkan lingkungan yang rentan: air tercemar, rumah rusak, dan layanan kesehatan terbatas,” ujar Agus.

Respons Kemenkes
Untuk menekan risiko komplikasi, Kemenkes menurunkan tenaga medis tambahan dan mempercepat distribusi obat-obatan, cairan infus, antibiotik, serta paket sanitasi.

Peringatan Pascabencana
Ahli epidemiologi menekankan, fase pemulihan pascabencana adalah periode paling kritis. Jika sanitasi tidak membaik dalam 2–3 minggu, risiko diare akut, leptospirosis, infeksi kulit, dan ISPA meningkat. Kemenkes mendorong pemerintah daerah mempercepat normalisasi air bersih, perbaikan tempat pengungsian, dan edukasi kebersihan bagi pengungsi.

(BI)
#Kemenkes #BanjirSumbar
#BencanaAlam

 

Serasinews.com, Jakarta – Gelombang bencana terbesar dalam sepuluh tahun terakhir kembali meninggalkan jejak luka mendalam di Sumatera. Banjir bandang serta longsor yang menyapu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kini memasuki fase paling memilukan.

Pada Kamis (4/12), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pembaruan data terbaru: skala kerusakan jauh melampaui perkiraan awal.
Hingga hari ini, 776 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 564 lainnya masih hilang. Di tengah tumpukan puing dan kubangan lumpur, keluarga korban terus mencari harapan yang tersisa.

Selain korban jiwa, 2.600 warga mengalami luka-luka, mulai dari cedera ringan hingga trauma berat. Sumatera Utara tercatat sebagai provinsi yang paling parah terdampak, disusul Aceh dan Sumatera Barat.

10,4 Ribu Rumah Rata Tanah – 51 Kabupaten/Kota Luluh Lantak

Data BNPB menggambarkan betapa dahsyatnya terjangan bencana kali ini. Permukiman dari pesisir hingga lereng bukit porak-poranda. Rumah warga ambruk, fasilitas umum rusak, dan akses antardaerah terputus.

Kerusakan yang tercatat meliputi:

Rumah & Infrastruktur Warga

10.400 rumah hancur

295 jembatan putus, membuat banyak wilayah benar-benar terisolasi

132 rumah ibadah mengalami kerusakan

Fasilitas Publik

354 fasilitas umum terdampak

213 sekolah rusak

100 gedung pelayanan publik lumpuh

9 fasilitas kesehatan rusak, menghambat layanan medis

Ribuan pengungsi kini bertahan di titik-titik penampungan darurat dengan logistik yang masih terbatas.

Bantuan Mengalir: Dari Sembako hingga Starlink

Untuk mempercepat pemulihan darurat, BNPB mengirimkan bantuan ke berbagai lokasi terdampak di tiga provinsi.

Bantuan yang telah disalurkan mencakup:

4.400 paket sembako

49 perangkat Starlink untuk memulihkan komunikasi di wilayah yang terputus

1.100 matras

67 koli pakaian

40 tenda pengungsian

Perangkat Starlink menjadi tulang punggung komunikasi darurat setelah banyak menara BTS roboh dan jaringan fiber optik terputus tertimbun longsor.

Duka Menggenang Bersama Lumpur

Banjir besar yang datang seketika dan longsor yang menyapu pemukiman membuat banyak warga tak sempat menyelamatkan apapun. Tim SAR masih berjuang menembus lumpur setinggi pinggang, sementara alat berat sulit bergerak akibat jalan runtuh.

Di tenda-tenda pengungsian, relawan medis mencatat peningkatan kasus infeksi kulit, demam, dan gangguan psikologis, terutama pada anak-anak dan lansia.

Jalan Panjang Menuju Pemulihan

Meski cuaca mulai membaik, ancaman banjir susulan dan longsor masih membayangi, terutama di kawasan perbukitan yang tanahnya sudah jenuh air. BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti instruksi pemerintah daerah.

Bencana ini diperkirakan menjadi salah satu yang paling mematikan dan merusak di Sumatera dalam satu dekade terakhir, menuntut sinergi besar antara pemerintah, relawan, dan masyarakat.

(K)
#BNPB #UpdateKorbanBanjirSumatera
#BanjirSumatera #BencanaAlam

 

Serasinews.com, Jakarta — Curah hujan ekstrem yang menghantam wilayah Sumatra sejak akhir November berubah menjadi bencana besar. Laporan terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Rabu pagi mencatat 753 korban meninggal, 650 orang hilang, dan lebih dari 2.600 warga terluka. Data ini diperoleh dari pembaruan dashboard resmi penanganan bencana.

Peristiwa ini kini termasuk salah satu bencana hidrometeorologi paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir. BNPB menyebutkan dampak terberat dirasakan di tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan total warga terdampak mencapai 3,3 juta jiwa.

Korban Menurut Wilayah

Jumlah korban meninggal terbagi atas 301 jiwa di Sumatera Utara, 234 jiwa di Sumatera Barat, dan 218 jiwa di Aceh. Aceh dan Sumbar menjadi wilayah dengan laporan orang hilang terbanyak. Tim SAR masih menjangkau sejumlah area yang lama terisolasi, sehingga angka tersebut diperkirakan dapat bertambah.

Kerusakan fisik juga mencengangkan: sekitar 3.600 rumah rusak berat, 2.100 rusak sedang, dan 3.700 rusak ringan. Banyak jembatan, akses jalan, sekolah, hingga fasilitas kesehatan mengalami kerusakan serius.

Operasi di Lapangan

Basarnas, BNPB, TNI/Polri, serta relawan bergerak serentak melakukan pencarian dan evakuasi. Sejumlah daerah hanya bisa ditembus lewat udara akibat tanah longsor dan jembatan yang runtuh. Kondisi cuaca yang tak menentu memperlambat operasi.

Pemerintah menambah pengiriman logistik dan armada udara untuk menjangkau wilayah terpencil. Pendataan ulang masih dilakukan, sehingga estimasi korban dapat berubah sewaktu-waktu.

Suasana Pengungsian dan Gelombang Bantuan

Di lokasi pengungsian, duka menyelimuti warga yang kehilangan keluarga dan tempat tinggal. Tim medis bekerja intensif menangani luka serta trauma. Dari media sosial, beredar luas gambar permukiman yang rata oleh banjir, rumah terseret arus, dan jalan yang terbelah.

Meski begitu, solidaritas masyarakat terlihat kuat. Relawan lokal, organisasi kemanusiaan, hingga warga dari provinsi lain terus berdatangan membawa logistik dasar, meskipun distribusi kerap terhambat akses yang rusak.

Faktor Penyebab

Ahli meteorologi menyebut hujan ekstrem dipicu sistem sirkulasi siklonik di sekitar perairan Sumatra. Kerusakan lingkungan—mulai dari deforestasi hingga perubahan tata guna lahan—memperbesar risiko banjir bandang dan longsor. Evaluasi tata ruang dan penguatan mitigasi bencana dinilai semakin mendesak.

Kebutuhan Mendesak

Prioritas saat ini meliputi:

Pencarian dan evakuasi korban yang belum ditemukan.

Distribusi logistik: makanan, air bersih, obat-obatan, perlengkapan pengungsian.

Pelayanan kesehatan dan dukungan psikologis bagi pengungsi.

Pembukaan akses sementara untuk mempercepat pergerakan bantuan.

Pendataan identitas korban dan keluarga terdampak.

Melangkah ke Depan

Bencana ini menorehkan luka mendalam bagi jutaan warga. Namun fase pemulihan juga menjadi kesempatan memperbaiki tata kelola lingkungan, memperkuat infrastruktur tahan bencana, dan membangun sistem peringatan dini yang lebih efektif. Dalam waktu dekat, fokus utama tetap pada penyelamatan nyawa serta pemulihan yang adil dan transparan.

(L6)
#BNPB #BanjirSumatera
#BencanaAlam
#UpdateKorbanBanjitSumatera

 

Serasinews.com,Sumatera Barat – Di ruang pendingin RS Bhayangkara Padang, deretan kantong jenazah tersusun rapi seperti barisan sunyi yang menunggu untuk dipulangkan. Di balik plastik dingin itu, puluhan anak—yang beberapa hari lalu masih bermain di halaman rumah mereka—kini terbaring tanpa nama. Banjir bandang yang menerjang Sumatera Barat bukan hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghapus jejak identitas.

Tim DVI berpacu dengan waktu yang terus mengecil. Wajah-wajah mungil itu telah kehilangan bentuk yang bisa dikenali. Lumpur, arus deras, dan waktu bekerja bersama menghapus tanda-tanda terakhir yang mungkin bisa dikenali keluarga.

Sebagian besar korban adalah anak-anak. Sidik jari tidak bisa digunakan karena belum berkembang sempurna. Secara visual juga sudah sangat sulit,” ujar Ps. Kepala RS Bhayangkara Padang, dr. Harry Andromeda, Selasa (2/12), dengan suara yang mencoba menahan berat suasana.

Di meja antemortem, lembar-lembar laporan orang hilang masih kosong. Belum ada satu pun data yang sesuai dengan 25 jenazah kecil berstatus Mr. X—atau lebih tepatnya Little X—anak-anak yang belum ditemukan oleh siapa pun.

Kemungkinan orang tua mereka juga menjadi korban. Tidak ada yang datang mencari, dan itu menghentikan proses identifikasi,” tambah Harry.

DNA: Upaya Terakhir

Ketika wajah tak lagi dikenali dan sidik jari tak bisa digunakan, DNA menjadi harapan terakhir. Gigi, tulang, hingga jaringan tubuh diambil dengan hati-hati, seolah petugas sedang merawat sisa-sisa identitas yang masih tersisa.

Namun langkah itu pun terbentur hambatan besar. DNA tak berarti tanpa pembanding. Tanpa keluarga, tidak ada data yang bisa dicocokkan.

Semua sampel sudah kami kumpulkan, tetapi tanpa pembanding, proses identifikasi tidak bisa dilanjutkan,” tegas Harry.

Di ruang lain, petugas DVI terus menatap formulir-formulir kosong—tempat seharusnya nama seorang anak bisa kembali dituliskan untuk terakhir kalinya.

Imbauan untuk Warga: Datang ke RS atau Posko DVI

Satu-satunya harapan kini tertuju pada masyarakat. Siapa pun yang kehilangan anak, cucu, keponakan, atau kerabat kecil diminta segera mendatangi RS Bhayangkara Padang atau posko DVI di wilayah masing-masing.

Setetes darah, sehelai rambut, atau sampel air liur bisa menjadi kunci untuk membawa seorang anak kembali pada identitasnya.

Kendala Baru: Ruang Pendingin Terbatas

Di tengah semua upaya, RS Bhayangkara menghadapi persoalan lain: keterbatasan ruang pendingin. Ruangan yang hening dan dingin itu terlalu kecil untuk menampung begitu banyak duka.

Kami hanya memiliki empat ruang pendingin. RS M Djamil dua, RS Unand dua. Sisanya kami titipkan. Bahkan kami mendapat bantuan mobil boks pendingin dari Dinas Pertanian,” kata Harry, menggambarkan situasi di mana rumah sakit berubah menjadi tempat penampungan duka yang tak pernah diduga.

Jenazah-jenazah kecil itu kini tersebar di beberapa fasilitas kesehatan, menunggu seseorang datang membawa kembali nama yang pernah mereka dengar sebelum tidur: ibu, ayah, nenek, atau siapa saja yang pernah menggenggam tangan mereka.

(Rini/Mond)
#BanjirSumbar #BencanaAlam #SumateraBarat #BanjirBandang

 

Serasinews.com, Sumbar – Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah mengungkapkan bahwa hantaman banjir bandang dan longsor yang menyapu provinsi itu selama dua pekan terakhir telah meninggalkan kerusakan dalam skala yang jauh lebih besar dari dugaan awal. Dalam perkiraan sementara, nilai kerugian kini melampaui Rp1 triliun, dipatok sekitar Rp1,2 triliun.

“Kerusakan kita besar, lebih dari Rp1 triliun. Di sektor pertanian saja, sekitar 13 ribu hektare lahan terdampak,” kata Mahyeldi usai menghadiri Apresiasi Kinerja Pemerintahan Daerah 2025 di Jakarta, Senin (1/12).

Angka tersebut menggambarkan betapa rumah-rumah warga, ladang penghidupan, dan jembatan penghubung luluh dalam hitungan jam, seolah tersapu oleh kekuatan alam yang tak memberi kesempatan untuk bertahan.

130 Ribu Pengungsi, 151 Tewas, 118 Belum Ditemukan

Di balik kerusakan itu, tragedi kemanusiaan membentang luas. Sekitar 130 ribu warga kini bertahan di lokasi pengungsian yang penuh sesak oleh tenda darurat dan debu tanah yang belum sempat dibersihkan.

Per 1 Desember 2025, pemerintah mencatat:

151 korban meninggal dunia

118 orang masih dinyatakan hilang

Mahyeldi menyebut proses pencarian masih berlangsung, namun medan yang berubah akibat longsor membuat upaya penyisiran memerlukan tenaga ekstra. Tim penyelamat harus menembus lumpur setinggi betis hingga pinggang, sementara alat berat terus mengaduk material longsoran yang menutupi beberapa area.

30 Ribu Rumah Rusak, Fasilitas Sosial Lumpuh

Sekitar 30 ribu rumah dilaporkan rusak dengan tingkat keparahan berbeda-beda. Bencana juga memukul fasilitas vital seperti:

sekolah dan rumah sakit,

saluran irigasi,

jembatan penghubung desa dan kecamatan,

sejumlah ruas jalan utama.

Sumbar kini berada pada fase pemulihan yang menuntut sumber daya besar dan kerja berbulan-bulan.

Wilayah dengan Dampak Terberat

Beberapa kawasan yang mengalami kerusakan ekstrem berada di jalur rawan longsor, termasuk:

Malalak (Agam)

Selaras Air

Batu Busuk, Padang

Lubuk Minturun

Perbatasan Padang Panjang–Batusangkar

Pasaman Barat

Di Malalak, sebagian badan jalan amblas dan pecah seperti retakan kulit bumi, sementara aliran sungai berubah arah membawa bebatuan besar dari wilayah hulu.

Proses Perbaikan Sudah Dimulai

Meski kerusakan meluas, perbaikan infrastruktur prioritas mulai dilakukan. Mahyeldi menargetkan ruas-ruas jalan utama dapat pulih dalam waktu sekitar satu bulan, sehingga distribusi bantuan dan aktivitas warga bisa kembali bergerak.

“Bantuan harus tetap sampai ke warga. Semua kita perbaiki secara bertahap,” tegasnya.

(Rini/Mond)
#BanjirSumbar #BencanaAlam #SumateraBarat

 

Serasinews.com, Jakarta — Duka di Sumatera kian menebal. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pembaruan terbaru mengenai banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pada Selasa (2/12), jumlah korban meninggal melonjak menjadi 604 orang—bertambah lebih dari 160 jiwa hanya dalam satu kali pembaruan.

Kenaikan signifikan ini terjadi setelah tim gabungan akhirnya berhasil mencapai wilayah-wilayah yang sebelumnya terputus oleh lumpur dan material longsor. “Begitu jalur udara terbuka, skala kerusakan baru benar-benar terlihat,” ujar seorang pejabat BNPB dalam laporan resmi lembaga tersebut.

Di tengah temuan itu, 464 orang masih hilang, diduga terseret arus bandang ketika hujan ekstrem mengguyur kawasan perbukitan dan aliran sungai di tiga provinsi tersebut.

Dampak Meluas: 1,5 Juta Warga Terdampak, 570 Ribu Mengungsi

Rentetan bencana ini meninggalkan jejak kehancuran yang amat luas. BNPB mencatat:

1,5 juta jiwa terdampak langsung

570.700 orang mengungsi di 50 kabupaten/kota

Di banyak lokasi, tenda pengungsian menjelma menjadi pulau-pulau kecil tempat warga bertahan hidup. Anak-anak belajar menggunakan modul darurat, dapur umum bergantian beroperasi, dan para lansia memandangi puing rumah mereka yang rata dengan tanah.

Kerusakan Fisik Masif

Skala kerusakan infrastruktur menunjukkan betapa ganasnya bencana kali ini:

3.500 rumah rusak berat

4.100 rumah rusak sedang

20.500 rumah rusak ringan

282 fasilitas pendidikan rusak

271 jembatan hancur atau tidak dapat digunakan

Di sejumlah titik, jembatan bahkan hilang tersapu arus yang membawa pohon tumbang, bebatuan besar, hingga rangka besi.

Presiden Prabowo Tinjau Lokasi

Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung titik-titik terdampak di tiga provinsi. Dari posko pengungsian di Padang hingga desa-desa yang baru dapat dijangkau helikopter, ia menerima laporan kondisi lapangan.

Pelan-pelan kita kembalikan semuanya ke normal. Kita inventarisir kerusakan dan siapkan langkah rehabilitasi agar warga bisa kembali hidup normal,” ujar Prabowo, Senin (1/12).

Meski beberapa wilayah mulai menunjukkan pemulihan, sejumlah daerah masih terisolasi total akibat jalan yang tertutup longsor. Operasi bantuan kini sangat bergantung pada jalur udara.

Ada lokasi yang hanya bisa dijangkau helikopter, tapi hari ini akses udara sudah mulai terbuka,” tambahnya.

Tim Gabungan Berjibaku

Sementara itu, ribuan personel TNI, Polri, Basarnas, BPBD, dan relawan bekerja tanpa henti. Mereka menembus lereng rapuh, menuruni tebing longsor, hingga mengangkut logistik secara manual di jalur yang tak dapat dilalui kendaraan. BNPB melaporkan sejumlah titik memerlukan upaya high-risk rescue karena kondisi tanah masih labil.

(K)
#BNPB #BanjirSumatera #BencanaAlam

Serasinews.com, Padang -Jalur By Pass Padang, salah satu koridor utama lalu lintas nasional, kini memasuki fase darurat. Curah hujan ekstrem yang berlangsung hampir dua minggu telah memicu kerusakan berat di sejumlah titik, terutama di kawasan Siti Rahmah, KM 15, Aie Pacah, hingga Koto Tangah. Beberapa ruas berubah drastis menjadi deretan lubang besar yang mengancam keselamatan pengendara.

PPK 2.1: “Kami Sedang Menghadapi Bencana Perkerasan Jalan”

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.1 Wilayah II Sumatera Barat, Zulfikar Kurniawan, ST., M.Si., menegaskan bahwa kondisi ini merupakan krisis infrastruktur yang harus segera ditangani.

“Kami sedang menghadapi bencana. Hujan deras lebih dari 12 hari menyebabkan banyak lubang, dan area sekitar Siti Rahmah masih tergenang,” ujarnya.

Kerusakan tidak hanya muncul di permukaan aspal, tetapi sudah merembet ke lapisan pondasi akibat buruknya sistem drainase. Air hujan yang tidak tertangani dengan baik meresap ke struktur jalan dan mempercepat kerusakan, bahkan berpotensi menyebabkan amblas.

Peringatan bagi Pengendara: Risiko Tinggi di Malam Hari

Lubang yang tertutup genangan air menjadi ancaman terbesar, terutama pada malam hari ketika jarak pandang menurun. Untuk mengurangi risiko kecelakaan, petugas telah memasang papan peringatan darurat bertuliskan “HATI-HATI JALAN BANYAK BERLUBANG” di titik-titik rawan.

Zulfikar mengimbau seluruh pengguna jalan untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Mohon tidak ngebut dan selalu berhati-hati. Keselamatan adalah yang utama,” tegasnya.

Penanganan Darurat dan Harapan Perbaikan Permanen

Saat ini, tim tengah melakukan patching atau penutupan lubang sebagai langkah darurat. Namun, PPK menekankan bahwa perbaikan menyeluruh baru dapat terlaksana setelah sistem drainase diperbaiki terlebih dahulu. Tanpa solusi permanen pada pengelolaan air, kerusakan akan terus berulang.

Untuk sementara, ruas By Pass KM 15 Padang masih menjadi kawasan dengan tingkat bahaya tinggi, sehingga pengguna jalan diimbau untuk ekstra berhati-hati saat melintas.

(*)

 

Serasinews.com, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara —
Kepala BNPB Suharyanto akhirnya turun ke lokasi bencana di Sumatera setelah kritik publik terus bergulir selama hampir sepekan. Kunjungan ke Desa Aek Garoga, Kecamatan Batangtoru, Minggu (30/11/2025), menjadi titik balik yang memperlihatkan perubahan sikapnya. Sesampainya di lokasi, ia terlihat terpukul menyaksikan kerusakan yang jauh di luar perkiraannya.

Jalan desa berubah menjadi aliran lumpur setinggi betis, rumah-rumah retak dan miring, sementara warga berkumpul di pinggir jalan mengharapkan bantuan pertama yang layak. Di tengah situasi itu, Suharyanto berkata pelan:

“Tapsel saya surprise… saya tidak mengira seperti ini.”

Ucapannya berbanding terbalik dengan pernyataan sebelumnya bahwa situasi di Sumbar, Sumut, dan Aceh “lebih mencekam di medsos dibanding kenyataan”, yang menuai amarah luas masyarakat, terutama dari korban bencana yang merasa dikecilkan penderitaannya.

Di hadapan Bupati Tapanuli Selatan, ia akhirnya menyampaikan permintaan maaf.

“Saya mohon maaf, Pak Bupati. Ini bukan berarti kami tidak peduli,” ujarnya.
“Kami hadir untuk membantu. Tidak ada perbedaan utara, selatan, tengah.”

Ia juga menegaskan bahwa BNPB harus melayani semua warga tanpa memandang latar belakang apa pun.
“Tidak melihat suku, agama, ras. Semua sama,” katanya menegaskan komitmen lembaganya.

Kunjungan ini menjadi momentum penting setelah lonjakan kritik beberapa hari terakhir. Publik menilai kehadiran pejabat pusat di lokasi bencana bukan sekadar menenangkan situasi, tetapi menjadi syarat utama agar penanganan darurat benar-benar sesuai kebutuhan lapangan.

Sampai laporan ini diterbitkan, tim BNPB bersama TNI/Polri, relawan lokal, dan pemerintah daerah terus mengevakuasi material longsor, membuka akses desa, serta menyalurkan logistik kepada warga terdampak. Masyarakat berharap upaya tersebut tidak hanya berhenti pada penanganan cepat, tetapi berlanjut hingga rehabilitasi dan pemulihan.

Sikap emosional Suharyanto hari itu meninggalkan pertanyaan besar: apakah empati yang ia tunjukkan akan berubah menjadi tindakan nyata yang lebih sigap, transparan, dan konsisten?

(Rini/Mond)
#BNPB #BanjirSumatera #BencanaAlam

 

Serasinews.com, Sumatera Barat — Hujan deras yang tak kunjung reda sejak 21 November kembali menguji ketangguhan infrastruktur Sumatera Barat.
Rentetan bencana hidrometeorologi membuat sejumlah ruas jalan provinsi porak-poranda. Kepala Dinas BMCKTR Sumbar, Armizoprades, menyebut 16 ruas jalan kini masuk daftar terdampak, dengan 54 titik kerusakan yang tersebar di berbagai kabupaten/kota.

Di lapangan, kerusakan terlihat dalam banyak wajah: jalan amblas, bahu jalan runtuh tergerus arus, tebing longsor, dua jembatan mengalami kerusakan parah, hingga beberapa kawasan tertutup pohon tumbang. Akibatnya, beberapa wilayah sempat terputus akses dan aktivitas logistik berjalan tersendat.

Skala Kerusakan

Berdasarkan pemetaan awal tim teknis BMCKTR, ditemukan:

11 titik badan jalan amblas

24 titik bahu jalan terban

13 titik longsor

2 jembatan rusak berat

4 titik tertutup pohon tumbang

“Sejak hari pertama, kami bersama berbagai pihak langsung melakukan pembersihan material longsor dan pohon tumbang. Tujuannya jelas: akses evakuasi harus terbuka,” kata Armizoprades.

16 Ruas Jalan yang Terimbas Bencana

Kerusakan tersebar di jalur-jalur penting berikut:

Mangopoh – Padang Luar

Panti – Simpang Empat

Batas Payakumbuh – Suliki – Koto Tinggi

Pangkalan Koto Baru – Sialang – Gelugur

Palupuah – Pua Gadih – Koto Tinggi

Simp. Koto Mambang – Balingka

Matur – Palambayan

Palambayan – Palupuh

Simp. Gantiang Payo – Batas Tanah Datar – Sumani

Pintu Angin – Labuah Saiyo

Sijunjuang – Tanah Badantuang

Guguak Cino – Sitangkai

Teluk Bayur – Nipah – Purus

Teluk Kabung – Mandeh – Tarusan

Lubuak Sikapiang (Simp. Daliak) – Talu (Simp. Gantiang)

Lubuak Basung – Sungai Limau

Setiap ruas menghadapi tantangan berbeda—ada yang tersumbat material longsor setinggi pinggang, ada yang retak dan hilang sebagian, dan ada pula yang tak bisa dilalui karena jembatan nyaris roboh.

Pendataan Masih Terbuka

Kepala Bidang Bina Marga, Adratus Setiawan, menegaskan bahwa angka tersebut masih bersifat sementara. Tim survei terus bergerak ke wilayah-wilayah rawan yang sulit dijangkau.
“Instruksi Gubernur jelas: jangan biarkan masyarakat terisolasi. Jalur logistik harus aman,” tegasnya.
Suasana penyisiran lokasi kerap digambarkan berkabut, basah, dan penuh suara mesin alat berat yang terus bekerja sejak pagi.

Penanganan Terus Berjalan

Meski perbaikan darurat dipercepat, cuaca ekstrem masih menjadi ancaman. Tim memasang rambu peringatan serta mengalihkan arus lalu lintas di beberapa titik untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Rekonstruksi permanen baru bisa dilakukan setelah situasi stabil dan pendataan final rampung. Untuk sementara, fokus utama pemerintah adalah memulihkan akses, karena dari akses pula bantuan dan mobilitas warga bergantung.

(Rini/Mond)
#Infrastruktur #Sumbar #Bencana

 

Serasinews.com,PADANG — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) melalui Pusdalops BPBD kembali merilis data terbaru korban bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah daerah sejak 21 November 2025. Hingga Minggu (30/11) pukul 09.00 WIB, tercatat 129 orang meninggal dunia dan 86 orang masih hilang.

Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi, menyatakan data dihimpun dari laporan resmi kabupaten/kota terdampak. Peningkatan signifikan terjadi di Kota Padang Panjang, dari sebelumnya 7 orang meninggal dan nihil korban hilang, kini menjadi 21 meninggal dan 32 hilang.

“Data akan terus diperbarui seiring masuknya laporan terbaru dari masing-masing daerah,” ujar Arry.

Dari 16 kabupaten/kota terdampak, delapan daerah melaporkan korban jiwa atau hilang, sementara delapan lainnya nihil. Jumlah korban terbanyak berada di Kabupaten Agam.

Rincian korban per kabupaten/kota:

Kabupaten Agam: 87 meninggal, 76 hilang


Kota Padang Panjang: 21 meninggal, 32 hilang


Kota Padang: 10 meninggal, 0 hilang


Kabupaten Tanah Datar: 2 meninggal, 1 hilang


Kabupaten Pasaman Barat: 1 meninggal, 6 hilang


Kabupaten Padang Pariaman: 7 meninggal, 2 hilang


Kota Solok: 1 meninggal, 0 hilang


Kabupaten Pesisir Selatan: 0 meninggal, 1 hilang


8 kabupaten/kota lainnya: nihil korban


Arry menekankan, Kabupaten Agam menjadi daerah paling terdampak dengan 87 korban meninggal dan 76 masih dalam pencarian. Perkembangan data korban, kerusakan, dan kebutuhan penanganan darurat akan terus dipantau melalui Posko Terpadu Penanganan Bencana Provinsi Sumbar.

(Rini/Mond) 

#BanjirSumbar #SumateraBarat

#Peristiwa #BencanaAlam

 

Serasinews.com, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara — Warga terdampak banjir bandang dan longsor di Tapanuli Tengah dilaporkan mengambil paksa kebutuhan pokok dari sebuah minimarket di Jalan Padang Sidempuan, Serudik, pada Sabtu (29/11/25).

Aksi ini terjadi ketika sebagian besar warga yang mengungsi ke lokasi darurat mulai kehabisan persediaan makanan. Mereka mengambil beras, mie instan, air mineral, hingga perlengkapan bayi untuk bertahan hidup. Salah seorang warga mengatakan, “Kami sudah dua hari bertahan dengan makanan seadanya. Anak-anak mulai kelaparan, terpaksa kami ambil barang ini.”

Belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun pemerintah daerah mengenai insiden ini. Aparat keamanan kini berjaga di sekitar minimarket untuk mencegah kejadian serupa.

Banjir bandang dan longsor yang terjadi sejak dua hari lalu telah merendam ratusan rumah, memutus akses jalan, dan memaksa ribuan warga mengungsi. Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian korban hilang dan evakuasi di beberapa lokasi sulit dijangkau.

Pemerintah daerah menyebut distribusi bantuan logistik sedang berlangsung, namun kondisi jalan yang terputus dan cuaca buruk memperlambat penyaluran. Warga berharap bantuan segera tiba agar kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi dan situasi tidak memburuk.

(SH)
#Penjarahan #Peristiwa
#BanjirBandang

Serasinews.com, Sumatera Barat — Lebih dari satu pekan setelah rangkaian bencana hidrometeorologi melanda Sumatera Barat pada 21 November 2025, jumlah korban terus bertambah. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Pusdalops BPBD kembali merilis data terbaru pada Sabtu (29/11) pukul 14.00 WIB. Angka-angka yang muncul kembali menambah beban para petugas dan keluarga korban: 90 orang ditemukan meninggal dunia, sementara 86 lainnya masih hilang.

Laporan baru datang dari Kabupaten Tanah Datar, wilayah yang sebelumnya dinyatakan tanpa korban. Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi, mengonfirmasi adanya temuan baru dari tim BPBD kabupaten tersebut.

“Berdasarkan laporan terbaru dari BPBD Tanah Datar, terdapat tambahan dua korban meninggal dunia dan satu orang hilang. Data ini dinamis dan akan terus kami perbarui sesuai kondisi di lapangan,” ujar Arry di Padang.

Dengan penambahan tersebut, total korban kembali berubah mengikuti perkembangan operasi pencarian yang terus dilakukan oleh tim SAR gabungan di sungai-sungai, lereng bukit, dan kawasan permukiman yang tertimbun longsor.

Agam Masih Menjadi Episentrum Terberat

Dari 16 kabupaten/kota terdampak, tujuh di antaranya melaporkan korban jiwa maupun orang hilang. Kabupaten Agam tetap menjadi daerah dengan dampak paling parah.

Rincian korban per wilayah:

Kabupaten Agam: 74 meninggal, 78 hilang

Kota Padang Panjang: 7 meninggal, 0 hilang

Kota Padang: 5 meninggal, 0 hilang

Kabupaten Tanah Datar: 2 meninggal, 1 hilang

Kabupaten Pasaman Barat: 1 meninggal, 6 hilang

Kabupaten Padang Pariaman: 0 meninggal, 1 hilang

Kota Solok: 1 meninggal, 0 hilang

Sementara itu, sembilan kabupaten/kota lainnya melaporkan nihil korban jiwa maupun orang hilang, meskipun kerusakan infrastruktur tetap dilaporkan di beberapa titik.

Medan Penuh Tantangan: Arus Deras, Akses Terputus, dan Waktu yang Terus Berjalan

Di Agam, tim pencarian berhadapan dengan sungai berarus deras, tumpukan kayu, dan material vulkanik yang terbawa banjir bandang. Cuaca yang berubah-ubah membuat penyisiran harus kerap dihentikan.

Di Tanah Datar, akses menuju titik longsor terputus. Alat berat belum dapat masuk ke sejumlah lokasi sehingga petugas melakukan pencarian secara manual.

Sejak 21 November, unsur SAR Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan warga bekerja tanpa henti dengan pola rotasi.

Posko Terpadu: Data Bergerak, Kebutuhan Terus Mengalir

Arry menegaskan bahwa seluruh data bersifat sementara karena proses pencarian masih berlangsung.

“Perkembangan data korban, kerusakan, hingga kebutuhan darurat akan terus diperbarui melalui Posko Terpadu Penanganan Bencana Provinsi,” ujarnya.

Di berbagai pos pengungsian, kebutuhan mendesak terus berdatangan: makanan, selimut, pakaian, obat-obatan, hingga layanan khusus bagi anak-anak dan lansia. Daerah yang masih terisolasi menjadi perhatian utama pemerintah.

Duka yang Belum Usai

Di tengah operasi pencarian yang belum berhenti, keluarga korban menunggu kabar dengan cemas dan berharap. Setiap pembaruan data seperti membuka kembali luka yang belum sempat pulih.

Pemerintah Provinsi Sumbar mengimbau masyarakat untuk mengikuti informasi resmi dan menghindari kabar tidak terverifikasi agar tidak menimbulkan kepanikan.

Hingga hari ini, Sumatera Barat masih berada dalam fase darurat—dan deretan angka korban menjadi pengingat bahwa bencana ini belum berakhir. Upaya penyelamatan terus berkejaran dengan waktu.

(Rini/Mond)
#BanjirSumbar #SumateraBarat
#BencanaAlam

 


Serasinews.com
, Padang
— Hujan deras yang terus mengguyur Kota Padang sejak awal pekan telah memicu serangkaian bencana alam, merusak infrastruktur vital di berbagai titik. Sungai meluap, tebing longsor, dan lima jembatan yang menjadi jalur utama warga kini putus, meninggalkan kesenjangan besar antara kebutuhan masyarakat dan kenyataan di lapangan.

Lima Jembatan Terputus, Akses Warga Terhenti

Berdasarkan data sementara dari BPBD Kota Padang per Jumat pagi (28/11/2025), lima jembatan mengalami kerusakan paling parah:

Jembatan Gunung Nago (Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh)
Pondasi jembatan ini terkikis arus deras hingga struktur utama ambrol. Warga yang biasa melintas ke pusat kota kini harus menempuh jalur perbukitan yang lebih jauh.

Jembatan Kalawi Koto Panjang (Kelurahan Limau Manis, Kecamatan Pauh)
Lantai jembatan retak panjang dan separuh badan jembatan menggantung tanpa penopang. Petugas sudah memasang garis pembatas, meski masih ada warga yang mencoba mendekat untuk melihat kondisi jembatan.

Jembatan Kampung Tanjuang (Kelurahan Gunung Sarik, Kecamatan Kuranji)
Jembatan ini putus total, menghentikan akses antar-dusun. Beberapa pelajar terpaksa menyeberangi sungai menggunakan rakit darurat sebelum petugas melarang aktivitas tersebut demi keselamatan.

Jembatan Sawah Liek (Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji)
Bagian tengah jembatan mengalami kerusakan parah, dengan besi yang terlihat melintir seperti dipelintir tangan raksasa. Warga melaporkan terdengar suara gemuruh saat struktur runtuh pada Kamis malam.

Jembatan di Kelurahan Batipuh Panjang (Kecamatan Koto Tangah)
Banjir dari hulu menyeret kayu dan lumpur hingga pilar penyangga jembatan melemah, menghentikan akses perkampungan ke jalan utama sepenuhnya.

BPBD: Jangan Nekat Melintas

BPBD Kota Padang menegaskan seluruh jembatan tidak boleh dilalui dalam kondisi apa pun, termasuk berjalan kaki. “Risiko runtuhan susulan masih tinggi, keselamatan warga tetap menjadi prioritas,” jelas petugas di lokasi Jembatan Gunung Nago.

Pihak BPBD sedang memetakan jalur alternatif, meski sebagian besar hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.

Hujan Masih Intens: Warga Diminta Waspada

BMKG memperkirakan hujan lebat akan terus mengguyur wilayah Padang beberapa hari ke depan. Tanah yang jenuh air meningkatkan risiko longsor dan banjir bandang.

BPBD kembali mengimbau warga untuk:

Menjauhi bantaran sungai dan lereng terjal.

Segera mengungsi bila debit air meningkat.

Melapor bila menemukan tanda retakan tanah atau potensi runtuhan.

Di berbagai titik, warga tampak berjaga di tepi sungai yang keruh, menanti apakah malam nanti akan membawa ketenangan atau bencana baru.

(Rini/Mond)
#Peristiwa #JembatanPutus #Padang #BencanaAlam

 

Serasinews.com, Sumatera Barat — Duka kembali menyelimuti ranah Minang. Hingga Jumat pagi, 28 November 2025, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sumbar mengonfirmasi 22 korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor yang menerjang sejumlah wilayah. Sementara itu, 10 orang lainnya masih belum ditemukan, menyisakan kecemasan yang menggantung di antara keluarga yang menunggu kabar.

Dari seluruh korban jiwa, 20 telah berhasil dikenali, sementara dua jenazah lainnya masih menunggu kecocokan identitas. Di tengah upaya pencarian yang belum usai, lima penyintas menjalani perawatan intensif, beberapa masih lemah setelah berjam-jam terperangkap sebelum dievakuasi.

Identifikasi Korban Berjalan di Banyak Lokasi

Kasubdiddokpol Polda Sumbar, dr. Eka Purnama Sari, menjelaskan bahwa proses identifikasi berlangsung paralel di berbagai titik tanpa jeda:

Polresta Padang

Posko DVI RS Bhayangkara Padang

RSUD dr. Rasyidin Padang

Posko DVI Bukittinggi, Padang Pariaman, dan Pasaman Barat

Tim tidak berhenti, karena satu kepastian dapat mengakhiri penantian keluarga,” ujar Eka.

Padang: Suasana Haru Mengiringi Penyerahan Jenazah

Di wilayah Polresta Padang, dua jenazah — Najwa Putri Andira (2,5 bulan) dan Mardalena (65) — diidentifikasi melalui data sekunder. Keduanya langsung diserahkan kepada keluarga di lokasi bencana. Momen itu berlangsung senyap, hanya ditemani suara air yang masih menetes dari pepohonan, seolah turut berduka.

RS Bhayangkara Padang: Sidik Jari Menjawab Pertanyaan

Di posko RS Bhayangkara, delapan jenazah diterima, dan enam telah teridentifikasi lewat sidik jari:

Yerna Wilis (57)

Selvi Marta Putri (20)

Agung Purnomo (35)

Reki Saputra (38)

Robby Handaryo (41)

Junimar (52)

Setiap kecocokan membawa keluarga pada kepastian yang mereka tunggu — meski pahit untuk diterima.

RSUD dr. Rasyidin: Tiga Korban Teridentifikasi

Tiga jenazah lainnya dikenali melalui data sekunder:

Roni Syaputra (42)

Syamsul Kamaruddin (72)

Aidil Putra (13)

Di ruang tunggu rumah sakit, beberapa keluarga tak kuasa menahan tangis ketika kabar disampaikan.

Bukittinggi: Wilayah Paling Parah Terdampak

Jorong Toboh, Malalak Timur, Kabupaten Agam menjadi titik bencana terburuk.
Sembilan orang masih hilang, termasuk anak-anak.
Sementara itu, delapan korban meninggal dari lokasi ini telah teridentifikasi.

Para relawan menggambarkan medan evakuasi sebagai “labirin lumpur”— jalan lenyap ditelan tanah, tebing ambruk, dan sisa-sisa rumah berserakan seperti fragmen kehidupan.

Padang Pariaman & Pasaman Barat

Di Padang Pariaman, Evi Yulia Susanti (52) masih dinyatakan hilang.

Di Pasaman Barat, korban meninggal Roki Hidayat (13) berhasil dikenali.

Pencarian Terus Dilakukan

Tim DVI bekerja bersama Basarnas, BPBD, TNI, Polri, serta perangkat daerah, menggabungkan pencarian manual dengan alat berat. Cuaca yang tak menentu dan medan yang labil menjadi tantangan besar.

Belum Ditetapkan Sebagai Bencana Nasional

Meskipun kerusakan dan korban semakin banyak, pemerintah pusat menyatakan belum ada rencana menetapkan bencana ini sebagai bencana nasional.

Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa penanganan saat ini masih dalam koridor bencana daerah, dan ketiga provinsi terdampak telah menetapkan status darurat.

Sikap ini memicu perdebatan kecil di kalangan pemerhati kebencanaan. Ada yang menilai skalanya sudah lintas wilayah, sementara yang lain menilai mekanisme daerah masih memadai.

(Rini/Mond)
#BencanaAlamSumateraBart
#Peristiwa #BencanaAlam

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.