Serasinews.com, SUMATERA — Hujan tanpa jeda yang mengguyur Aceh dan sebagian besar wilayah Sumatera sejak akhir November akhirnya berubah menjadi bencana dahsyat. Bukan sekadar banjir musiman, tetapi tragedi kemanusiaan yang merenggut ratusan nyawa dan meninggalkan luka kolektif bagi jutaan warga.
Per Sabtu, 6 Desember 2025, BNPB mencatat 883 korban meninggal, 520 orang hilang, dan lebih dari 4.200 luka-luka. Angka ini terus bertambah seiring upaya pencarian yang terhambat cuaca buruk dan akses yang terputus.
Agam: Kabupaten yang Dihantam Paling Keras
Dari 51 kabupaten terdampak, Agam di Sumatera Barat menjadi wilayah dengan korban jiwa terbanyak: 171 orang meninggal. Longsor besar menyapu permukiman di kaki bukit hanya dalam hitungan detik, menyisakan tumpukan tanah tebal dan puing bangunan.
Tim SAR masih bekerja siang-malam. Suara mesin alat berat berpadu dengan jeritan keluarga yang mencari anggota keluarganya. Namun beberapa titik masih tak dapat ditembus—jalan lenyap, jembatan runtuh, dan bukit yang terus mengelupas setiap kali hujan turun.
Gelombang Pengungsian Terbesar di Aceh Tamiang
Di Aceh Tamiang, kisahnya tak kalah pahit. Lebih dari 281.300 warga meninggalkan rumah yang tak lagi dapat ditinggali. Balai desa, sekolah, masjid, bahkan emperan toko berubah menjadi tempat perlindungan darurat.
Di banyak posko, muncul persoalan baru: air bersih menipis, sanitasi rusak, anak-anak mulai terserang penyakit kulit, dan aroma obat-obatan bercampur lumpur memenuhi udara.
Kerusakan Fisik yang Masif
Skala kehancuran yang tercatat BNPB memperlihatkan betapa berat dampak bencana ini:
121.500 rumah rusak
1.100 fasilitas umum hancur
270 fasilitas kesehatan terdampak
509 sekolah rusak
338 rumah ibadah terdampak
221 gedung dan kantor rusak
405 jembatan putus atau rusak berat
Jembatan-jembatan yang putus membuat sejumlah wilayah terisolasi total. Bantuan logistik hanya bisa masuk dengan perahu atau jalur udara.
Jembatan Bailey Mulai Dirakit
Pemerintah pusat bergerak cepat. Dua jembatan bailey yang menghubungkan Aceh–Sumut mulai dirakit kembali untuk mengembalikan aliran logistik yang sempat terhenti. Setiap jam sangat berharga karena bantuan ke wilayah pedalaman bergantung pada jalur ini.
Ancaman Belum Usai
BMKG mengingatkan potensi hujan ekstrem masih tinggi. Cuaca sewaktu-waktu dapat memicu longsor susulan dan banjir bandang di daerah yang tanahnya sudah jenuh air.
BNPB mengimbau warga tetap waspada dan tidak kembali ke zona rawan sebelum dinyatakan aman sepenuhnya.
Solidaritas Mengalir
Di tengah duka, gelombang solidaritas menguat. Relawan datang dari berbagai daerah, donasi logistik terus berdatangan, dan lembaga internasional mulai menawarkan dukungan.
Bencana ini tak hanya menguji kesiapan negara, tetapi juga ketangguhan masyarakat untuk bangkit dari kehancuran.
(Rini/Mond)
#BNPB
#UpdateKorbanBanjirSumatera


Posting Komentar