pasamanbarat,;serasinews.com-- Hari kesembilan Operasi Patuh Singgalang 2025, Satuan Polisi Lalu Lintas (Satlantas) Polres Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar), kembali melakukan sosialisasi dan edukasi tentang tertib berlalu lintas.
Kegiatan itu dilakukan secara langsung yang menyasar kepada para tukang ojek dan pengemudi angkutan umum di Pasaman Baru Kecamatan Pasaman dan Kecamatan Kinali pada Senin (21/7/2025).
"Sosialisasi terus dilakukan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas," ungkap Kapolres Pasaman Barat AKBP Agung Tribawanto, S.Ik melalui Kasat Lantas AKP Rina Aryanti, S.Tr.K, S.Ik.
Menurutnya, dengan meningkatkan disiplin berlalu lintas, akan dapat mencapai tujuan keselamatan, kedamaian serta mengurangi dampak buruk yang mungkin terjadi disaat penggunaan kendaraan bermotor di jalan raya.
"Sosialisasi dilakukan sebagai langsung dengan pembagian brosur dan stiker kepada pengendara serta pemasangan spanduk disejumlah pusat keramaian," ucapnya.
Dijelaskan, pada hari kesembilan pelaksanaan Operasi Patuh Singgalang 2025, Satlantas Polres Pasaman Barat melakukan penindakan pelanggaran lalu lintas di jalan protokol depan Kantor Bupati Pasaman Barat Kecamatan Pasaman dan jalan lintas Kecamatan Kinali.
Petugas melakukan penindakan pelanggaran lalu lintas dengan menggunakan blangko tilang sebanyak 76 berkas, terdiri dari kendaraan bermotor roda dua sebanyak 19 unit, Surat Izin Mengemudi (SIM) A dua berkas, SIM C tiga berkas dan SIM B I satu berkas.
"Selain itu, Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) sebanyak 51 berkas dan teguran dua berkas," jelasnya.
Kasat Lantas mengajak seluruh masyarakat agar meningkatkan kedisiplinan dalam berlalu lintas, lengkapi surat-surat kendaraan seperti SIM dan STNK. Selain itu, wajib menggunakan helm untuk pengendara sepeda motor dan sabuk pengaman (safety belt) kendaraan roda empat.
"Mari kita tingkatkan kesadaran tertib berlalu lintas, utamakan keselamatan dari pada kecepatan, karena keluarga Anda menanti di rumah," pungkasnya. (HumasResPasbar)
serasinews.com- Bagi sebagian besar orang, secangkir kopi di pagi hari bukan sekadar rutinitas ia adalah "ritual suci" yang menandai awal hari, menyuntikkan energi, dan membangkitkan semangat. Namun, di balik aromanya yang menggoda dan rasa pahit yang menyegarkan, kopi menyimpan potensi risiko kesehatan yang jarang disadari: interaksi berbahaya dengan obat-obatan yang sedang Anda konsumsi.
Bukan hanya soal degup jantung yang lebih cepat atau kesulitan tidur. Dalam beberapa kasus, kafein dalam kopi dapat memperparah efek samping obat, mengurangi efektivitas pengobatan, bahkan memicu kondisi medis serius.
Berikut penjelasan mendalam tentang lima jenis obat yang sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan dengan kopi, dikutip dari The Independent dan dikaji ulang oleh tim redaksi kesehatan.
1. Obat Flu, Pilek, Asma, hingga ADHD: Kombinasi Berbahaya yang Memicu Jantung Berdebar
Kafein adalah stimulan sistem saraf pusat. Ia mempercepat detak jantung, membuat tubuh terasa lebih waspada dan “terjaga”. Ini mungkin terdengar sepele sampai Anda menyadari bahwa banyak obat flu dan pilek mengandung pseudoefedrin, yang juga merupakan stimulan.
Ketika dua stimulan dikonsumsi bersamaan misalnya kopi dan obat seperti Sudafed efeknya bisa berlipat ganda. Hasilnya: gelisah berlebihan, sakit kepala, insomnia, dan jantung berdebar. Beberapa studi bahkan mencatat peningkatan suhu tubuh dan kadar gula darah, terutama pada pasien diabetes.
Efek serupa juga bisa terjadi jika kopi dikombinasikan dengan:
Obat ADHD (seperti amfetamin),
Obat asma seperti teofilin, yang secara struktur kimia sangat mirip dengan kafein.
Gabungan ini bisa menciptakan badai dalam tubuh: aritmia jantung (detak jantung tidak teratur), kecemasan, bahkan risiko kejang pada kasus berat.
2. Obat Tiroid dan Osteoporosis: Kopi Bisa Menyabotase Penyerapan Obat
Obat hipotiroid seperti levotiroksin harus diserap dengan baik agar efektif. Namun, minum kopi terlalu cepat setelah mengonsumsi obat ini bisa menurunkan penyerapan hingga 50%.
Mengapa? Karena kafein mempercepat gerak peristaltik usus dan bisa “mengikat” molekul obat di lambung. Akibatnya, levotiroksin tidak sempat terserap dan efeknya menurun. Pasien bisa kembali mengalami gejala hipotiroid seperti:
Mudah lelah,
Berat badan naik tanpa sebab,
Sembelit berkepanjangan.
Hal serupa berlaku untuk obat osteoporosis jenis bifosfonat seperti alendronat atau risedronat. Obat ini harus diminum dalam keadaan perut kosong dan memerlukan jeda 30–60 menit sebelum makan atau minum kopi, demi penyerapan optimal.
3. Antidepresan & Antipsikotik: Kafein Bisa Ubah Cara Kerja Obat Mental
Interaksi kafein dengan obat mental tergolong kompleks dan kerap diabaikan. Pada obat jenis SSRI (selective serotonin reuptake inhibitors) seperti sertraline dan citalopram, kafein dapat menghambat penyerapan di lambung, sehingga menurunkan efektivitas antidepresan.
Sementara itu, antidepresan TCA (amitriptyline, imipramine) dan obat antipsikotik clozapine dipecah oleh enzim hati CYP1A2—enzim yang juga digunakan tubuh untuk memetabolisme kafein. Ketika kedua zat ini bersaing, proses pemecahan menjadi lambat. Hasilnya:
Kafein atau obat tertahan lebih lama dalam tubuh,
Efek samping meningkat: jantung berdebar, kegelisahan, kantuk berat, atau bahkan kebingungan.
Satu studi bahkan mencatat bahwa dua hingga tiga cangkir kopi bisa meningkatkan kadar clozapine dalam darah hingga 97%. Artinya, secangkir kopi harian bisa mengubah dosis terapi menjadi potensi bahaya.
4. Obat Pereda Nyeri: Mempercepat Efek, tapi Menyakiti Lambung
Kafein sering ditambahkan ke obat pereda nyeri seperti aspirin atau parasetamol untuk mempercepat efeknya. Namun jika Anda minum kopi bersamaan dengan obat tersebut, asam lambung meningkat, dan obat terserap lebih cepat.
Sayangnya, proses ini juga meningkatkan risiko iritasi lambung dan pada kasus tertentu, pendarahan lambung, terutama jika dikonsumsi jangka panjang atau tanpa makanan.
5. Obat Jantung dan Hipertensi: Kafein Bisa Netralisir Efek Terapi
Kopi menyebabkan kenaikan tekanan darah dan detak jantung selama 3–4 jam setelah dikonsumsi. Bagi pasien dengan tekanan darah tinggi atau aritmia jantung, ini bisa mengganggu kerja obat, bahkan membuat terapi menjadi tidak efektif.
Meski tidak berarti penderita penyakit jantung harus berhenti minum kopi sepenuhnya, pemantauan ketat dan pembatasan konsumsi sangat disarankan. Alternatif seperti kopi tanpa kafein (decaf) bisa menjadi pilihan yang lebih aman.
Tips Aman: Kopi dan Obat Bisa Berdampingan, Asal Tahu Caranya
Agar kopi tetap bisa dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan, perhatikan tips berikut:
🔹 Minum obat levotiroksin atau osteoporosis dengan air putih, saat perut kosong, lalu tunggu 30–60 menit sebelum minum kopi atau sarapan.
🔹 Hindari kopi bersamaan dengan obat flu, ADHD, atau asma. Perhatikan tanda-tanda seperti jantung berdebar atau insomnia.
🔹 Jika sedang dalam pengobatan antidepresan, antipsikotik, atau obat jantung, konsultasikan dengan dokter tentang kebiasaan minum kopi Anda.
🔹 Pertimbangkan untuk mengurangi konsumsi kafein atau beralih ke decaf, terutama jika mengalami efek samping seperti gelisah, tremor, atau sulit tidur.
Setiap Tubuh Berbeda: Dengarkan Sinyal dari Dalam
Perlu diingat bahwa setiap orang memiliki kemampuan berbeda dalam memetabolisme kafein. Ada yang tetap tenang setelah tiga cangkir, ada pula yang langsung gelisah hanya dengan satu tegukan. Kuncinya adalah: kenali tubuh Anda, dan jangan ragu bertanya ke dokter atau apoteker.
Kopi adalah teman bagi banyak orang, tapi seperti halnya obat, ia perlu dipahami dan dihargai. Jika dikonsumsi bijak, ia bisa memberi manfaat. Tapi jika sembrono, secangkir kopi bisa berubah dari penghangat pagi menjadi pemicu masalah serius.
Redaksi mengingatkan pembaca untuk selalu berkonsultasi dengan tenaga medis profesional sebelum mengubah pola konsumsi obat atau kafein. Artikel ini bertujuan untuk edukasi, bukan sebagai pengganti nasihat medis.
Serasinews. com, Padang – Dalam percaturan organisasi kepemudaan nasional, nama Budisatrio Djiwandono kini mengemuka sebagai sosok yang tengah menuju puncak peran strategis: menjadi Ketua Umum Pengurus Nasional Karang Taruna (PNKT) periode 2025–2030. Namun lebih dari sekadar pencalonan elite, langkah Budi sapaan akrabnya mendapat sorotan khusus dari Mahdiyal Hasan, seorang advokat muda dan mantan Ketua Tunas Indonesia Raya (TIDAR) Sumatera Barat yang dikenal tajam dalam membaca arah gerakan pemuda.
Dalam pandangan Mahdiyal, sosok Budi adalah anomali yang positif: berasal dari garis keturunan elite nasional, namun memiliki sensitivitas lapangan dan sifat rendah hati yang jarang ditemukan di lingkar kekuasaan.
“Budi itu bukan tipikal politisi menara gading. Ia humble, mau mendengar, dan yang terpenting: punya visi kepemudaan yang tidak berhenti di pidato, tapi diterjemahkan dalam aksi nyata,” ujar Mahdiyal saat ditemui di Padang, pada Minggu (20/7/2025).
Darah Elite, Jiwa Lapangan
Gerardus Budisatrio Djiwandono lahir di Jakarta pada 25 September 1981, dari keluarga dengan rekam jejak panjang dalam ekonomi dan politik nasional. Ayahnya, Sudradjad Djiwandono, pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, dan ibunya adalah kakak kandung Prabowo Subianto Presiden RI terpilih periode 2024–2029.
Namun menurut Mahdiyal, nama besar itu justru menjadi tantangan pribadi bagi Budi untuk membuktikan diri. Alih-alih sekadar menumpang ketenaran keluarga, Budi memilih membangun kredibilitas dari bawah: menempuh pendidikan di Amerika Serikat, bekerja di sektor industri, dan kemudian terjun ke dunia politik sejak 2017 melalui jalur Pergantian Antar Waktu (PAW) DPR RI.
Kini, dengan jabatan Ketua Fraksi Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua Komisi I DPR RI yang membidangi pertahanan, hubungan luar negeri, dan intelijen, Budi dinilai telah memiliki pijakan kokoh untuk memainkan peran strategis di organisasi sosial seperti Karang Taruna.
Kepemimpinan yang Mau Mendengar
Bagi Mahdiyal Hasan, pengalaman bukan satu-satunya alasan mengapa Budi pantas memimpin Karang Taruna. Yang lebih penting adalah gaya kepemimpinannya yang terbuka dan inklusif.
“Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana Budi mendengarkan keluhan kader-kader muda partai di daerah. Ia tidak pernah memotong pembicaraan, dan selalu bertanya balik dengan serius. Sikap itu bukan basa-basi politik, tapi refleksi dari pemimpin yang tahu bahwa perubahan dimulai dengan mendengar,” ujar Mahdiyal.
Menurutnya, organisasi Karang Taruna tidak membutuhkan figur karismatik yang hanya tampil di atas panggung, melainkan pemimpin yang bisa merespons problem nyata pemuda di tingkat desa: minimnya akses kerja, kurangnya pelatihan keterampilan, dan kegamangan dalam menghadapi era digital.
Budi dinilai mampu menyambungkan problematika itu dengan kebijakan konkret, karena ia punya dua modal penting: koneksi pusat dan pemahaman akar rumput.
Lebih dari Sekadar Manuver Politik
Di tengah kecurigaan bahwa langkah Budi ke Karang Taruna hanya bagian dari skenario politik menuju Pilkada atau Pemilu 2029, Mahdiyal memberikan perspektif berbeda. Ia menyebut langkah itu sebagai bagian dari regenerasi politik yang sehat.
“Justru kita butuh orang seperti Budi di Karang Taruna orang yang paham struktur pemerintahan, tahu caranya mencari anggaran, dan bisa menjembatani aspirasi pemuda ke meja pengambil keputusan,” tegas Mahdiyal.
Ia juga menyinggung masa depan Karang Taruna yang selama ini terjebak dalam rutinitas kegiatan seremonial tanpa arah strategis. Jika dipimpin oleh sosok seperti Budi, kata Mahdiyal, organisasi ini bisa menjadi “sekolah politik alternatif” yang mendidik anak muda tentang kewarganegaraan aktif, kolaborasi lintas sektor, dan kepemimpinan berbasis data.
Isu Nyata, Aksi Nyata
Selama ini, Budisatrio dikenal membawa isu-isu yang lekat dengan kebutuhan pemuda masa kini: literasi digital, kewirausahaan sosial, ketahanan pangan lokal, serta penguatan karakter pemuda di era disinformasi. Bahkan menurut Mahdiyal, jauh sebelum isu-isu ini menjadi tren nasional, Budi sudah menyuarakannya di forum-forum internal partai.
“Saya masih ingat ketika Budi berbicara panjang soal pentingnya digitalisasi di tingkat desa, saat sebagian besar elit masih bicara infrastruktur dasar. Ia punya sense masa depan,” kenang Mahdiyal.
Karang Taruna di Simpang Jalan
Kini, seluruh mata tertuju pada Temu Karya Nasional Karang Taruna 2025, forum akbar yang akan menentukan arah organisasi lima tahun ke depan. Dalam konteks ini, kehadiran figur seperti Budisatrio Djiwandono bukan sekadar membawa nama besar, tapi menawarkan paradigma baru dalam melihat pemuda: sebagai agen perubahan, bukan objek kegiatan seremonial.
“Budi bukan hanya representasi elite dia adalah cerminan dari harapan kita pada pemuda yang mampu menjembatani dua dunia: kebijakan dan lapangan, pusat dan daerah, wacana dan aksi. Karang Taruna butuh pemimpin seperti itu jika ingin relevan di masa depan,” pungkas Mahdiyal.
Momentum Kebangkitan Pemuda
Pencalonan Budisatrio Djiwandono tak bisa hanya dilihat dari sisi politis. Ini adalah ujian bagi pemuda Indonesia: apakah mereka siap dipimpin oleh figur yang membawa semangat pembaruan, atau tetap berkutat dalam pola lama yang stagnan.
Mahdiyal Hasan telah menyuarakan harapan banyak anak muda: kepemimpinan yang humble, cerdas, visioner, dan bersedia turun langsung ke lapangan. Dalam sosok Budi, ia melihat harapan itu nyata.
Karang Taruna kini berdiri di persimpangan sejarah. Dan jika benar ingin menjadi pelopor perubahan sosial, pilihan ke depan harus tegas bukan soal siapa yang populer, tapi siapa yang benar-benar peduli dan siap bekerja untuk masa depan pemuda Indonesia.
(Mond)
#Tidar #KarangTaruna #MahdiyalHasan #BudisatrioDjiwandono